Tampilkan postingan dengan label Janda Labil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Janda Labil. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2025

08_Janda labil


Pagi ini sungguh hari yang paling buruk buat ketiganya. Memulai hari dengan keburukan seperti ini bagaikan kecacatan didalam kesempurnaan. Hari yang indah bagi orang lain namun hancur bagi mereka. Permainan hati ini benar-benar menyakitkan. Entah mereka mampu bertahan, terus berjuang atau menyerah. Entah takdir yang bagaimana yang akan menjemput mereka nanti. Aldi, Kevin dan juga Yuri.

“Nih, pake concealer gue! Mata udah bukan macam panda lagi, udah kayak diperkosa rame-rame tiga hari tiga malam!” Ayu meletakkan benda kecil itu didepan Yuri.

“Gimana ini, Yu. Gue gak berani keseberang..” rajuk Yuri namun tetap mengoleskan concealer itu dibawah matanya yang hitam dan agak bengkak.

Ayu menatap Yuri malas, “Ya udah ga usah…gitu aja repot!” balasnya ketus.

“Emang tuh mulut karet dua yah, pedes bangeeeet!”

Ayu hanya mendengus sebagai jawaban. Hanya dialah orang netral yang tahu masalah pelik percintaan sahabatnya ini. Untung saja dia masih jomblo jadi hidupnya gak seribet janda disebelahnya.

“Udah mending lo sekarang sarapan karena jam sembilan mau ada rapat diaula.”

Yuri memonyong-monyongkan mulutnya didepan kaca padahal yang dipakai bukan lipstick tapi concealer. “Tumben rapat diaula biasanya diruang rapat lantai dua.”

“Katanya ada rombongan orang pusat yang lagi kesini.”

Bola mata Yuri hampir saja copot dari sarangnya, kaget. “Jangan bilang mau ada audit!” teriak Yuri tertahan, tangannya sudah sibuk mengaduk-aduk laci mencari catatan kerjaannya.

“Udah gak usah takut, katanya ini hanya kunjungan pimpinan baru. Gue juga kemaren malam kekantor nyari file kerjaan gue…eh! Ternyata kata Bu Pudji cuma kunjungan perkenalan doang!”

“Haaah! Syukurlah…” bahu Yuri melemas. Inilah resiko orang yang kerjaannya bagus dan cepat namun minim kerapian.

“Jadi kebelet kan gue!” entah kenapa perut Yuri tiba-tiba mulas setelah serangan kekagetan barusan.

“Eh! Janda gatal sialan lo yah!” maki Ayu karena Yuri mewariskan sejumlah kentut tak bersuara padanya namun aduhai dihidung.

Dengan cepat Yuri berjalan menuju toilet. Matanya berbinar melihat pintu berlambang stickman memakai rok. Hari ini sungguh indah bagai hari gajian. Namun keinginannya tertahan saat sesosok pria mengendap melihat kekanan kekiri, sungguh mencurigakan. Rasa mulasnya terangkat naik dan batal keluar.

“Heh! Ngapain lo, mau ngintip yah?!”

Pria itu menoleh padanya dengan wajah yang sudah pucat pasi. Tercyduk.

“Bu…bukan. Sa..saya hanya…”

BUG!

Dan satu bogem mentah dari Yuri membuat pria itu tersungkur manis didepan toilet pria. Yuri yang sudah emosi jiwa tidak melihat tulisan yang tergantung dipintu toilet pria.

RUSAK.

Seorang Cleaning Service menunduk ketakutan disebelah Yuri. Tak beda Yuri pun menunduk takut namun masih curi-curi lirikan kearah seorang pria tampan yang sedang mengopres memar dipipinya dengan es batu.

”Jadi hanya karena satu bilik yang bermasalah kamu memasang tulisan ‘Rusak’ di pintu masuk toilet pria, benar, Nto?!” Bu Pudji bertanya dengan nada tajam kepada Anto yang sudah membuat dirinya malu.

“I..iya bu. Saya mau bersihin dulu tapi keburu perut ngisep…belum sarapan…” jelas Anto jujur semakin ketakutan. Kalau dipecat mau dikasih makan apa anak istrinya.

Terdengar suara deheman maskulin dari arah belakang Bu Pudji. Tepatnya sesosok pria yang…

‘Ganteng Bingiiiiiitz!!’

Radar janda kesepian Yuri menrespon cepat saat sosok yang jadi samsak hidupnya tadi mendekat. Jas yang sudah dilepas dan kemeja yang lengannya digulung , agak sedikit basah terkena tetesan air es entah mengapa malah membuat pria itu terlihat liar, lezat dan berwibawa secara bersamaan. Aneh. Atau otak Yuri yang memang semakin bengkok.

“Tidak apa-apa Bu Pudji. Mas Anto hanya sedikit melakukan kecerobohan, benar kan?”

“Maaf, Pak. Sekali lagi saya minta maaf!!” Anto hampir saja bersujud saat pria itu menahan kedua bahunya dan menyuruhnya keluar untuk kembali bekerja.

“Saya juga minta maaf Pak. Padahal ini kali pertama bapak berkunjung malah ada kejadian tidak mengenakkan seperti ini…” Bu Pudji terlihat sangat malu.

“Tidak apa-apa Bu. Salah saya juga yang bukannya mencari toilet dilantai yang lain.”

Yuri langsung menundukkan kepalanya saat matanya tertangkap mata si ganteng yang juga ikut melirik kearahnya. “Tapi saya sedikit tidak terima dengan perlakuan Nona…”

“Yuri. Namanya Yuri Pak. Hey cepat minta maaf!” sambung Bu Pudji.

Yuri menggigit bibirnya malu. “Saya mi…”

“Kalau begitu Bu Pudji bisa kembali karena saya yang akan menyelesaikan masalah ini sendiri.”

Yuri mendengus kesal namun hanya dalam hati karena pria sialan tapi ganteng ini memotong ungkapan permintaan maafnya. Rasa bersalahnya tertelan sudah berganti kekesalan.

“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” Bu Pudji berbalik namun sebelum pergi dia mengedipkan matanya pada Yuri, memberi dukungan.

Suara pintu ruangan yang tertutup rapat entah mengapa terdengar lebih menyeramkan daripada lolongan anjing dimalam hari. Yuri menelan ludahnya kering menunggu pria didepannya memulai eksekusi. Dan tersentak kaget saat suara itu muncul.

Kruuyuuukkk!

Yuri tersenyum, tepatnya menyeringai, lebar. Skor 1-1, kita seimbang tampan.

“Ehm, ada…tukang gorengan enak didepan Rumah Sakit, kalau Bapak mau?” tawar Yuri basa-basi menahan bibirnya yang tidak mau berhenti berkedut. Bisa mampus dia kalau tertawa.

“Tidak perlu!” jawab pria itu cepat.

Yuri manggut-manggut. Masih berusaha menahan tawa dengan menggigit bibirnya.

“Haaaah sial!”

Namun bukan tawa besar seperti yang dibayangkan, Yuri hanya tertawa geli melihat pria itu menghempas tubuhnya kekursi dan mengusap wajahnya kasar. Sudah terlambat untuk menyelamatkan harga dirinya.

“Kalau mau ketawa kencang, silahkan. Aku tidak akan memecatmu karena hal itu.” Lanjut pria itu dengan tatapan memelas.

“Hehehe…maaf, Pak” jawab Yuri dan ikut duduk dibagian sofa yang lain. Tak tahu malu.

Pria tampan itu ikut tersenyum geli. Dalam hati menertawakan dirinya sendiri yang bisa-bisanya lapar disaat akan membalas dendam.

“Namamu tadi…Yuri, benar?”

“Iya, Pak. Kalau bapak namanya siapa?” Yuri melotot saat sadar pertanyaan itu jelas keluar dari mulut tidak sopannya. Sialan kau syndrome janda gatal!

Oh! Dan Yuri semakin tersuir-suir saat senyum tampan itu lagi-lagi menyapa.

“Indra. Nama saya Indra.”

Yuri tersenyum aneh. Campuran malu dan nafsu. Hei dia wanita normal, jangan salahkan.

“Jadi…gimana, Pak. Mau saya beliin gorengan didepan?”

Pak Indra menggeleng pelan. “Jangan gorengan deh, Kenyangnya gak enak. Dekat sini ada tempat sarapan lain?”

Entah sihir dan susuk apa yang dipakai janda yang satu ini karena setiap pria yang baru dikenal selalu saja langsung akrab padanya. Tak terkecuali si mulut setan, Kevin.

“Ada. Mau saya anter kesana, Pak. Ehm! Itung-itung permintaan maaf saya karena sudah…itu…anu…mukul Bapak…” jelas Yuri yang semangat diawal tapi mengecil diakhir.

“Ah ya kenapa saya lupa yah. Gara-gara lapar jadi batal memberimu peringatan!”

Yuri menegang dikursinya. Sial! Seharusnya kan mereka sudah akrab, kenapa salahnya dibahas lagi, sih!

“Walaupun saya mengaku salah karena berniat masuk ke toilet cewek, ingat masih NIAT tapi kamu terlalu kasar dan sembrono memukul orang seperti itu. Bagaimana kalau tadi kepala saya terbentur, geger otak dan amnesia…”

Yuri mengerjap takjub dan bertepuk tangan dalam hati. ‘Berapa judul sinetron yang ditonton bos-nya ini.’

Yuri menghitung jumlah giginya dengan lidah sambil menunggu wejangan Pak Bos selesai. Pak Indra terus menyudutkannya dengan kata bahaya, bahaya dan bahaya. Otak Yuri sudah melanglang buana entah kemana.

“…jadi saya meminta ganti rugi!”

“Hah?!” otak perhitungan Yuri langsung tersentil saat mendengar kata ganti rugi. Kesadarannya langsung tertarik paksa. “Maksud Bapak?”

“Melamun saja terus! Baiklah saya ulangi…Saya minta ganti rugi karena kamu sudah berbuat hal yang mengancam keselamatan saya, jelas!”

“Lho, Pak! Jangan begini dong…saya kan gak sengaja dan hanya berusaha melindungi para wanita dari pria-pria mesum…”

“Jadi kamu menuduh saya mesum! Waduh, sudah masuk pencemaran nama baik ini!” potong Pak Indra.

Yuri melotot tak percaya. Oh! Tuhan, bagaimana bisa Engkau mengirimkan manusia-manusia bermulut ‘karet dua’ untuk selalu hadir dihidup hamba.

Yuri menghela napas lelah. Merasa tak bisa lagi membela diri karena jika dia maju maka kata pemecatan bisa keluar kapan saja. Bukankah Bos selalu benar. Dan sudah tertuang pada pasal 1.

“Maafkan saya, Pak.” Ucap Yuri lemah.

Tanpa dia tahu seringai seseorang didepannya melebar tak terkendali.

“Jadi wajar kan kalau saya minta ganti rugi.”

Yuri mengangguk pelan. Pasrah.

“Jawab!” desak Pak Indra.

Yuri mengepalkan tangan sampai terasa kebas. Ingin sekali menonjok seseorang saat ini.

“Iya, Pak. Bapak berhak meminta ganti rugi.”

Pak Indra menyadari bahkan sangat menyadari ada rasa kekesalan tertahan dari suara wanita cantik yang sekarang menatapnya membunuh walau bibir merah itu tetap tersenyum manis.

“Bagus kalau kau sudah menyadari kesalahanmu. Dan sekarang belikan aku gorengan didepan, cepat!”

‘Anying!’

“Baik, Pak.” Yuri masih waras menahan makiannya untuk tidak terucap.

Yuri beranjak dengan dagu terangkat. Namun sebelum membuka pintu dia teringat sesuatu. Tubuhnya kembali berbalik menghadap Pak Indra. “Lalu berapa saya harus mengganti rugi?”

“Kalau maksudmu uang, aku sudah punya banyak. Nanti aku beri tahu jika sudah menemukan nilai yang pas sesuai kesalahanmu. Sekarang cepat bawakan aku gorengan!” Jawab Pak Indra dengan senyum miring.

“Anying!”

Dan Yuri meninggalkan Pak Indra yang membeku ditempat. Kemudian mengerjapkan matanya tak percaya.

“Pasti salah dengar…”



Dua jam setelah itu, Yuri merasa tanah dibawah pijakannya melembut, mencair berubah menjadi lumpur dan menelan seluruh tubuhnya.

“….maka Bapak Indra Pramudia, selaku Direktur Utama akan memantau kinerja Kantor Cabang kita selama 3 bulan kedepan, bukan begitu Pak Indra?” sambut Pak Yunus, Kepala Kantor Cabang.

“Benar, Saya akan memperbaiki sistem dan kinerja di Kantor Cabang ini sehingga bisa menyamai atau bahkan lebih baik dari Kantor Cabang lainnya atau malah bisa melebihi Kantor Pusat…”

Semua pegawai tertawa bahagia dan bertepuk tangan menyambut era baru kepemimpinan Bapak Indra Pramudia yang terhormat. Kecuali sosok janda yang melemah seakan rohnya tertarik keluar. Dan Bapak Indra Pramudia yang terhormat menyadari itu. 
 ‘Selamat menikmati, Cantik!’

Sabtu, 11 Oktober 2025

07_Janda Labil



Padahal tidurnya terasa baru berjalan sejam tapi kenapa ada gangguan setan sepagi ini. Bukannya langsung bangun karena suara bel memenuhi rumahnya, Yuri malah semakin masuk meringkuk kedalam selimut. Mengabaikan entah siapa yang berada diluar dan tetap menikmati tidur pagi di hari libur. Paham yang dianutnya adalah jam enam pagi dihari libur akan bertahan tanpa bergerak maju selama kurang lebih lima jam, jadi dia tidak perlu bangun pagi-pagi, kan?

Kali ini suara dering ponsel lah yang menjadi pengganggu. Yuri mengumpat karena letak ponselnya lumayan jauh dan dia harus berjalan untuk ‘membunuh’ ponsel itu. Akhirnya wanita itu mengalah karena suara ponsel semakin membuat kepalanya pusing.

“Siapa sih, keras kepala banget. Kalo gak diangkat tau diri dong…berarti orang gak mau ngomong!” Yuri menggerutu dan mengangkat panggilan tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Karena pada dasarnya dia ingin melampiaskan kemarahan tadi malam dan barusan kepada sang penelpon.

“HAL…”

“Buka pintu sekarang atau lo gue perkosa dengan status sebagai calon suami!”

Jawaban sarat bentakan Yuri langsung terbungkam suara maskulin penuh ancaman. Kevin ada dibalik pintu rumahnya dan bersiap memperkosanya.

“Mampus!”

Tanpa mematikan panggilan, Yuri berlari keluar kamar dan langsung turun kebawah. Mengabaikan ritual sikat gigi dan menyambut Kevin dengan napas naganya.

Sesampai didepan, Yuri menarik napasnya dan membuka kunci pintu, menyambut pencabut nyawa tampan yang sedang berada dibaliknya.

“Lama!” dengan cuek Kevin masuk melenggang dan duduk santai disofa dengan tangan yang sudah meraih remote tivi.

Yuri yang terdiam kaku pun mengikuti jejak langkah Kevin barusan dan ikut duduk disebelah pria itu. Dengan jarak tentu saja.

“Ngapain pagi-pagi kesini?” tanya Yuri penasaran.

Kevin mengalihkan pandangan malasnya dari tivi ke Yuri, “Mau ngambil mobil yang lo curi.”

Yuri memukul bahu Kevin sampai pria itu mengaduh, “Gue cuma pinjam, pelit! Kan bisa nanti gue balikin!”

Masih meringis, Kevin mengusap bahu malangnya. “Nanti lo itu bisa sampe tahun depan. Laptop gue aja belom balik-balik! Sial, tenaga kuda banget sih lo!”

“Biar! Biar mati sekalian jadi laptop sama mobil lo buat gue!”

Kemarahan Yuri malah membuat geli Kevin. Lucu juga jika setiap hari mereka begini. Kevin sudah bersedia berdamai dengan keadaan. Daripada perempuan lain yang dia tidak kenal, lebih baik janda ini yang jadi istrinya. Toh, mereka bisa merencanakan kedepannya seperti apa, kan?

“Jadi gimana?”

“Apanya?” tanya Yuri bingung.

“Jadi gimana kalau lo sekarang sikat gigi dan gue gak pingsan karena bau mulut lo! Sorry…sorry gue becanda!”

Melihat kepalan tangan Yuri sudah mengambang diudara, Kevin membatalkan niatnya menggoda. Bisa memar bahunya nanti.

Kevin berdehem. Kenapa tiba-tiba dia gugup, ya?

“Jadi gimana…pendapat lo tentang…permintaan Mama tadi malam?”

Yuri menatap Kevin malu. “Menurut lo?”

“Lha…napa malah nanya balik?”

Yuri menghela napasnya lelah. “Yah, emang lo mau sama janda macam gue. Punya pengalaman buruk sama pernikahan yang mungkin akan mengganggu keharmonisan kita kelak…” Mata Yuri menerawang. Pikirannya kembali memutar masa lalu yang begitu menyakitkan.

Kevin yang langsung bisa menangkap sorot kesediahan di mata Yuri, menggeser duduknya dan merangkul tangannya kebahu Yuri dan memeluk erat tubuh yang mulai bergetar menahan tangis. “Ssshh…udah. Maaf karena membuatmu mengingat si brengsek hipersex itu.”

Yuri yang masih merasa lucu karena julukan Kevin buat Aldi pun akhirnya tertawa pelan didada pria itu. Mereka sama-sama tertawa geli. Kevin mengusap-usap kepala Yuri lembut.

“Aku gak masalah nikah sama janda, selama itu kamu. Jujur aku nyaman ketika kita bersama. Berantem, bercanda, makan bareng, nongkrong sambil ngopi…jadi aku rasa seumur hidup melakukannya pun aku sanggup.” Kevin merenggangkan pelukannya dan menangkup pipi Yuri. Menatap mata wanita itu dalam.

“Apa Kamu keberatan menerima barang bekas seperti Aku?” tanya Yuri serius.

Kevin terkekeh sebelum berkata, “Mending Kamu…bekas tapi halal, nah Aku?”

“Hehehe…iya sih Kamu mah tukang ‘nyelup’ sana sini.”

Keduanya tertawa dan kembali berpelukan. Lega dihati masing-masing. Bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan dua orang yang sudah saling mengenal luar dalam, saling memahami dan saling menjaga untuk bersatu didalam ikatan pernikahan. Mungkin saja ikatan mereka jauh lebih kuat daripada orang yang menikah karena berpacaran dulu.

“Trus, kenapa sekarang kita pakai Aku-Kamu?” tanya Kevin heran.

“Lha! Kan lo yang mulai, gue kan cuma ngikut aja!” Yuri yang malu melepaskan pelukan Kevin. Wajahnya memerah.

Hahaha….calon istriku ini lucu banget sih. Udah cantik, seksi, suka manyun...janda lagi…” Kevin semakin semangat menggoda Yuri.

Sedang yang digoda bersiap mengambil bantal untuk memukul kepala Kevin. Berbagai adegan kekerasan sudah tersusun rapi didalam otaknya hanya untuk Kevin tersayang.

“Sialan lo, Kev…!”

Makian Yuri tertahan saat Kevin menahan kedua tangannya dan tersenyum manis. Ketampanannya bahkan naik berkali-kali lipat. Yuri yang mendapat serangan mendadak seperti ini pun berubah kaku seperti es.

“Jangan lo-gue lagi, ya.”

“…”

“Aku-Kamu kedengaran lebih enak…”

Yuri yang masih terdiam, bagai terhipnotis mengangguk patuh. Sialan syndrome janda gatalnya yang kumat pagi ini.

“Jadi…Kita…menikah?”

Yuri menggigit bibirnya dan membuat senyum Kevin semakin melebar.

“Sayangi Aku yah…Istriku!”

Yuri melempar Kevin dengan bantal dan menutup wajahnya yang memerah parah dengan bantal yang lain. “Kevin apaan sih!”

Kevin malah tertawa semakin kencang. Lucu karena mendapati Yuri yang masih malu-malu padahal sudah jadi janda.

“HAHAHA…jadi kamu mau menikahiku kapan, Kunti?” tanya Kevin ditengah tawanya.

“Siapa yang menikah?”

Yuri tak terkecuali Kevin membeku ditempat.

.

.

.

Aldi menatap Kevin yang ada diseberangnya mengintimidasi. Menunggu. Sedang yang ditatap menatap balik sama tajam. Menantang.Tak mendapatkan apa-apa, netranya beralih menyerap sosok Yuri yang menunduk. Menghela napas lelah, Aldi pun menyerah. Ingin sekali dia memukul si dokter maniak didepannya. Namun masih berusaha menjaga sikap didepan Yuri walau dengan susah payah.

“Kev, lo pulang dulu aja, yah…nanti gue telpon.” Bujuk Yuri yang tanpa sadar menyayat hati Kevin. Apa didepan Aldi mereka kembali hanya berstatus sahabat. Kevin tertawa miris sebagai jawaban.

Pakai lo-gue lagi yah?

Dengan kasar dia mendorong meja dengan kakinya, beranjak pergi tanpa berkata apa-apa. Yuri sadar jika telah mengecewakan sahabat atau sekarang telah menjadi tunangannya. Namun semua tindakannya selalu tidak sinkron dengan hati jika sudah berada didepan Aldi. Bagaimanapun perasaannya pada Aldi tidak semudah itu terhapus.

“Yuri…aku menunggu penjelasanmu?” Aldi merubah tatapannya, melemah. Didepan Yuri dia tidak akan menutupi perasaan kalutnya.

“Al..itu…”

Aldi meraih tangan Yuri dan menggenggamnya lembut. “Tak apa, katakan saja.”

Yuri menaikkan wajahnya dan menatap mata Aldi dalam.

“Kevin dan Aku akan menikah.” Jawab Yuri mantap.

Sedangkan Aldi membeku ditempat. Jujur dia sudah bisa menebak setelah mendengar pembicaraan Yuri dan Kevin tadi. Berniat membawakan sarapan nasi uduk kesukaan Yuri namun malah harus mendengar pembicaraan yang sampai mati pun tidak ingin dia dengar. Dan setelah Yuri mengatakan langsung rasanya…sangat menyakitkan.

Aldi tertawa lirih, menunduk dan menggelengkan pelan kepalanya. Sarat kesedihan sangat jelas ditangkap Yuri dari tawa lirih itu. Dan benar saja, saat kembali mengangkat kepala mata mantan suaminya itu sudah memerah.

“Yuri…kau…kau tidak trauma pada pernikahan tapi trauma padaku, kan?”

Aldi mengecup kedua tangan Yuri yang masih ada dalam genggamannya lembut dan lama. Menghirup aroma Yuri sebanyak yang tubuhnya mampu. Menangkup wajahnya sendiri dengan telapak tangan mantan istrinya. Tanpa berkata ataupun menoleh, Aldi segera bangkit dan pergi meninggalkan Yuri yang terduduk diam. Wanita itu mengusap air mata Aldi yang membasahi kedua telapak tangannya.

“Maaf…” dan wanita itu pun terisak pelan.

06_Janda Labil



“Jalan yang anggun dikit napa sih, bar-bar banget!”

Yuri berdecak kesal dan memandang horor pria yang berkemeja santai dengan kaki yang berbalut celana jeans hitam. “Ini karena heels-nya. Kaki gue jadi mengangkang begini. Susah jalan tau!”

“Halah, apa susahnya. Semua orang pake kok, lo aja yang aneh!”

Yuri mencopot sepatunya dan melemparkan dengan keras kearah Kevin. “Noh pake! Katanya semua bisa kan?!”

“Ih! Ya kali udah ganteng gini gue pake heels, kasian cewek-cewek nanti kecewa, wajah sesempurna ini ternyata bencong!”

Mereka berdua tertawa dengan candaan yang tidak lucu sama sekali. Intinya tertawa membayangkan Kevin berubah jadi waria tampan.

“Udah lah copot aja, toh mama udah tau lo cewek jadi-jadian eh janda jadi-jadian deh! Hahaha!”

“Sialan!”

Kevin dan Yuri kini berada didepan pintu jati yang terukir pahatan-pahatan rumit menandakan betapa mahal harga pintu itu. Tanpa alas kaki Yuri yang berbalut gaun berwarna hijau daun itu terlihat sangat cantik walau tadi Kevin sempat menyebutnya ulat keket.

Kevin menekan bel tiga kali sekaligus. Tak menunggu lama seorang wanita paruh baya membuka pintu dan tersenyum sumringah melihat siapa yang datang.

“Non Yuri, Mas Kevin…silahkan masuk!” seru Bi Minah.

“Perasaan yang tinggal disini aku deh, Bi. Kok Kunti ini yang duluan disapa!” ucap Kevin protes sambil nyelonong masuk.

“Malam, Bi. Lama gak main kesini jadi kangen Bi Minah.” Sapa Yuri memeluk Bi Minah tanpa canggung. Mengabaikan jika wanita paruh baya itu bau keringat karena habis membersihkan kamar Kevin. Yah, Kevin memang selama ini tinggal sendiri diapartemennya.

Yuri menyusul Kevin duduk disofa depan tivi. Pria itu memencet-mencel remote dengan kasar dan sesekali protes karena acara tidak ada yang bagus.

“Bi, Mama mana?”

“Ada, Mas Kevin. Dikamar lagi nyuapin Tuan.”

Kevin manggut-manggut. Yuri menyikut rusuk Kevin dan mengarahkan matanya yang melotot kearah lantai atas. Menyuruh Kevin menyapa orang tuanya.

“Iya-iya. Lo sendiri disini gak apa-apa kan?’

“Gak apa-apa. Gue kan Kunti ngapain takut.” Sahut Yuri cuek sambil membuka toples camilan dimeja tanpa segan.

Kevin terkekeh dan mengacak-acak rambut Yuri sayang. Sedang Yuri hanya tersenyum. Rambut berantakan bisa dibereskan nanti yang penting camilan dulu.

Sampai diatas, Kevin menyusupkan kepalanya kebalik pintu dan mengintip kedalam. Melihat sepasang suami istri yang tetap mesra walau sudah berumur senja membuat hatinya menghangat.

Ayahnya dulu seorang dokter bedah saraf yang sangat terkenal. Namun penyakit stroke yang menyerang tanpa pandang bulu membuat ayahnya harus segera pensiun dari dunia kedokteran. Untungnya Kevin yang memang pintar tidak keberatan menyamakan cita-citanya dengan sang ayah, walau beda jurusan. Kevin seorang dokter bedah anak.

“Pa, Ma!” Kevin masuk dan langsung memeluk ibunya dari belakang.

Ayahnya menggeleng pelan melihat kelakuan manja bayi tuanya ini. “Udah saatnya kamu meluk istri, bukan Mama-mu.

Piring yang sudah kosong diletakkan ibunya dipinggir meja disamping tepat tidur.

“Yuri mana?” tanya ibunya.

“Ada dibawah, ngabisin cemilan Mama.”

Keduanya terkekeh mengingat selera makan wanita itu.

“Oh iya, Mama masakin Kerang Balado kesukaan kamu sama Yuri. Kok bisa samaan yah, Pa?”

Ayah Kevin tersenyum penuh arti. “Jodoh kali, Ma.”

“Ih ogah sama janda, Kuntilanak lagi!”

Plak!

“Aw! Kok mukul sih, Ma!” Kevin manyun karena mulutnya habis ditampar ibunya.

“Mulut dijaga. Nanti kemakan omonganmu sendiri, lho.”

Kevin mengedikkan bahu cuek sebagai jawaban.

Ayahnya tersenyum melihat kedekatan ibu anak didepannya ini. Berdo’a dalam hati semoga dia masih sempat melihat kebahagiaan ini lebih lama. “Ma…udah saatnya.”

Kevin menatap ayahnya bingung, namun belum bertanya Kevin melihat ibunya menganggukkan kepala. “Vin, tolong bantu angkat Papa ke kursi roda.” Tanpa diperintah dua kali Kevin menyelipkan tangan dilekukan kaki ayahnya dan dipunggung, ayahnya merangkulkan tangan ke bahu Kevin.

Kevin menggendong ayahnya sementara ibunya meletakkan bantalan empuk didudukan kursi roda agar ayahnya nyaman. Pemandangan yang sangat indah jika dilihat oleh orang lain.

Dengan pelan dan lembut Kevin mendudukkan ayahnya dikursi roda. “Kamu makan aja dulu sama Yuri. Tadi Mama udah makan…nanti kalau sudah selesai tunggu kami diruang tengah ya.”

“Iya Ma, Pa! Kevin kebawah dulu.” Kevin mencium pipi ayah dan ibunya kemudian melesat turun menyusul Kuntilanak-nya yang ternyata dengan tidak sopan sudah makan duluan. Alasan ditawari Bi Minah.



Setelah selesai makan Yuri memeluk kangen ibunya Kevin. Dulu waktu masa-masa galaunya sedang berlangsung Yuri sering sekali menginap disini dan menghabiskan stok tisu mereka.

“Tante…Yuri kangeeeen!” Yuri masih belum melepaskan pelukannya membuat Kevin yang melihat memasang raut mual mau muntah tapi setelah itu tersenyum geli.

“Udah sini lo duduk sebelah gue, gak liat tuh Mama udah kegerahan lo peluk! Sini!” Kevin menarik tangan Yuri dan mendudukkan wanita itu rapat disebelahnya. Tak sadar jemari mereka berdua masih terjalin. Tanpa mereka tahu jika ayah Kevin tersenyum melihatnya. Semoga niatnya bisa dilaksanakan segera.

“Kevin…”

“Ya, Pa?”

“Kau sayang Papa kan? Dan Mama-mu…kami berdua?”

Kening Kevin berkerut bingung. Apakah pertanyaan itu harus dijawab. Tanpa dia jawab pun pasti kedua orang tuanya ini tahu jika Kevin cinta mati pada mereka. Walaupun dia bilang ‘tidak’ pasti akan disorakin ‘Tukang Tipu’. Namun Kevin masih ingin mengikuti permainan Ayah kesayangannya ini. Dengan wajah curiga dia pun menjawab.

“Ya. Kevin sayang Papa dan Mama.”

Ayah Kevin berdehem. “Baguslah. Kalau sayang bukankah akan mengabulkan apapun yang Papa dan Mama minta?”

Kevin tersenyum miring. Benar pasti pertanyaan jebakan. Ujung-ujung ada maunya.

“Enggak juga. Dulu Mama ngelarang Kevin minum es abang-abang didepan komplek, padahal katanya sayang anak.” Elak Kevin.

Ibu Kevin berdecak kesal. “Itu beda! Kamu mau minum es sembarangan, hah! Nanti kalau sakit siapa yang repot!”

Kevin meringis kena semprot Ibunya. Salah strategi. Kepalanya menoleh kesamping kesal. Tepatnya kearah janda yang masih setia menghabiskan isi toples Ibunya. Tanpa segan janda itu menertawainya.

Sialan!

Dan tambah sial saat Ayahnya ikutan tertawa. Kompak bener si janda dan ayahnya ini.

“Iya-iya Kevin kabulkan…Papa sama Mama mau apa? Liburan?” akhirnya pria tampan itu pun mengalah agar bisa cepat-cepat kekamar dan istirahat.

Suasana tiba-tiba hening. Semua menunggu. Akhirnya Ayah Kevin pun mengutarakan niat yang sedaritadi dia simpan. Berdo’a agar putranya tidak marah atau tersinggung. Berdo’a agar keinginannya di usia tua ini terpenuhi.

“Kevin…Menikahlah!”

Kevin terduduk tegak. Kaget. Yah, hanya kaget akan perkataan ayahnya. “Menikah!”

“Iyah, Vin. Kamu udah dewasa dan sangat matang sekali untuk menikah. Ayah dan Ibu sudah tua dan ingin melihatmu berkeluarga secepatnya. Ingin melihatmu ada yang mengurus dan….bahagia dengan keluarga kecilmu nanti…” Ibu Kevin menggenggam tangan suaminya saat mengatakan itu. Ikut berdo’a dalam hati putranya akan mendapatkan keluarga yang harmonis seperti dirinya.

Kevin bungkam. Keinginan ayah ibunya jelas tersirat dikedua mata mereka. Atau lebih tepatnya harapan. Dan apakah dia sanggup memenuhi harapan kedua orang tuanya kali ini.

“Tapi…sama siapa?” Kevin akan menarik lidahnya setelah ini. Kenapa malah pertanyaan itu pula yang keluar dari mulutnya. Apa alam bawah sadarnya juga menginginkan pernikahan. Tapi sama siapa.

“Pacar-pacarmu kan banyak! Tinggal comot satu, ya kan Tante?” sambung Yuri tanpa sadar memanaskan situasi.

Ibu Kevin menggeleng keras. “Enggak, Yuri! Tante gak mau Kevin menikah sama pacar-pacar setengah telanjangnya itu. Mau dididik apa anak-anak mereka nanti, jadi bibit cabe-cabean?!”

Kevin mendesah lelah. “Yah, terus sama siapa dong? Mama ada calon bagus…udah jodohin aja lah. Males cari sendiri!” pasrah Kevin karena yakin seleranya dan sang ibu sama, hanya beda disegi paha dan dada terpampang jelas atau tidak.

Yuri masih terkekeh mengejek kesialan temannya. Kevin yang tidak terima meremas tangan Yuri sampai wanita itu mengaduh sakit.

“Jahat banget sih!” Yuri mengusap-usap tangannya yang menjadi korban keanarkisan Kevin.

Melihat interaksi yang malah terkesan mesra dimata kedua orang tua Kevin, senyum pun terbit diwajah senja mereka.

“Yuri.”

“Hah?!” tanya Yuri dan Kevin kompak.

Senyum Ibu Kevin semakin lebar. Betapa manisnya tingkah muda mudi ini.

“Kenapa Tante?” tanya Yuri lagi merasa jika tadi namanya dipanggil. Semakin bingung saat ayah Kevin menggeleng sambil terkekeh.

“Tante bukan manggil kamu Yuri. Tante menjawab pertanyaan Kevin tadi, tentang siapa calonnya.” Senyum misterius Ibu Kevin semakin menjadi-jadi.

Kevin dan Yuri malah saling menatap. Seolah-olah melemparkan tanya melalui telepati, namun apa daya jika sinyalnya buruk.

Gemas melihat kebuntuan dokter yang katanya pintar dan janda yang selalu mengaku high quality janda, ayah Kevin memutuskan untuk bertindak.

“Kevin, Papa dan Mama mau menjodohkan kamu sama Yuri…”

“Kalian berdua akan menikaaah…yeeeeiiii!!!” potong Mama Kevin sambil bertepuk tangan gemas.

Sedangkan kedua makhluk didepan mereka menganga dengan mulut super lebar. Beku ditempat.

“Me…menikah sama Kevin…” gumam Yuri.

“Sama…si…Kunti…” kali ini Kevin.

Hening…lagi.

Seketika mata kedua membelalak lebar karena kesadaran sudah TERISI PENUH.

“NOOOOO!!! teriak Kevin bahkan sampai menaikkan kedua kakinya tertekuk keatas sofa, seolah-olah hal itu berguna.

Beda lagi dengan Yuri yang meletakkan toples keatas meja dan menutup toples tadi dengan erat. Tangan gemetarnya bahkan membersihkan remahan-remahan yang sempat terserak dimeja.

“Sudah malam…Yuri pamit dulu yah, Om, Tante…” Yuri meraih tasnya dan bergerak dengan cepat. Kabur.

WUUUZZZZZ!!!!

Ketiga orang terdiam bagai terhipnotis menatap kepergian Yuri yang hanya meninggalkan angin sepoi-sepoi.

“Sialan si Kunti malah kabur!” maki Kevin setelah sadar jika dia ditinggal didalam ‘zona panas’ sendirian.

Tangan Kevin tertahan genggaman Ibunya saat ingin ikutan kabur namun gagal, dengan kesal dia kembali duduk.

“Ingat perkataan kamu tadi yah. Kamu kan yang minta mama cariin yang pas buat jadi istrimu. Dan pilihan Mama adalah Yuri. Jadi kamu segera bertindak atau Mama yang akan turun tangan, mengerti putraku yang tampan?!” Ibu Kevin mengelus pipi Kevin dan menepuk-nepuknya pelan. Membuat bulu kuduk Kevin meremang horor.

Frustasi, Kevin mengusap wajahnya kasar. Mengumpati dirinya yang masuk jebakan Batman kedua orang tuanya.

“Tapi kan Yuri belum tentu mau, Ma?” ucap Kevin memelas.

“Mau! Kalo kamu pinter ngerayunya. Udah kerjain aja dulu. Hasilnya gimana kita liat nanti!” dan wanita itu melenggang pergi mendorong kursi roda suaminya kearah taman belakang, santai setelah menimpakan batu beban yang besar dipundak putranya.

Kevin menatap takjub kearah ibunya. Oh Tuhan! Betapa besarnya kepercayaan diri ibunya ini.



Begitu sampai rumah dengan membawa kabur mobil Kevin yang kuncinya masih tergantung manis, Yuri langsung masuk dan membuka kulkas. Menenggak habis air langsung dari botolnya sampai kandas tak bersisa. Menikmati aliran dingin yang mudah-mudahan bisa juga mendinginkan kepalanya. Dan ternyata gagal, janda muda itu membuang sibotol malang dengan bantingan keras kedalam tempat sampah.

“Seharusnya gue curiga tuh dokter mesum kemarin malam tiba-tiba datang dan nyajak gue kerumahnya…HAAAHHH!!!” Yuri teriak dan mengacak-acak rambutnya.

Bagaimana dia bertatap muka lagi dengan keluarga Kevin setelah aksi melarikan dirinya tadi. Kabur bahkan tanpa menyalam tangan mereka. Yuri memukuli kepalanya dengan gulungan majalah yang entah kapan sudah tersedia diatas meja sambil mengucap mantera ‘Bodoh’.

“Menikah dengan Kevin…”

Kevin…menikah…telanjang…bercinta…missionaris….women on top…spoon…

Otak janda kesepiannya pun mengulas khayalan tak senonoh yang membuat wajahnya memerah sendiri. Dengan keras Yuri menggeleng berusaha menghilangkan pikiran mesumnya.

“Gawat! Kayaknya gue terkena syndrome janda gatal butuh belaian abang.” Yuri memegang pipinya yang memanas tanpa bisa dicegah.

“Haduuuuh! Ada-ada aja sih…lagian si Kevin pasrah aja lagi dijodohin!” Yuri menekan-nekan keningnya ke meja, berharap rasa pusing dan pikiran mesumnya segera menghilang.

“Kayaknya otak gue butuh tidur!” dengan langkah terseret Yuri membawa tubuhnya kekamar. Mandi bisa besok saja.

.

.

.

05_Janda Labil



Aldi membolak-balik berkas yang ada didepannya. Mengecek nominal-nominal yang mungkin akan membuat mata orang lain buta seketika. Pekerjaan sebagai seorang konsultan keuangan menuntutnya untuk selalu jeli dalam menyusun laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang menjadi kliennya. Dan karena kejeniusannya lah yang mengatarkan perusahaan berkelas kakap sekalipun untuk mengantri didepan pintu kantor miliknya. Yah, dan hasil tidak akan mengecewakan usaha. Bukti beberapa aset properti dan mobil mahal menjadi saksi keberhasilannya. Namun semua itu seakan tak berarti karena tujuan hidupnya kini sudah menjauh. Mantan istrinya, Yuri.

Aldi melepas kacamata dan memijat pelan pangkal hidungnya. Matanya melirik ke pigura yang terpajang manis diatas mejanya. Wajah Yuri yang tertawa cukup ampuh menjadi pembangkit semangatnya. Akan lebih baik jika langsung bertemu.

Matanya menatap kearah jam dinding. Setengah Sembilan malam, masih terlalu sore untuk tidur. Dengan lincah jemarinya mengetik nomor yang sudah dia hafal luar kepala. Aldi menunggu nada panggil itu tersambung.

“Halo?”

Aldi menyerngit. Menarik ponselnya dan menatap nama ‘Cinta’ pada layar ponselnya. Benar, tidak salah ini nomor Yuri. Kenapa yang menjawab laki-laki.

Seketika kesadaran menghantam kepalanya.

“Kevin. Dimana Yuri?”

Terdengar helaan napas dari seberang sana. “Ada. Mau bicara? Tapi sepertinya masih lama karena dia sedang mandi.”

Buku-buku jari Aldi memutih karena mengepal terlalu kuat. “Nanti aku hubungi lagi. Katakan padanya.” Balasnya dingin.

“Oke.”

Aldi mematikan sambungan dan membanting ponselnya cukup kuat kemeja. Dengan kasar jemarinya menyisir dan menarik rambutnya kebelakang. Aldi berdiri cepat sampai kursinya terdorong kuat kebelakang.

BRAK!

“Sedang apa sibrengsek itu dirumah malam-malam begini? Dan…kenapa Yuri…Oh tuhan!” seru Aldi frustasi menahan cemburu yang terbakar parah didadanya. Mengabaikan rasa panas tangannya karena menggebrak meja dengan kuat.

Sebegitu marahnya Aldi sampai-sampai tidak mendengar seseorang membuka pintu ruangannya dengan pelan. Tubuhnya terlonjak kaget saat sepasang lengan mungil melingkari pinggangnya.

“Astag…Brengsek! Lepaskan!” makinya setelah tahu itu tangan siapa.

“Apa yang kau lakukan disini?!”

Kaki jenjang itu membawa tubuh seindah model berjalan anggun dan duduk disofa ruangan Aldi. Jemari bercat kuku coklat itu mengusap-usap bagian sofa yang tidak dia duduki. “Dulu kita pernah bercinta disini…” ucapnya manja mengabaikan pertanyaan Aldi.

Aldi berdecak keras. Mengabaikan sopan santunnya pada perempuan yang berhasil menarik kebodohannya keluar. Sampai dia tega mengkhianati wanita yang dia cintai.

“Sebaiknya kau keluar sekarang sebelum satpam yang menyeretmu.” Aldi mengabaikan Linda dan kembali menekuni berkas-berkas. Berharap jika wanita itu pergi secepat dia datang.

“Klise. Selingkuh. Senang dan menikmati. Sampai tergila-gila tapi begitu ketahuan menjadikan pasangan selingkuhannya bak penyakit menular yang harus dijauhi.” Linda bertepuk tangan kecil.

Aldi menatap tajam kearah Linda, sedangkan wanita itu tidak perduli. Malah kaki yang tadinya menyilang kini terbuka lebar. Memperlihatkan celana dalamnya, khusus buat Aldi.

“Dulu kau menyukai ‘ini’ kan, kenapa sekarang tidak?” Linda menyandar di sofa membuka kakinya lebar dan mengusap-usap pelan kemaluannya yang masih dilapisi kain tipis.

Aldi memejamkan matanya erat. Kilasan perselingkuhannya dengan Linda bagai kaset rusak yang terus tumpang tindih didalam kepalanya. Bukan nafsu yang seperti Linda inginkan yang memuncak tapi amarah yang menyala jelas dimata Aldi saat manik itu kembali terlihat.

Tanpa suara Aldi bangkit dari duduknya. Menyambar dompet dan kunci mobil.

“Al?” Linda bingung saat Aldi berjalan melewati dirinya dan keluar dengan bantingan pintu yang sangat keras.

Tak lama seorang pria yang menjadi asisten Aldi dan dua orang sekuriti datang, membuat Linda menggeram marah.

‘Brengsek kau Aldi!’ makinya dalam hati.

“Minggir! Aku bisa keluar sendiri!” Linda menghentakkan kakinya kesal, menabrak bahu salah satu sekuriti hingga pria itu terdorong kesamping.

“Aku tidak akan melepaskanmu Aldi. Kau, milikku! Hanya milikku!”



Aldi menyusuri jalanan kota tanpa tujuan. Kilasan balik kejadian dua tahun yang lalu lagi-lagi mampir dikepalanya. Seakan-akan kejadian itu baru terjadi kemarin. Tanpa dia sadar cairan bening mengintip dari sudut matanya.

“Yuri…maafkan aku…”





SREK!

Kedua orang itu tersentak kaget. Karena sejajar dengan sofa, yang pertama ditangkap matanya adalah bungkus makanan yang jatuh dan hancur didekat kaki seseorang. Mata nanarnya langsung naik keatas.

“Yuri?!”

Aldi langsung melepaskan penyatuannya dan memakai celananya asal. Linda yang masih terlentang pasrah disofa bahkan tak mau repot-repot menutup kakinya yang mengangkang.

Yuri masih bisa melihat jejak basah nafsu dialat genital perempuan itu. Nafsu yang diciptakan oleh suaminya untuk perempuan itu. Betapa murah hatinya, bukan?

“Yu…Yuri…”

“Aku tau kau pasti bingung mau bicara apa. Kutunggu dirumah. Persiapkan penjelasan terbaikmu.” Ucap Yuri datar.

Aldi bahkan bisa melihat tubuh istrinya bergetar. Tanpa wanita itu tahu jika wajahnya sudah sepias kertas. Mengepalkan tangan kuat, Aldi menghantamkan tinjuannya ke dinding hingga tangannya berdarah.

Dengan cepat dia berlari kekamar mandi diruangannya dan membersihkan tubuhnya dengan cepat. Mengabaikan air yang masih menetes, Aldi kembali memakai baju dan berlari keluar. Pulang.

“Al…” Linda masih terduduk disofa, setengah telanjang.

Rasa jijik dan muak menguar hingga membuatnya mual dan ingin muntah. Aldi menelan ludahnya kering.

“Pergilah dan jangan pernah datang lagi!” Aldi mengeluarkan dompet dan melemparkan lembaran uang tepat ke atas meja.

Dengan segera tanpa menunggu balasan Linda, Aldi melesat pergi.


Lamunan yang panjang membawa Aldi kedepan rumah impiannya dengan Yuri dulu. Rumah yang selalu menyambutnya dengan hangat. Cinta yang dengan tololnya dia biarkan terkikis nafsu.

Gontai Aldi berjalan mendekati pintu. Tangannya terangkat memencet bel namun suara tak pernah menyapa pendengaran. Tangannya hanya mengambang diudara. Rasa bersalah dan dosa selalu membuatnya malu jika bertatap muka dengan Yuri.

Dua tahun ini dia menerima dengan pasrah makian, hinaan, cacian, tangisan, ratapan dari wanita yang dicintainya itu. Berkali-kali Aldi harus memohon dan bahkan sampai mengancam agar mereka tidak bercerai.

Sampai saat itu tiba. Yuri memintanya memilih akan pilihan yang teramat sulit. Cerai atau Yuri bunuh diri.

Aldi tidak menyangka perbuatannya membuat Yuri bisa trauma sampai seperti ini. Terlalu cepat kehilangan orang tua membuat dirinya mencari tempat bergantung, dan saat menemukan malah dikhianati.

Perjuangan Aldi selalu tanpa lelah. Bahkan setelah mereka akhirnya bercerai Aldi tetap berada didekatnya. Menjaga wanita itu dari luar rumah. Tidur dimobil takut jika sewaktu-waktu lampu padam dan wanita itu ketakutan atau sekedar atap yang bocor karena hujan, apapun bisa menjadi alasan. Memastikan para satpam perumahan terus menjaga rumahnya dengan bayaran yang tidak sedikit.

Sampai tidak sengaja Yuri tahu Aldi melakukan itu semua. Bersyukur karena mantan istrinya itu memiliki hati seorang malaikat. Perlahan-lahan Yuri memberikannya maaf dan mulai menerima semua kebaikannya. Walau harus digantung seperti ini, Aldi sudah puas. Dia akan terus menempel pada Yuri sampai wanita itu mendapatkan jodoh yang lain atau bahkan kembali padanya. Membayangkan Yuri bersama Kevin saja sudah membuatnya mau mati apalagi jika sampai Yuri menikah lagi. Aldi akan bersumpah untuk hidup selibat.

Tidak ingin mengganggu Yuri, Aldi berjalan kembali dan masuk kemobil. Berdiam diri cukup lama dan mulai terbang kealam mimpi. Entah sampai berapa lama dia disitu karena saat pagi, Yuri tidak mendapati mobilnya berada disana.

.

.

04_Janda Labil


“Jadi bagaimana, Dok?”

Kevin menutup matanya dan menghela napas lelah. “Sepertinya memang harus dioperasi. Tolong hubungi keluarganya biar saya yang jelaskan.”

“Baik, Dok!”

Kevin membanting berkas didepannya kesal. Memaki dirinya yang tidak bisa mengabulkan permintaan kedua orang tua pasien yang mengharapkan agar tidak ada operasi. Seorang pasien yang hanyalah bocah kecil yang berusia tujuh tahun.

Wajar jika mereka takut akan operasi. Membayangkan jika tubuh mungil putra mereka harus dilukai oleh sebilah pisau yang tajam tentu sangat menyakitkan.

Namun kesalahan sepele karena telat membawa putra mereka ke Rumah Sakit, mengkonsumsi obat biasa tanpa tahu apa sebenarnya yang menyerang tubuh simungil Agie. Membuat Kevin harus memutuskan jika operasi-lah jalan satu-satunya untuk menyembuhkan bocah malang itu.

Kevin mengusap wajahnya kasar. Dia butuh penetral. Dia butuh penyemangat.

Tangannya langsung meraih ponsel mahal yang tergeletak dimeja. Menekan satu nama dan panggilan langsung terhubung.

“Hallo…ya, Vin?”

“Kunti…lo bisa beliin gue Milk Tea yang biasa?”

“Bisa…lo operasi jam berapa? Mau gue bawaain sekarang?”

Bibir Kevin tersenyum, rasa bangga memenuhi dadanya. Sahabat yang bahkan sudah tahu keadaan dan keresahannya tanpa perlu dia cerita panjang lebar. Ingat jika dia membutuhkan minuman itu sebagai mood booster.

“Iya…sekarang ya. Gak pake lama!”

“Hehehe…siap, dokter cintaaah!”

Kevin mengulum senyum padahal sambungan telpon itu sudah terputus.

Hanya dalam hitungan lima belas menit, Yuri sudah berada didepan pintu ruangan Kevin. Tangannya langsung membuka tanpa ketukan. Kebiasaan.

Matanya langsung menangkap sosok Kevin yang menyenderkan kepala ke kursi dengan mata terpejam. Perlahan Yuri mendekat, meletakkan gelas plastik berisi Milk Tea dingin diatas meja. Yuri berjalan kebelakang kursi Kevin. Jemarinya dengan lembut menekan-nekan mengikuti alur alis tebal Kevin, bagian kesukaan Kevin.

Sahabat dokternya ini ternyata benar-benar tampan, ucap Yuri melantur dalam hati.

“Agie, Kun. Nanti sore…” ucap Kevin pelan.

Ucapan tidak jelas itu sudah pasti akan membingungkan orang lain namun tidak dengan Yuri. Tangan Yuri sempat terdiam sebelum kembali mengurut alis Kevin.

“Lo udah bilang ke orang tuanya?”

Kevin menggelang. “Bentar lagi mungkin kesini. Gue minta tolong perawat buat manggil orang tuanya.”

Yuri menghela napas. Mau marah tapi gak punya hak.

Agie. Sebenarnya terlambat dibawa ke Rumah Sakit karena orang tuanya terlalu sibuk. Lebih mementingkan urusan kantor daripada anak. Padahal anaknya baru satu. Yuri bicara seperti ini bukan tanpa alasan. Mendiang ayah ibunya bisa mengurus Yuri sambil bekerja namun dirinya tidak pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang. Ayah dan ibunya secara bergantian menemani apapun yang berhubungan dengan dirinya dirumah ataupun disekolah. Walaupun hanya sampai dia kuliah, karena kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil.

Tapi tidak begitu dengan orang tua Agie. Bocah kelas dua SD itu harus puas ditemani oleh pembantu yang sama sekali tidak telaten merawatnya. Jajan sembarangan, makan tak tepat waktu dan kebersihan yang minim membuat bocah laki-laki itu terkena Infeksi bakteri yang sudah menyebar dan merusak bagian organ tubuhnya. Salah satu katup jantung Agie harus diganti karena sudah tidak bisa diperbaiki.

Kevin yakin dia bisa menyelesaikan operasi itu dengan baik namun takut jika bocah kecil itu harus lagi-lagi tidak mendapat perhatian dari kedua orang tuanya pada masa penyembuhan. Sepertinya Kevin harus sedikit menakut-nakuti pasangan itu walau hal itu menyalahi.

Ctak!

“Aw!”

Kevin meringis menerima jitakan manja dari Yuri. “Jangan berfikir menakut-nakuti orang tua Agie! Nanti kalau mereka panik lo mau tanggung jawab!”

Kevin berbalik dan menatap sahabatnya itu takjub. “Ternyata selain Kuntilanak lo bisa juga jadi dukun yah?”

Yuri memutar kepala Kevin dan menyandarkan lagi kekursi dengan kasar. Tangannya kembali memijat alis pria itu. Kevin terkekeh dan kembali menikmati pijitan Yuri dengan mata terpejam.

“Muka lo dah jelasin semuanya, gak perlu gue jadi dukun…hah!” Yuri menghela napas kasar sebelum melanjutkan.

“Gue juga kesal sama orang tua Agie. Tapi mereka juga tetap orang tua yang sayang dan khawatir pada anaknya. Coba lo jelasin dan kasih pengertian serta kerlingan mata, siapa tau mereka mengerti dan sadar…untung-untung emaknya resign.”

“Iya…nanti gue coba. Kunti…agak kekanan dikit lebih keras mijitnya.”

Muka Yuri cemberut namun tetap memenuhi permintaan Kevin.

Pintu ruangan diketuk dan Yuri langsung menghentikan kegiatannya.

“Masuk.” Seru Kevin menjawab dan memperbaiki posisi duduknya.

“Dok…eh ada Mba Yuri…” sapa perawat yang sudah kenal Yuri ramah. Yuri tersenyum canggung.

“Dok…Orang tua Agie datang…dua-duanya.” Ucap perawat itu dengan senyum merekah.

Tidak hanya Kevin dan Yuri, ternyata semua yang mengenal dan tahu kasus Agie berharap bocah itu bahagia. Semua senang akan hal baik yang didapat Agie. Semoga operasi sukses dan Agie bisa kembali sehat, tertawa diantara kedua orang tuanya setiap saat.

“Baik, suruh mereka masuk.”

“Baik, Dok”

Pintu tertutup bersamaan dengan Kevin yang menyerumput minuman yang dibawa Yuri tadi.

“Ah…sedap! Makasih, yo!”

“Iyeee…gue balik yah. Ingat! Gak ada acara nakut-nakutin mereka. Lo kasih pengertian yang jelas sampe mereka sadar sendiri, Oke!” omel Yuri.

“Iyaaaaa…..Kunti. Bawel banget sih!”

“Yowes, gue balik. Bye” ucap Yuri sambil mengecup pipi Kevin. Kebiasaan.

Yuri menghilang dibalik pintu meninggalkan seorang pria yang mengusap pipinya dengan wajah yang memerah. Perlahan tangannya bergerak menekan dada dimana jatungnya berdetak keras dan cepat.

“Kayaknya gue harus check up ke Pram.” ucap Kevin lirih merujuk pada dokter spesialis jantung yang juga temannya.

.

.

.

03_Janda Labil



Terdengar percakapan beberapa orang didalam rumah berlantai dua itu. Perdebatan demi perdebatan memenuhi ruang tengah yang lumayan besar namun terasa kosong. Kosong karena perdebatan itu hanya ditonton oleh seorang wanita yang sedang melumuri kaki jenjangnya dengan lotion.

“Ish! Nambah lagi episode. Kebiasaan sinetron gak habis-habis. Wajar aja orang pada pindah ke drakor!”

Masih sambil mengusap-usap lotion yang sudah mulai meresap kekulitnya, Yuri terus saja memprotes adegan sinetron yang dia rasa sangat panjang dan jelek namun tetap saja setia menonton. Jika ditanya pasti jawabannya adalah karena penasaran ending-nya atau kasihan nanti gak ada yang nonton.

Beginilah kesehariannya sejak menjadi janda. Tinggal dirumah sendiri karena Aldi pindah ke apartemen. Menonton tivi sambil merawat tubuh. Maklum, sudah janda. Pamor harus dinaikkan.

Kadang jika sendirian begini, Yuri selalu teringat saat-saat mesranya dengan Aldi. Mereka bisa bermesraan dimana saja. Bahkan disofa ini pun pernah. Jujur dia merindukan masa-masa itu.

Nasehat yang tadi dikatakan Kevin mampir dikepalanya. Jika memang masih cinta, kenapa tidak rujuk?

Keinginan itu begitu besar. Mengingat perjuangan Aldi yang terus tanpa lelah meminta maaf darinya. Selalu ada untuknya walau mereka sudah berpisah. Tidak jarang jika malam seperti ini, Aldi membawakannya makan malam dan mereka akan makan bersama sambil bercanda.

Hubungan yang nyaman. Tanpa ikatan. Tanpa rasa sakit. Tidak ada pengkhianatan karena memang tidak pernah memiliki dan dimiliki.

Nyut.

Selalu saja seperti ini. Yuri memegang dadanya yang tiba-tiba sakit. Mencoba menggali masa-masa manis dengan Aldi pasti selalu menarik masa pengkhianatan itu keluar. Saat Aldi berselingkuh dibelakangnya.


“Apa salahku, Al?”

“Tidak ada, Sayang. Semua murni sal…”

“CUKUP! CUKUP!” Yuri menutup telinganya, menolak penjelasan Aldi.

Suaminya itu terdiam berdiri kaku. Menyumpahi dirinya sendiri karena sudah terjerumus dalam kebodohan yang amat sangat. Mengkhianati wanita yang dia cintai hanya karena ego sebagai pria. Hanya karena ingin membuktikan jika dia bisa. Dan dengan alasan konyol itu dia mengingkari janjinya pada Yuri. Untuk membahagiaan wanita itu sampai maut memisahkan.

“Kau bahkan mengatakan sayang padanya…disaat…aku ada disampingmu…” Yuri menggelengkan kepalanya tak percaya. Air mata itu mengalir deras, dari Yuri dan juga Aldi.

BRUK!

Aldi jatuh berlutut. Kesalahan ini terlalu berat untuk mampu dia tanggung. Memaki kebodohannya yang tidak pernah mengunci ponselnya dengan password, hingga Yuri yang curiga berhasil mencari barang bukti untuk penjahat seperti dirinya. Yaitu pesan dari seorang wanita.

“Sayang…maaf..” hanya itu yang mampu dia ucapkan. Tidak ada pembelaan diri karena kesalahan hanya miliknya. Yuri tidak salah. Tidak pernah salah.

“Aku mau cerai!”


Yuri menggelengkan kepalanya. Meraih cangkir berisi teh manis hangat dan langsung meminum cairan itu sampai tandas. Rasa hangat memenuhi dadanya. Hangat dalam arti sebenarnya.

Ting Tong!

Ting Tong!

Yuri menatap jam dinding yang mengarah pada jam sembilan malam. “Perasaan belum giliran ngasih satpam makan…” walau enggan wanita itu tetap menyeret kakinya kearah pintu depan.

Mengintip jendela dan langsung tahu siapa tamu malamnya. Walau wujud tak kelihatan tapi mobil putih itu menjelaskan siapa yang datang. Panjang Umur.

Memasang wajah jutek maksimal, Yuri membuka pintu rumahnya. Seketika aroma musk yang begitu menggoda menggelitik hidungnya.

“Mie Aceh?” tawar Aldi mengangkat bungkusan ditangannya.

“Hm!” pura-pura cuek Yuri berbalik membiarkan tamunya masuk sendiri. Padahal perutnya langsung durhaka mencium aroma mie aceh favoritnya. Dasar Aldi sialan, dia kan masih dalam mode merajuk.

Melihat gelagat mantan istrinya yang jutek tapi menggemaskan, Aldi tersenyum geli. Jangan kira jika pria tampan itu datang dengan kusut dan kumal. Yuri suka pria yang rapi dan wangi. Maka dari itu sepulang kerja dia sempatkan mandi di kantor dan menyemprotkan parfum yang dulu begitu disukai Yuri. Bahkan dulu selalu masuk kedalam pelukannya jika dia memakai parfum ini. Yah, dulu.

Aldi langsung berjalan kedapur, mengambil piring dan mengeluarkan makanan mereka. Aroma nikmat mie aceh langsung menguar keseluruh ruangan.

Yuri hanya mampu menelan kering ludahnya. Bersorak riang dalam hati saat sudut matanya menangkap sosok Aldi yang berjalan mendekat. Mereka akan makan didepan tivi seperti dulu.

“Makan dulu, marahnya lanjut lagi nanti kalau udah kenyang.” Ucap Aldi sambil mengedipkan matanya menggoda.

“Makasih!” jutek tapi mie tetap diambil. Mubazir.

Mereka makan dalam diam. Aldi terus mencuri pandang pada sosok wanita didepannya. Sambil makan bahkan gairah itu bisa datang. Bagaimana tidak jika mantan istri yang masih sangat kau cintai hanya memakai celana rumah yang sangat pendek. Bahkan Aldi bisa melihat pinggir renda celana dalam Yuri yang mengintip. Jakunnya naik turun, menahan hasrat binatangnya. Oh Tuhan! Dia sudah lama puasa.

“UHUK UHUK..Akh!!

Bagai terjebak kebodohannya sendiri, disuapan terakhir Aldi tersedak. Pedasnya cabai menyusup kecelah kerongkongannya dengan kejam. Aldi terbatuk-batuk sampai air matanya keluar.

“Astaga! Kok bisa kesedak sih!” Yuri yang panik berlari ke dapur dan kembali dengan segelas air ditangan. “Minum, cepat!”

Aldi mengambil gelas itu dan menandaskan isinya dengan terburu-buru. Bahkan sampai ada air yang menetes disudut bibirnya.

“HAH…HAH…Makasih…” ucap Aldi masih sesekali menepuk dadanya.

Tanpa sadar Yuri yang duduk disebelah mengusap-usap punggung Aldi. Bibirnya berkedut ingin tertawa.

“Ketawa aja gak usah ditahan…”

“Hehe…baru kali ini liat kamu kesedak heboh begini…emang kenapa? Laper banget?” tanya Yuri disela tawanya.

“Ehm…” Aldi berdehem membersihkan kerongkongannya yang masih tersisa rasa pedas sebelum berkata, “Iyah…lapar mata.”

“Hah?...Eh?!”

Masih bingung dengan perkataan mantan suaminya ini, Yuri harus dikagetkan dengan tangan Aldi yang menarik tubuhnya dan mendudukkan dirinya diatas paha pria itu hingga mereka berhadapan. Wajah Yuri sontak memerah menyadari posisi intim mereka. Dulu sih gak masalah malah dia yang akan menyerang Aldi, tapi sekarang kan….

“Aku lapar…kamu…” serak suara Aldi bagai alarm peringatan dikepala Yuri.

Dengan canggung Yuri beranjak berdiri namun tubuhnya ditahan Aldi. Pinggangnya dipeluk erat.

“Al, lepas!”

“Enggak!”

“Al, lepas! Kita bukan la…”

Yuri terbungkam. Aldi menghentikan dirinya, ucapannya. Pria itu menarik tengkuk Yuri dan melesatkan ciuman yang dalam.

Yuri terlena. Lagi-lagi. Ini ciuman kedua mereka setelah berpisah. Aldi membujuk, membelai Yuri didalam kuluman mereka. Menarik pinggang Yuri semakin merapat. Jantung keduanya berdebar menggila. Hanya satu kata yang bisa menggambarkan perasaan masing-masing.

Nikmat. Dan mereka berdua menyukainya.

Aldi merebahkan tubuh Yuri dan melindungi tubuh mantan istrinya itu dari terangnya silau lampu. Aldi tepat diatasnya, menatapnya dengan mata penuh rindu dan harap.

“Yuri…Sayang. Tolong terima cintaku lagi…kumohon…”

Lagi-lagi Yuri bungkam. Namun kedua telapak wanita itu membingkai wajah tampan Aldi dan menarik mendekat. Mereka kembali berciuman dalam.

Gesekan itu mulai berlabuh. Walau masih terlapisi penghalang namun tetap terasa nikmat. Yuri menerima godaan Aldi dan ikut mendesah. Keduanya terlarut dan semakin jauh bergerak. Mencapai kenikmatan dan kepuasan terbatas mereka. Tekanan itu semakin keras, cepat dan kemudian berakhir.

“Akh!” Aldi menggeram didalam cekungan leher Yuri. Sekali lagi dia menatap sayu mantan istrinya dan mencium bibir itu lembut sebelum beranjak duduk.

Aldi menatap pasrah celana bagian depannya yang sudah basah. “Celanaku masih ada disini gak?”

Yuri tersenyum geli dan mengangguk. “Bersihin sana, biar kuambilkan yang baru di kamar.”

Yuri meninggalkan Aldi yang masih terduduk lemas di sofa. “Benar-benar hubungan yang berbahaya untukku.” lirih Aldi.

Tangan Yuri mencari-cari disela lipatan baju dilemari, dan menemukan celana sedengkul milik Aldi yang tertinggal. Yuri menatap celana Aldi yang berada digenggamannya.

Ingin. Ingin dia balik pada Aldi. Tertawa bersama. Bercinta bersama dan bahagia bersama lagi. Namun setiap keinginan itu muncul bagai penyakit yang tiba-tiba datang, rasa sakit itu juga muncul. Pengkhianatan Aldi begitu menyakiti hatinya. Begitu menginjak-injak harga dirinya.

Tanpa dia sadari Aldi yang berbalut handuk mendekati Yuri yang terdiam duduk didepan lemari. Aldi bersimpuh tepat dibelangkang punggung kecil Yuri. Perlahan tangan pria itu merangkul, mendekap erat.

“Jangan dipaksa. Biarkan mengalir. Aku akan menunggu sampai selama apapun. Aku tidak ingin kau tersiksa karena perasaanku.” Aldi mengecup samping kepala Yuri.

Yuri mengangguk pelan, menyerahkan celana lama Aldi. Pria itu menerima dan langsung memakainya. Tidak perlu malu. Toh, Yuri pernah melihat dan memiliki seluruh tubuhnya.

Dada Aldi terasa sakit dan sesak saat matanya menelusuri kamar yang dulu menjadi tempat favoritnya. Bekas kamarnya. Yah, bekas karena dia sekarang adalah orang asing dikamar ini. Dan semua karena tingkah bodohnya.

Menarik napasnya dalam karena benar-benar tidak rela pergi. Namun lagi-lagi dia hanya orang asing dirumah ini. Aldi pun pamit pulang.

“Aku pergi yah. Jangan tidur lama-lama dan kunci semua pintu…sampai dua kali.” Ucapnya pelan sambil membelai rambut Yuri.

“Iyah.” Jawab Yuri singkat.

Aldi menatap lekat mata Yuri. “Maafkan kata-kataku tadi siang yah. Aku tau si Kevin itu sahabatmu…aku…aku hanya cemburu..” ucap Aldi yang melirih di akhir.

Yuri menangkup dan menggenggam tangan Aldi yang masih berada dikepalanya. “Aku tau.”

“Dan…Yuri. Aku mencintaimu.” Aldi menunduk, tersenyum lirih. Tidak ada jawaban. Seperti biasa.

.

.


Kening Yuri menyerngit. Aneh.

Apa mungkin perasaan dia saja. Apa Aldi yang menungguinya ini hanya perasaannya saja.

“Ini…udah.” Yuri menyerahkan ponsel suaminya yang tadi dia pinjam untuk menelpon sebentar.

“Oke!” Aldi menerima dan langsung berjalan keteras rumah sambil mata dan jarinya terus menjamah ponselnya.

-Sekali-

“Al…dimana? Kok lama sih, tadi katanya udah dekat?” Yuri meremas ponsel yang tertempel ditelinganya melampiaskan kekesalan.

“Udah dekat kok…tadi gak tau kenapa tiba-tiba macet. Pak ogah kali nih suka sukanya aja ngatur jalan demi duit!”

Yuri mengumpat dalam hati. “Ya udah cepetan yah, udah gak ada orang nih dikantor. Mending tadi aku pulang sendiri aja…” sambung Yuri merajuk.

“Iyah, Sayang…maaf yah bentar lagi sampai kok. Aku tutup dulu yah, susah bawa mobilnya. Oke!”

Tut..Tut..Tut

-Dua kali-

“Lembur? Tumben?” Yuri menatap heran Aldi yang sedang memakai jamnya santai.

“Iyah…tiga hari ini. Dikantor lagi sibuk banget. Jadi kamu bisa kan pulang sendiri…nanti aku bawain makan malam deh.” Jawab Aldi mengecup kening Yuri dan melesat pergi sebelum istrinya itu menjawab.

Hidungnya mencium aroma parfum yang berbeda dari tubuh suaminya. Yuri terdiam kaku ditempat.

-Tiga kali-

-Empat kali-

-Lima kali-

-Kesekian kali….


.

.

.

02_Janda Labil




“Ini Dok, kopinya…”

“Makasih ya, Cantik.”

Jemari ramah itu dengan berani mengusap pipi yang terlihat semakin merona. Dengan malu-malu diakhiri cekikikan, gadis itu pergi menjauh dengan berlari kecil.

Pria tampan yang ditinggalkan menatap geli dan langsung menyambar kopi yang sudah tergeletak manja diatas meja. Menyerumput sedikit dan menyerngit jelek.

“Ga enak!” ucapnya kesal.

Kecewa dengan kopi buatan perawat bahenol yang dia goda tadi. Kevin langsung mencoret nama perawat tadi dari list calon penghangat ranjangnya.

“Bikin kopi aja gak bisa, payah!”

Dengan kesal Kevin memakai kacamata bacanya, memeriksa laporan kesehatan pasien yang tertumpuk lumayan banyak dimeja. Nasib menjadi dokter tampan yang laris manis. Walau capek tapi bahagia. Rejeki lancar, hati pun senang.





BRAAKK!!

“Astaga!” Kevin mengurut dadanya, kaget.

“Kuntilanak ini, gak pernah ya datang gak banting pintu!”

Tidak peduli dengan kemarahan pemilik ruangan, Yuri berjalan cepat dan langsung meminum kopi gagal yang masih bertengger diatas meja sang dokter. Sampai habis.

Kevin melongo dengan mulut terbuka menatap bagai gerakan lambat saat Yuri mendesah lega dari dahaga, mengusap mulutnya puas dengan punggung tangan.

“Enak!” cengir Yuri dengan acungan jempol bak iklan tivi.

Kevin menggeleng pelan, takjub sekaligus jijik. “Dasar selera rendah!”

Yuri yang terbiasa dengan mulut pedas sahabatnya ini malah nyengir dan duduk bersandar dikursi dengan kaki menyilang lebar. Persis bapak-bapak.

“Ck! Wajar aja diselingkuhi laki, duduk aja masih lebih anggun waria.”

“Mantan, Anying!” maki Yuri bersamaan dengan sepatu yang dilempar.

Sigap karena sudah sering dilempari barang oleh Yuri, Kevin menangkap flat shoes itu dengan sangat akurat.

“Balikin!”

Bahkan sebelum Yuri meminta kembali sepatunya Kevin sudah berjalan pelan dan berjongkok. Memakaikan kembali sepatu Yuri. Bagai seorang pangeran.

“Sepatu lo bau banget sih!”

Namun sayang mulut sambal itu masih belum dicuci.

Kevin berdiri dan memilih duduk disebelah Yuri. Tahu jika sesi curhat sebentar lagi akan dimulai. Kevin menyesal seharusnya tadi dia membeli keripik bumbu micin sebagai pelengkap drama.

“Apalagi sekarang?”

Yuri menoleh dengan wajah merana. Menyesali jika bibir pedas itu harus sepaket dengan wajah adonis didepannya. Andai dia tahu jika semua itu hanya Kevin berlakukan padanya.

“Aldi bilang dia cinta gue.”

Kevin menguap, “Bukannya tiap hari dia bilang begitu?”

Yuri terdiam menatap bunga hiasan diatas meja seakan bunga itu ikut merana bersamanya. “Iya, dan setiap dia melakukan itu jantung gue selalu berdebar….ingin rasanya menjawab jika gue juga mencintainya…tapi…gue takut…”

“Lebay!”

Yuri yang kesal memukul bahu Kevin, “Orang lagi serius dibecandain mulu sih!”

“Siapa yang bercanda. Gue juga serius!”

Kevin menarik tangan kanan Yuri dan menggenggamnya. Hangat itulah yang Yuri rasakan.

“Hubungan kalian ini tidak sehat, Yuri. Kalian harus segera mengambil keputusan mau lanjut atau berakhir. Gak bisa selamanya seperti ini. Dibilang jomblo enggak, pacaran juga enggak!”

Kevin menarik napasnya sebelum melanjutkan, “…akan semakin sakit jika terlalu lama seperti ini. Dan ini berlaku untuk kalian berdua. Gue yakin apa yang dilakukan Aldi dulu murni khilaf tanpa pakai hati. Sebagai laki-laki pemuja wanita gue berani menjamin. Sekarang balik ke elo…mau percaya dia lagi atau berhenti.” Kevin mengusap pelan tangan Yuri yang masih berada digenggamannya, tanpa sadar.

“Laki-laki itu lahir kembar tiga lho.”

Yuri menyerngit heran namun bibirnya mengukir senyuman. Menanti lelucon basi yang biasa diucapkan sahabat tampannya ini.

“Apa aja?” tanya Yuri penasaran.

“Bayi.”

Yuri mengangguk.

“Ari-ari.”

Anggukan lagi.

“dan….Khilaf.”

“ HAHAHAHA!” Pecah sudah tawa Yuri. Air mata bahkan mengintip disudut matanya.

“Dan mantan lo itu baru bertemu dengan kembarannya dua tahun yang lalu, mungkin dari acara tali kasih?” lanjut Kevin mengabaikan jika tawa Yuri semakin berderai parah.

“La…lalu lo gimana? Banyak banget berarti kembaran cowok brengsek seperti dr. Kevin ini?” tanya Yuri disela tawanya.

“Enak aja. Khilaf itu hanya terjadi pada kami laki-laki yang sudah berkomitmen. Sedangkah gue…belum! Kalo gue udah nikah nanti, kembaran ketiga gue itu bakal gue bunuh dan bakar sampai tak bersisa. Jelas?!”

“Hahaha…jelas pak dokter ganteng. Sekarang izinkan hamba yang hina ini buat balik ke habitatnya.”

Yuri beranjak berdiri dan berjalan keluar. “Ah…terima kasih sarannya yah dokter ganteng…hadiah cium khusus dari saya buat anda. Muaaaaaah!”

Suara tawa geli Kevin terhenti saat pintu didepannya sudah tertutup. Matanya menatap lurus dengan tatapan yang sulit diartikan.

Yuri menyempatkan diri membeli gorengan di depan Rumah Sakit tempat sahabatnya bekerja. Buat cemilan wajibnya jam sepuluh nanti.

Kebiasan ini memang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Mengunjungi Kevin yang bekerja tepat diseberang kantornya. Membeli gorengan dengan Bakwan yang banyak karena tahu jika jam sepuluh nanti dialah yang akan dikunjungi sahabatnya.

Yuri menyeberang setelah yakin jalanan sudah kosong. Dengan berlari kecil wanita itu memasuki pekarangan salah satu kantor, tempatnya bekerja.

“Habis ziarah ke dr.Kevin lagi?”

Yuri terkekeh mendengar candaan nyinyir perempuan disebelahnya. Ayu, salah satu mahluk ciptaan Tuhan selain Kevin yang diberkahi mulut setan.

“Hehehe…iya, Yu! Kapan-kapan lo main juga keseberang dong. Kevin nanyain lo kapan datang bawa serabi lagi?”

“Nanti! Nunggu kuburannya digusur dulu. Maruk amat ya temen lo itu. Ganteng sih ganteng, pake banget lagi. Tapi rakusnya itu bikin semua imajinasi gue buyar!” keluh Ayu mengingat serabi kiriman ibunya dari kampung hanya tinggal remahan sisa. Dan semua itu salah Kevin.

“Berarti nanti lo kabur lagi pas dia datang?” Yuri semakin semangat menggoda. Sepertinya Ayu cocok bersanding dengan sahabatnya. Pasti hidup mereka lucu sekali. Penuh warna. Warna hitam dan merah darah.

“Ih ngapain kabur…gue ada Surat Tugas ke Bogor dong. Bentar lagi juga jalan meninggalkanmu sendiri disini. Nanti makan siang pesen online aja, kasihan lo ga ada temen.”

Yuri menatap haru rekan kerjanya ini. Sesambal-sambal koreknya mulut temannya ini, hatinya benar-benar malaikat.

“Iyah…gampang.”

“Yowes, gue jalan dulu yah. Udah di WA Bu Pudji.”

“Oke.”

Yuri menggeser bungkusan gorengannya kepinggir meja dan mulai membuka berkas-berkas yang harus diselesaikannya sebelum jam istirahat.

Hanya suara ketikan dari beberapa komputer yang terdengar diruangan itu. Sesekali terdengar suara semprotan pewangi ruangan otomatis yang selalu sukses membuat Yuri kaget jika harus lembur sampai larut malam.

Drrtt…Drrtt!

Tanpa mengalihkan matanya dari layar komputer, Yuri meraih ponselnya yang diatur dalam mode getar. Namun efeknya sampai menggetarkan seluruh bagian mejanya. Ponsel yang luar biasa.



Al : ‘Maksi bareng yuk, Sayang!’

Lengkungan senyum terbit disisi kanan bibir Yuri. Pesan dari Aldi sangat pas sekali hari ini. Disaat teman makan siangnya tidak ada. Dengan lihai dia menggetikkan pesan balasan.

‘Dimana?’

Bukan pesan balik yang masuk tapi nada panggil yang terdengar. Berdecak sok kesal tapi senang bukan main, Yuri mengangkat panggilan Aldi.

“Kangen...” suara Aldi terdengar manja diseberang sana.

“Kan baru ketemu tadi pagi, kemaren juga nginap kan?” walaupun harus tidur di sofa ruang tamu lanjut batin Yuri.

“Bukan kangen ketemunya…tapi kangen pengen jadi suami kamu lagi...”

Yuri mendesal lelah. “Mulai lagi yah, aku tutup nih!”

Tawa geli terdengar disana. Tanpa Yuri tahu jika Aldi lagi-lagi menahan sakit atas penolakannya.

“Bercanda, Sayang…tapi jadi yuk makan siang bareng. Aku ketemu tempat ngopi bagus kemaren. Cafenya kaca semua…kalo malam pasti bagus banget.”

“Dan hujan…” lanjut Yuri teringat momen saat kencan mereka dulu sebelum menikah dan kemudian bercerai.

“Iyah…hujan…”

Keduanya terdiam cukup lama dengan pemikiran masing-masing, mengabaikan pulsa yang terus menipis.

“Terus aja diam. Abaikan jeritan pilu anak-anak abg pemuja pulsa dan kuota diluar sana.”

Yuri tersentak dan langsung menoleh keseseorang yang sudah duduk dikursi Ayu sambil memakan gorengan Bakwan.

“Eh kapan lo datang? gak denger gue..”

“Siapa?” tanya Aldi penasaran.

Yuri memukul jidatnya melupakan jika dia masih tersambung dengan Aldi.

“Ini ada Kevin.”

Terdengar helaan keras dari Aldi. Yuri sadar jika Aldi tidak suka dengan kedekatan dirinya dengan sang dokter cabul yang sedang asyik membuka-buka majalah milik Ayu.

“Kamu masih ketemuan sama dia? Dia itu pria brengsek, Yuri. Nanti sialnya kamu yang jadi korban!”

Entah kenapa Yuri sedikit kesal jika ada seseorang yang mengata-ngatai sahabatnya. Bagaimanapun Kevin-lah yang dulu membantunya melewati masa-masa sakit walaupun mereka baru saling mengenal. Seperti sudah ada ikatan sejak awal yang tercipta diantara mereka berdua.

“Jika dia brengsek, lalu sebutan untukmu apa?” Yuri melirik kearah Kevin. Yuri tahu walaupun Kevin pura-pura cuek, pasti pria itu sadar jika sedang dibicarakan.

“Aku makan siang dengan teman kantorku hari ini. Ada acara perpisahan pegawai. Jadi hari ini aku tidak bisa menemanimu.” Balas Yuri dingin mengakhiri pembicaraannya dengan Aldi.

“Yuk jalan!” Kevin beranjak berdiri mengabaikan kebingungan Yuri.

“Kemana?”

Menatap Yuri malas, Kevin mengarahkan kepalanya kearah jam yang menunjukkan waktu 11.45. “Istirahat, Kunti.”

“Tapi belum jam 12?” Yuri tidak menyangka waktu berjalan secepat ini. Atau dia yang telponan terlalu lama.

Kevin berdecak kesal. “Lo beres-beres tas sama turun kebawah aja udah 10 menit. Belum lagi ditambah pipis dulu!”

“Hehe..iyah. Tungguin yah…gue pipis dulu. Lo traktir ya!” Yuri berbicara sambil berjalan menjauh.

Kevin hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. Sadar jika beberapa pasang mata memperhatikan dirinya dan berusaha mencuri perhatian, Kevin menoleh ke segerombolan gadis plus anak PKL yang berkumpul disatu meja.

Dengan satu kedipan mata, teriakan genit dan gatal menggema keseluruh ruangan membuat seorang pria tua dipojok ruangan menggeram kesal. Untung mau istirahat jadi dia bisa segera keluar.

“Yuk, makin lama lo disini makin berisik ini kantor.” Seru Yuri menarik tangan Kevin.

Dadahan dan ucapan sampai jumpa cantik menambah kebisingan diruangan yang akan mereka tinggalkan. Yuri memutar bola matanya kesal.

“Tiap lo kesini pasti berisik. Kalo gak bertengkar sama Ayu, ya godain cewek-cewek sampe jejeritan gak jelas kayak tadi! Sini kunci mobil lo!”

“Ini namanya memanfaatkan ciptaan Tuhan dengan maksimal atau bahasa kerennya mensyukuri.” Jelas Kevin sambil menyodorkan kunci mobilnya.

Sebenarnya Kevin suka-suka saja men-traktir kuntilanak kesayangannya ini namun dia juga tidak menolak jika Yuri ingin menunjukkan perannya sesekali sebagai ajang balas budi. Contohnya sekarang, jadi supir.

Keduanya masuk kemobil Kevin yang didesain untuk orang pelit seperti dirinya. Hanya cukup untuk dua orang saja. Omelan berderai indah memenuhi mobil saat Yuri menginjak pedal gas agak dalam dan membuat mobil berdecit, belum lagi atraksi rem mendadak. Maklum belum pernah bawa mobil bagus semacam Ferrari.



Aldi memukul stir mobilnya dengan keras saat melihat sosok yang dirindukannya malah masuk ke mobil pria lain dan pergi menjauh.

Memacu mobilnya dengan gila karena takut Yuri marah akan komentar buruknya tadi pada Kevin. Aldi ingin minta maaf dan akan berusaha merayu Yuri kembali. Namun apa yang dia lihat barusan begitu membuat hatinya marah dan sakit.

Dia tahu Yuri berbohong tentang acara makan-makan dikantor. Kebiasaan jika wanita yang amat sangat dicintainya itu berbohong adalah berbicara cepat tanpa intonasi. Seperti robot.

“Brengsek!”

Aldi menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Berusaha menetralisir amarahnya agar tidak melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya nanti.

Dua tahun. Dua tahun waktu yang dia butuhkan untuk bisa mendapatkan maaf dari mantan istrinya. Perlahan mendekati dan memenuhi hari-hari wanita itu tanpa jeda. Berharap membuat wanita itu bergantung lagi padanya. Dan baru dua bulan ini hubungan mereka beranjak lebih jauh. Mereka kembali bisa berpelukan bahkan berciuman. Betapa bahagia hati Aldi saat malam dia dimintai tolong oleh Yuri mengangkat galon air karena kebetulan dia sedang mampir. Bersyukur karena Tuhan menurunkan hujan deras dan membuat padam semua lampu. Yuri yang memang takut gelap tanpa kata ingin jika Aldi tidak pergi. Aldi mengerti dengan keterdiaman wanita itu tiba-tiba. Dengan lancang tangan Aldi menarik mantan istrinya kedalam pelukan. Menenangkan wanita itu. Membisikkan kata-kata penenang dari rasa takut. Tapi setelah lampu menyala Aldi harus rela melepaskan kembali dekapannya pada Yuri karena wanita itu menolak tubuhnya. Apa Yuri masih jijik padanya?

Didalam lamunannya bibir Aldi terukir senyuman. Semenjak malam itu tidak ada lagi rasa canggung dihatinya. Tangannya mulai bisa menyentuh, membelai dan menggenggam mantan istrinya. Dan betapa bahagia saat Yuri membiarkan semua tindakannya.

Mengingat ciuman pertama mereka setelah lama tidak bersentuhan membuat senyumnya semakin merekah. Debaran ini lebih terasa daripada saat mereka berpacaran dulu. Lebih menggoda daripada saat Yuri masih menjadi istrinya. Semakin nikmat saat sadar siapa yang telah menggenggam hatimu begitu utuh. Bahkan wanita tercantik pun kini terlihat samar dimatanya. Hanya cintanya yang nyata. Hanya Yuri.

“Yuri…” nama itu meluncur indah dari sela bibir Aldi.

Tok!

Tok!

Aldi tersentak kaget dan langsung membuka mata saat seorang tukang parkir mengetuk. Aldi menurunkan kaca mobilnya.

“Maaf, Pak! Mengganggu tidurnya tapi dijalur ini tidak boleh parkir.” Sapa ramah pria tua yang mengira jika Aldi sedang tidur.

“Oh maaf, Pak. Saya akan pindah.”

Namun bukan pindah tempat parkir seperti yang dia katakan, Aldi malah meluncurkan mobilnya menjauh, pergi.

.

.

“Ketoprak?”

“Dan gado-gado, jangan lupa.” Sambung Kevin santai sambil mengunyah ketoprak pedasnya.

Jika matanya seperti Cyclop, sudah bisa dipastikan pria didepannya ini musnah seketika.

Bukannya sok atau sombong. Bukannya Yuri tidak suka makan dipinggir jalan. Tapi ini makan dipinggir jalan hanya berjarak satu belokan dari kantornya.

‘Ngapain bawa mobiiiiiilllllll?!’ makinya dalam hati. Ingin sekali Yuri menggigit kepala Kevin sampai putus.

“Kalo tau mau makan disini mending jalan aja! Udah nyari parkir susahnya minta ampun! Diliatin orang-orang karena keluar dari mobil pelit lo itu…” dan bla bla bla.

Yuri masih saja mengomel sambil sesekali menyuapkan gado-gado kemulutnya. Sedangkan pria yang menjadi penyebab kemarahannya malah makan dengan tenang dan nikmat.

Omelan demi omelan walaupun dengan suara tertahan tetap saja meluncur mulus dari bibir kecil Yuri. Tanpa dia tahu jika Kevin sudah tertawa terbahak-bahak didalam hati. Senang sekali membuat Yuri kesal. Lagian bukan salah dia juga kok, kan Yuri yang meminta kunci mobilnya. Padahal niat dari awal dia memang ingin jalan kaki.

Kevin mengambil tisu yang berada didekat tangannya. Perlahan tangan itu terangkat hingga sampai menyentuh sudut bibir Yuri. Sontak wanita itu terdiam dari omelannya.

“Cewek tapi makan kok jorok gini yah..” keluh Kevin masih membersihkan bibir Yuri yang ternyata tak hanya kotor disudut namun sudah merambah kebawah bibirnya.

Yuri terdiam kaku ditempat. Baru kali ini ada sentuhan seintim ini yang terjadi antara Kevin dan dirinya. Napas Yuri semakin tertahan saat dengan santai Kevin mengganti tugas si tisu dengan ibu jarinya. Seolah tersadar Yuri menjauhkan kepalanya dan meraih tisu dimeja. Membersihkan bibirnya sendiri.

“Makasih, biar gue aja.” Ucapnya gugup.

Kevin berdehem, menurunkan tangannya dan kembali melanjutkan makan. Menundukkan kepala sampai poni panjang menutupi wajahnya yang bahkan sudah memerah.

‘Barusan gue ngapain sih!’

01_Janda Labil



Cup…

“Aku duluan yah…”

“Iyah…hati-hati. Jangan ngebut! Love you!

Yuri melambaikan tangannya dan mengirim satu ciuman jauh sebagai balasan cintanya.

Aldi mengusap pipi yang baru ditempeli bibir Yuri. Andai saja…andai saja kejadian dua tahun lalu tidak pernah ada. Andai saja jurang kebodohan itu tidak dia terjuni. Yah…lagi-lagi, andai saja.

Namun sekarang nasi sudah menjadi bubur. Walaupun sudah ditambah ayam dan kerupuk masih belum memuaskan rasa laparnya. Kenikmatan itu terasa kurang.

Kenikmatan saat wanita itu…Yuri, masih menjadi istrinya. Istri sahnya.

Aldi menghirup aroma kopi dan menyerumput cairan hitam itu sedikit. Memejamkan mata mencoba mencari kenikmatan yang dulu selalu memenuhi rongga hatinya.

Ada…rasa itu ada. Namun kurang.

Katakanlah dia egois. Masih ingin memiliki lagi mantan istrinya.

Namun apa daya saat rasa trauma wanita yang dicintainya itu terlalu parah. Dan semua karena dirinya. Karena pengkhianatannya. Karena perselingkuhannya.

Rasanya untuk saat ini dia harus cukup puas. Harus. Walaupun selalu berusaha namun Aldi tidak pernah memaksa Yuri untuk menyambung kembali ikatan itu.

Yuri memang sudah memaafkannya. Dan mungkin sudah melupakan kesalahannya.

Kedua insan yang sama-sama masih belum move on, mungkin mencoba menjalin kasih tanpa ada suatu ikatan.

Tanpa ada label status…hanya tahu jika keduanya masih saling mencintai.

Ingin…bahkan sangat ingin jika Yuri kembali memanggil dirinya suamiku. Namun rasa sakit yang berubah perlahan menjadi trauma bagai tembok penghalang  untuk mereka.

Yuri masih mencintainya. Namun tidak mau lagi terikat padanya.

Dan Aldi harus cukup puas dengan hal itu…saat ini.

Meletakkan cangkirnya perlahan dan beranjak berdiri. Kakinya melangkah pelan keluar dari rumah yang dulu ditempatinya. Mengunci pintu dengan kunci cadangan yang masih dia simpan.

Aldi baru saja duduk dibelakang kemudi saat ponselnya berbunyi. Tahu nada khusus itu dari siapa, Aldi langsung menjawabnya.

“Al, aku udah sampai stasiun, cepat kan? Hahaha!”

Aldi tersenyum dan menghela napas pelan. “Kan udah aku bilang jangan ngebut-ngebut..” tertawa saat suara manis diseberang sana membantah dengan manja. Dengan senang hati Aldi mendengarkan alunan suara indah itu sampai selesai.

“Iyah…besok aku aja yang antar ya!…dan Yuri…Aku mencintaimu!

“…”

“Yuri?”

“Ya, makasih.”

Dan sambungan itu terputus. Tersenyum miris. Lagi-lagi seperti ini. Aldi terlalu besar kepala untuk mendapatkan jawaban yang sama.

Biarlah. Biarlah saat ini hanya dia yang menggila karena cinta. Mungkin ini hukuman untuk kebodohannya dimasa lalu.




Novel Unggulan

01_Janda Labil

Cup… “Aku duluan yah…” “Iyah…hati-hati. Jangan ngebut! Love you! ” Yuri melambaikan tangannya dan mengirim satu ciuman jauh sebagai ...