Senin, 13 Oktober 2025
10_MHB
Suara bel pulang terdengar diseluruh penjuru sekolah. Jiwa-jiwa murid yang seolah sempat terlepas kembali hidup. Suasana pulang sekolah memang selalu lebih meriah dari konser apapun.
Semua anak dengan semangat kemerdekaan membereskan buku dan tas mereka dengan kecepatan super. Tak terkecuali Okta, walau terlihat santai dan malas namun jika diperhatikan gerakan tangannya jauh lebih cepat dan semangat dari murid lain.
Brak!
Semua mata langsung memandang ke pintu dengan kaget. Seolah dejavu, Ryan kembali muncul dikelas mereka. Namun kali ini dia hanya datang sendiri tanpa ditemani dayang-dayangnya. Fokus Okta langsung kembali kebuku dan tasnya, kembali beres-beres namun dia melipat bibir menahan senyum. Dia tahu maksud kedatangan Ryan kali ini.
Perlahan Ryan masuk tanpa melepas matanya kearah Okta. Setelah dekat pria itu langsung membungkukkan badan dan membuat seisi kelas tersentak kaget dan heboh dengan berbagai pertanyaan.
Apa yang terjadi?
Kenapa ketua preman sekolah membungkuk pada Okta?
Apa Okta sebenarnya adalah mafia?
Apa Okta berhasil mengalahkannya kemarin?
Apa Okta dan Ryan berpacaran?
Setelah selesai membereskan tasnya dengan santai Okta berbalik dan berhadapan dengan Ryan yang masih membungkuk.
“Kali ini apa lagi?”
Ryan menggigit bibirnya pelan. Matanya bahkan sudah memanas menahan rasa malu.
“Kak Okta, mohon bimbingannya!” Ryan bersuara keras sampai semua murid dikelas bahkan diluar mendengar perkataannya, tak terkecuali Dash. Dia bahkan mengambil foto dari kejadian fenomenal ini. Sedikit memberi editan dan kirim ke grup keluarga.
‘Kak Okta ditembak’
‘Wah, Selamat!’, Nove adalah pemberi komentar pertama.
Ryan akhirnya kembali berdiri tegak karena Okta tidak mengatakan apapun selain pertanyaan tadi, namun kepalanya masih tetap menunduk. Gengsinya masih terlalu besar untuk melakukan hal ini.
“Kak…”
“Pfftt!”, Okta kembali melipat bibirnya namun gagal. Kenapa pula si ketua preman ini jadi memanggilnya ‘kak’, udah mirip ketua mafia di film China saja.
Ryan mengabaikan tawa tertahan Okta tadi. “Kak, kemarin Kak Okta bilang mau bimbing aku untuk bentuk badan kan? aku mau nagih janji kakak!”
Okta memejamkan mata sambil meringis. Sifat sok pahlawannya kadang suka tiba-tiba muncul dan sekarang dia terjebak kata-katanya sendiri.
‘Sial, kenapa bocah ini ingat!’
Dan kenapa pula bocah gila ini sampai menjemputnya segala, kan Okta bilang ketemuan di lapangan saja walaupun sepertinya dia akan melewatkan karena lupa.
Okta membuang pandangannya kearah lain dan menemukan jika adik gilanya sedang tersenyum puas diluar kelas.
‘Double sial!’
“Oke-oke! Sebagai lelaki sejati gue ga boleh ingkar janji…” Okta melirik kearah Dash yang pura-pura muntah.
“Tapi lebih baik kita pindah. Disini terlalu ramai.” Okta berjalan santai keluar kelas, Ryan langsung mengekori dari belakang.
Saat melewati Dash, Okta sempat-sempatnya menyentil jidat adiknya itu dan langsung kabur sebelum Dash sadar.
Setelah agak jauh Okta berbalik dan mendapati tatapan membunuh Dash sambil menunjuk hapenya. Sambil nyengir pria itu melihat ponselnya dan membaca pesan digrup keluarga.
Ada foto kejadian dikelas tadi dengan caption ‘Kak Okta ditembak’.
“Bangs…”
“Kenapa, Kak!” Ryan bertanya karena melihat Okta mau membanting hapenya.
“Diem lo. Ga usah komen!”, Ryan langsung menutup menutup mulutnya karena Okta memandangnya dengan kesal seolah dia punya dosa. Apa salahnya?
Sesampainya di lapangan olahraga Okta langsung melepas tasnya dan Ryan refleks langsung menangkap agar tas itu tidak jatuh ke tanah. Dengan cepat Ryan meletakkan tas Okta kekursi kayu yang ada didekat mereka.
Okta mulai melakukan peregangan tangan dan kaki. “Ngapain lo berdiri disitu? Ikutin gerakan gue!”
“Sekarang, Kak?”
“Pas Tahun Kabisat! Ya sekaranglah, Once!” Okta yang mood-nya sudah jelek karena Dash semakin kesal karena lemotnya Ryan. Dia yang jemput sekarang malah nanya.
“’Eh, siap, Kak!”
Ryan mengikuti semua gerakan Okta sampai menggaruk hidung pun dia ikuti.
“Sekarang kita lari lima putaran lapangan ini. Pelan aja ga usah buru-buru!”
Ryan melihat luas lapangan bola dengan tatapan horor. “Se…serius, Kak?”
Okta menoleh malas. “Gue pulang nih!”
“Eh…iya, Kak. Siap!”
Dan Okta pun mulai berlari pelan seperti yang biasa dia lakukan tiap pagi sebelum berangkat sekolah. Ini adalah hal yang mudah untuknya tapi tidak untuk Ryan yang jarang berolah raga.
Ryan terlihat sudah hampir mampus diputaran kedua. Rohnya seperti sudah mulai tercabut dari ubun-ubun. Nafasnya bahkan sudah seperti orang kena asma. Walau begitu dia tetap menyeret kakinya mengikuti Okta yang sudah terlihat menjauh. Tekadnya buat jadi ganteng seperti Okta sudah sangat terekam kuat.
Okta berhenti dan berbalik karena terasa sepi seolah dia hanya berlari sendiri.
“Astaga!”
Ryan sudah terkapar lemas dibelakang. Okta langsung meringis merasa bersalah. Sepertinya lima putaran terlalu berlebihan diawal. Dia sudah membuat anak orang pingsan setengah mampus.
Okta berlari kecil kearah Ryan yang sudah sepucat mayat namun masih bisa bergumam,
“Ganteng…ganteng…ganteng…” dengan suara yang hampir hilang.
Okta berdecak sambil menggelengkan kepala. Dengan malas dia menarik tangan dan menahan punggung Ryan, membantu adik kelasnya itu berdiri.
Dengan pelan dipapahnya tubuh gempal Ryan untuk duduk dikursi lapangan. Okta tidak merasa berat sama sekali.
“Nih, minum!”
Dengan tangan bergetar, Ryan mengambil air kemasan dari tangan Okta.
“Lo ga pernah jogging ya? Baru dua setengah putaran udah tepar begini?!”
Ryan tersenyum malu sambil mengusap hidungnya yang sudah berair. “Jarang, Kak. Terakhir dua bulan lalu, sama Papa di Kebon Raya.
“Elah, Kebon Raya? Itu mah piknik bukan olahraga!”
Okta memandang Ryan yang terlihat menyedihkan dengan keringat mengucur seperti air terjun. “Lo masih bisa lanjut, besok-besok?”
“Masih Kak, masih! Jangan stop, ya Kak!” Ryan berdiri namun terduduk kembali karena kakinya masih seperti jelly.
“Ya udah, besok gue buat program khusus buat lo. Serius ya…awas kalo ga!”
“Siap, Sensei!” “Hah?!”
Sabtu, 11 Oktober 2025
09_MHB
“Dimana?”
Pria dengan wajah yang sudah bonyok dan mengeluarkan banyak darah hanya mampu menganggkat telunjuknya kearah pintu kayu berwarna gelap.
“Thanks!”
Dorr!!
Pria itu membuka maskernya karena sudah tidak perlu lagi menyamar, semua musuhnya sudah mati dalam satu ledakan kecil.
Tangannya mengetuk pintu itu beberapa kali dan terdengar suara terkesiap dari dalam. “Buka pintunya, aku datang menyelamatkan kalian!”
Sebenarnya pintu rapuh itu bisa dengan mudah dia dobrak. Namun pria itu tidak mau menimbulkan trauma lagi untuk orang-orang didalam.
“Ayolah, aku cukup lelah hari ini…biar kita selesaikan segera.” Pria itu memijit pangkal hidungnya.
Clek!
Pintu itu terbuka dan langsung terlihat wajah perempuan yang jumlahnya cukup banyak untuk satu kamar berukuran kecil.
Dari belakang pria itu muncul orang-orang berpakaian hitam. “Mereka akan membawa kalian kerumah sakit setelah itu terserah kalian mau apa.”
Pria itu berbalik sambil memainkan ponselnya. Tangannya dengan lincah membalas beberapa pesan masuk. Tak lama suara transferan uang membuat sudut bibirnya terangkat naik.
Memutar ponsel ditangan dia mulai berjalan keluar dari rumah bertingkat yang selama ini dijadikan mafia sebagai tempat penyekapan manusia-manusia yang akan diseludupkan keluar negeri. Human trafficking. Bisa-bisanya rumah sebesar ini dan ditengah kota besar bisa terlewat dari mata polisi.
“Ah lupa kan!” Pria itu turun kembali dan berlari kecil kearah pintu rumah dan menempelkan stiker khasnya. Disampingnya terlihat iring-iringan para perempuan yang dimasukkan kedalam mobil SUV berlogo Intelijen Negara.
“Iya, Ma…ini udah di Stasiun kok, bentar lagi jalan…iya…ok..bye!”
Nove mematikan sambungan telponnya. Matanya memandang ke sekeliling stasiun yang terlihat masih cukup ramai. Nove memilih untuk masuk kereta saat mau berangkat saja, dia tidak kuat dengan dinginnya AC kereta padahal sudah pakai baju dan jaket berlapis.
Matanya menyapu kesekeliling stasiun. Dari jauh dia bisa melihat beberapa petugas stasiun sedang bercanda, mungkin berusaha mengusir rasa kantuk mereka. Sekitar dua puluh menitan Nove menunggu, pemberitahuan jika kereta akan segera diberangkatkan pun terdengar diseluruh stasiun.
Dia pun berdiri dan menyandang ranselnya dibahu. Saat baru mau masuk kereta seseorang menepuk punggungnya dari belakang.
“Dek, boleh minta tolong cariin kursi saya, saya lupa bawa kacamata.” Seorang pria paruh baya memperlihatkan Nove tiket yang sudah dicetak disebuah kertas.
“Oh, bisa pak. Kebetulan gerbong kita sama.”
Wajah bapak itu terlihat lega. “Terima kasih ya, dek!”
Nove pun berjalan sambil mencocokkan nomor yang ada ditiket si bapak dengan nomor kursi. “Nah, disini pak, kursi bapak!”
“Oh iya iya, makasih ya, dek!” bapak itu menepuk bahu Nove dengan pelan.
“Kalau begitu saya cari kursi saya dulu ya, pak! Permisi!” Nove memang memilih letak kursi yang agak mojok agar tidak terganggu saat tidur.
Bapak itu tersenyum sambil memandang penuh arti punggung Nove yang mulai menjauh.
Begitu duduk, Nove langsung memakai hodienya dan mulai mengambil posisi nyaman untuk tidur. Perjalanan cukup jauh dan dia baru akan sampai Jakarta sekitar jam enam pagi jadi lebih baik dia segera istirahat agar besok lebih segar.
Baru saja mulai menutup mata suara pesan masuk terdengar dari ponselnya. Dengan mata tertutup dia merogoh ponselnya dari dalam saku. Dengan malas dia membuka pesan itu,
‘Kak, titip bakpia kukus!’ , ini Dash.
‘Kak wingko!’, Okta.
‘Kak, Mama titip gudeg kaleng selusin ya!’
‘Kak, hati-hati ya…awas copet!’
Nove mengabaikan semua pesan dan hanya membalas ayah tersayangnya yang paling the best. Nove mematikan ponselnya dan kembali tidur setelah menyimpannya disaku jaket.
08_MHB
“Mogok?”
Dash melihat kebelakang dan mendongak karena posisinya saat ini sedang berjongkok. Keningnya menyerngit. Ngapain pangeran ini kesini lagi? apa dia bawa motor juga? Seingat Dash, sendok emas ini selalu diantar jemput dengan mobil mewah.
“Cuma ngecek ban, Kak. Kayaknya kurang angin.” Dash berdiri dan menepuk debu ditangannya.
“Tapi masih bisa dibawa jalan ga, motornya?”
Dash melirik kearah motornya sebentar dan pikiran kotornya mulai beraksi. Masih Ingat kan jika Dash suka dengan wajah tampan. Dan kakak seniornya ini memiliki wajah diatas rata-rata makanya dia disebut pangeran sekolah selain karena tajir tentunya.
“Mm…masih sih kak, tapi harus pelan-pelan karena kurang nyaman dibawa.”
Si pangeran terlihat berfikir dan langsung menyarankan sesuatu yang sama dengan harapan Dash saat ini.
“Mau aku anterin ga? Aku juga lagi bawa motor…tuh!”
Dash melihat motor sport berwarna hitam tidak jauh dari mereka. Seketika air liurnya hampir menetes. Apa Papa gantengnya mau beliin ya jika dia minta.
“Ga usah repot-repot, kak. Saya bisa naik Tj kok. Eh…tapi bawa e-money ga ya?” Dash pura-pura mengecek tasnya, dan menemukan dua e-money disana.
“Waduh ga ada!” Dash terlihat mengacak-acak lagi tasnya.
Si pangeran tersenyum maklum. “Udah ikut aku aja, yuk! Nanti kamu arahin aja, ok! Ngomong-ngomong kita belum kenalan ya? Terakhir kurang nyaman kenalannya.”
Ya iyalah orang kenalan sambil ngebuli, gimana mau nyaman, Bang!
“Oh iya kak, kenalin saya Desember…panggil aja Dash, kayak yang lain!”
“Wah! Nama kamu unik banget ya, pasti lahirnya bulan Desember?”
“Ya iyalah, Kak. Masa bulan Agustus, yang ada nama saya jadi Dirgahayu!”
Pangeran terkekeh dan suaranya bikin kuping Dash terasa seperti dibelai. “Kamu lucu juga ya, kenalin saya Mario, panggil aja Rio.”
Dash tersenyum canggung. “Iya kak udah tau. Kakak kan terkenal di sekolah kita.”
“Sebenarnya kamu juga terkenal lho, Dash!” Mario mengedipkan sebelah matanya ke Dash.
“Iya karena nama saya kan?” tebak Dash maklum.
Kepala Mario menggeleng tidak setuju. “Bukan cuma karena itu tapi kamu salah satu junior incaran kakak kelas, lho!”
“Ah yang bo’ong, Kak?!”
Mario lagi-lagi dibuat tertawa oleh Dash. “Iya bener, masa aku bohong. Udah yuk jalan, takut hujan udah gelap gini.”
Dan memang benar, langit sudah mulai menggelap padahal ini masih jam tiga sore. Tuh kan, mana ada hubungan bulan sama musim hujan, ini aja bulan Mei.
“Numpang ya, Kak!” basa-basi Dash sambil mendudukkan pantatnya diboncengan motor.
“Hm, pegangan, ntar jatuh!” Mario menarik satu tangan Dash untuk memeluk pinggangnya. Dan agar adil dan tidak ada kecemburuan, tangan Dash yang lain pun ikut memeluk pinggang Mario. Modus terlaksana dengan baik.
Motor Mario berjalan mengikuti arahan Dash. Seru juga nyuruh-nyuruh orang seperti ini. Rumah Dash ditempuh hanya dalam setengah jam. Sebenarnya dari jarak, rumah Dash cukup jauh namun Mario membawa motornya dengan kecepatan yang bisa membuat wig bencong copot seketika.
Mereka sampai bertepatan dengan gerimis yang mulai turun setitik demi setitik.
“Mau mampir dulu ga kak? Takut tiba-tiba deras.” Dash menengadahkan telapak tangannya keatas sambil melihat kelangit.
Mario juga ikut melihat keatas, dia membuka tutup helmnya. “Aman, aku bawa jas hujan kok dalam tas.”
“Yang kayak kresek?” Dash penasaran, tas Mario terlihat cukup kecil. Buku sekolah aja udah banyak.
“Hahaha! Bukan…adalah pokoknya. Udah kamu masuk sana, ntar sakit kena hujan!”
“Okey, makasih ya kak tumpangannya!” Dash tersenyum dan berbalik berjalan kearah pagar rumahnya. Sekali lagi dia berbalik kearah Mario dan melambaikan tangan. Mario membalas dengan mengangkat satu tangan, senyumnya terukir dibalik helm.
Setelah melihat Dash masuk, Mario langsung menyalakan mesin motornya dan berjalan perlahan menembus gerimis.
Begitu masuk rumah, Okta langsung melambaikan tangan mengikuti gerakan Dash diluar tadi. Bibirnya sudah tersenyum lebar penuh arti.
“Ga usah cari masalah, deh! Baru pulang nih!” Dash melepas sepatunya dan ingin melemparkan kearah Okta namun mamanya tiba-tiba datang.
“Tadi diantar siapa, dek?”
Dash menggigit bibirnya. Jika mamanya tau sudah pasti papanya juga. Benarkan, sekarang terlihat papanya mendekati mereka dengan senyum yang sama seperti Okta. Karena tadi tidak membuka helm maka kedua orangtuanya tidak bisa melihat wajah Mario tapi Okta pasti tahu motor besar hitam itu punya siapa.
“Yang anter Dash itu si…”
Bug!
Sepatu Dash tepat mendarat dimuka Okta, da meninggalkan bekas hitam saat sepatu itu jatuh.
“Akh…sakiiit! Sialan, Dash!”
“Makanya ga usah lemes, dari kemaren mulut kayak ember bocor ya!”
Karena sudah biasa Tomi dan Kirana mengabaikan interaksi akrab kedua saudara itu dan memilih berjalan kearah dapur. Mendung-mendung gini perut pasti lapar, jadi Kirana berniat membuat roti bakar untuk keluarganya, dan Tomi selalu setia membantu sang istri.
“Oh iya, Kak Nove dimana, Ma. Kok belum keliatan?” Okta bertanya sambil mengusap-usap hidungnya yang masih ngilu.
“Lagi ada tugas keluar kota. Besok pagi juga pulang, tapi langsung ke kampus katanya.” “Ooh!”
07_MHB
Nove melihat-lihat brosur ditangannya. Alisnya berkerut seperti berusaha mengingat sesuatu. Kemarin apa yah pilihan’nya’? Kenapa dia lupa.
“Ah, iya itu. Kenapa bisa lupa!”
Nove langsung mengambil brosur yang benar dan mulai menuliskan data diri. Saat ini Nove sedang memilih UKM yang cocok dengan minatnya. Dan tentunya dia tidak boleh salah pilih.
“Noveeeee! Lagi ngapain?”
Rombongan gadis-gadis langsung mendekatinya yang sedang duduk sendiri dibawah pohon rindang. Nove memejamkan matanya, kepalanya menengadah ke langit. Tidak bisakah gadis-gadis ini memberikannya waktu istirahat.
Nove memasang senyum karirnya, “Lagi isi brosur UKM.”
“Lho emang ga dapat link g-form nya?” salah satu gadis duduk disebelah Nove. Rapat tanpa sela.
Nove menggeser duduknya sedikit. “Ga, kak. Kelewat mungkin.”
Mata Nove menemukan sosok gadis yang berjalan masuk ke gedung kampus dan dibelakangnya seorang pria berjalan cepat seperti sedang mengejar.
“Kak, saya permisi dulu ya, mau ngantar brosur!”
Nove langsung bergerak cepat mengabaikan suara protes dibelakangnya. Dia sedikit berbalik untuk melempar senyum manis guna menjaga popularitas. Akibatnya suara teriakan histeris memenuhi taman kampus siang itu.
Nove berlari kecil mengikuti arah kemana dua orang yang dia amati tadi pergi. Nove bisa menebak pasti mereka saat ini sedang berada ditempat yang sepi dan jarang dilewati orang. Jika didekat sini maka gudang penyimpanan UKM volley adalah jawabannya. Nove berjalan santai dan tersenyum puas saat mendengar suara berbisik dibalik tembok. Dugaannya tepat.
“Lo tunangan gue, Mel. Jadi gue berhak nikmatin tubuh lo sekarang!”
Nove memilih untuk sedikit memanjat keatas agar bisa menyaksikan drama pertengkarang kekasih ini dari atas. Mirip-mirip tiket VIP lah.
Sesampainya disatu balkon tak terpakai dan lumayan berdebu, Nove bersender dan melihat kebawah. Dari atas dia dapat melihat jelas dua kepala manusia yang sedang berdebat.
Yang laki-laki seperti sedang menahan mupengnya dan yang perempuan sudah mau menangis karena ketakutan.
“Jangan Al. aku ga mau kalau belum ada ikatan pernikahan…hiks..”
PLAK!
Nove kembali meringis. Kenapa adegannya diulang lagi. Wah, penonton kecewa nih.
Pria yang dipanggil Al itu kembali menampar tunangannya. Namun kali ini sepertinya ada sedikit perlawanan, perempuan itu mendorong tubuhnya dengan keras sampai si pria mundur beberapa langkah. Dalam hati Nove bertepuk tangan, akhirnya drama ini ada kemajuan.
“Jangan sakiti aku lagi, Al…atau aku akan mengadukanmu pada…”
“Ayahmu?” pria itu memotong dan tertawa keras.
“Dia bahkan tidak perduli padamu, Melani. Dia hanya ingin menambah keuntungan dengan menjodohkan kita. Kamu itu cuma anak haram yang dijadikan tumbal, dan ayahmu bahkan tau jika nantinya kamu bukan jadi istriku satu-satunya!”
Gadis yang terisak itu sepertinya tidak terkejut lagi. Seolah sudah tahu dimana posisinya dalam keluarga. Yah, benar apa kata tunangannya. Dia sudah dijual ayahnya sendiri kepada pria ini dan tidak punya hak untuk menolak.
Al kembali mendekati Melani dengan seringai diwajahnya. “Sudahlah terima saja nasibmu dan kita bisa bersenang-senang.”
Tangan pria itu ingin kembali merengkuh pinggang Melani dalam pelukannya. Kenyataan tentang perlakuan ayahnya sudah membuat mental Melani yang berusaha dia bangun pun hancur kembali dalam hitungan detik. Gadis itu kini sudah pasrah.
“Heh bang, emang modelan kayak lo bisa bikin cewek senang?”
Kedua kepala itu sama-sama tersentak dan langsung melihat keatas. Seringai Nove semakin melebar saat melihat ekspresi yang berbeda dibawahnya. Melani terlihat kaget dan Al…marah, mungkin?
“Siapa lo? Oh! Gue tau…lo ‘idol-idol’-an dikampus ini kan? cewek-cewek gue sibuk banget bahas lo!”
Al mengatakan dengan santai jika dia memiliki wanita lain tanpa mau repot memikirkan perasaan Melani.
Nove langsung melompat kebawah karena memang jaraknya tidak terlalu jauh. Kini dia berdiri didepan kedua pasang kekasih itu.
“Mending sekarang lo pergi, dan anggap aja ga liat apa-apa, maka kehidupan kuliah lo bakal aman.” Al sok bijak memberikan ceramah singkat.
Mendengar itu Nove malah terkekeh dan membuat Al menyerngit tidak suka. “Tadinya mau gitu tapi…kok gue ga sreg ya liat ada cowok berani mukul cewek.” mata Nove mengunci mata Melani yang memerah menahan tangis.
Al terkekeh pelan. “Lo mau jadi pahlawan kesiangan, perempuan ini cewek gue jadi mending lo ga usah ikut campur dan pe…”
“Bacot!” Nove mengorek kupingnya santai.
Rahang Al mengeras. Dengan cepat dia mendekati Nove namun tangannya ditahan Melani. “Al udah jangan, aku ikut kamu kali ini, ya! Nove kamu balik aja kedalam ya?”
Tangan Melani ditepi kasar dan Al,
Brak!
Mondorong tubuh kecilnya sampai tersungkur ketanah dan menabrak tumpukan kardus bekas.
Kepalan tangan Nove mengeras, namun ini belum saatnya…sabar.
Melihat Melani kesakitan, Al berdecak kasar dan menendang sebuah kerikil kearah Melani, untung saja batu kecil itu terlempar kearah yang berbeda.
“Awas lo ya!”
Al pergi dari sana dengan tumpukan kesal kepada dua orang dibelakangnya.
Nove mendekati Melani dan berusaha membantu gadis itu berdiri namun tangannya ditepis.
“Ga usah ikut campur! Bantuanmu ga dibutuhin!”
Melani mengibas dan membersihkan debu kotor dicelananya, mengabaikan kehadiran Nove.
Nove tertawa geli dan membuat kening Melani menyerngit bingung.
“Kamu ga usah khawatirin aku, si Al Al itu ga akan menang lawan aku, okey!”
Melani terlihat gelagapan, “Aku ga…”
“Hust…udah aku antarin kamu ke klinik kampus, kakimu berdarah tuh!”
Melani melihat ke celana bagian betisnya yang sudah memerah. Sejak kapan dia terluka.
“Ga perlu, aku bis..”
Nove menggeleng pelan. “Ga percaya. Ya ada kamu bakal cuci lukanya doang dan tetap kuliah seperti ga ada luka sama sekali. Kamu milih aku antar atau aku gendong?”
Wajah Melani memerah malu. “Diantar aja!” Dan mereka berjalan beriringan dengan Nove yang terus tersenyum lebar.
06_MHB
“Dikelas ini yang namanya Oktober siapa? Keluar lo!”
Okta mendongak dari buku yang dibacanya. Tangannya menaikkan kacamata untuk memperjelas siapa yang memanggil barusan.
Semua mata murid langsung mengarah padanya namun mulut mereka terkunci seolah tidak berani ikut campur. Berharap jika Okta akan mengaku sendiri tanpa harus mereka beritahu.
“Gue. Kenapa?” Okta berdiri dari duduknya.
“Sini lo!” murid bertubuh agak gempal mengacakkan pinggangnya didepan pintu kelas.
Okta tidak bergerak sama sekali. Wajahnya bahkan tetap datar tanpa ada rasa takut padahal yang memanggilnya adalah gerombolan kelas dua yang terkenal preman.
“Kan yang ada urusan ke gue kalian, yah kalian lah yang masuk sini.” Jawaban santai Okta bagai menyiram bensin dalam kobaran api.
‘Menyala Okta-ku!’ jeritan hati teman sekelasnya seakan terdengar jelas.
“Heh! Berani lo ya, ga tau lo gue siapa?!” muka sigempal memerah. Dengan menghentak kaki dia berjalan mendekati Okta dan berdiri tegak dihadapan Okta. Mukanya semakin merah karena emosi saat melihat bibir Okta tertarik keatas.
“Napa lo senyum-senyum? Dah gila?!”
Okta berdehem. “Ga. Gue kira lo tinggi…ternyata…”
“Lo…lo…” Muka sigempal makin memerah. Emosinya semakin menjadi saat suara tawa tertahan terdengar samar disekelilingnya. Sial! Memang dia minta dilahirkan pendek!
“Tarik dia!”
Satu perintah itu membuat tubuh Okta ditarik paksa keluar kelas oleh anak buah sigempal. Okta yang memang malas berdebat hanya pasrah saat diseret keluar. Tepatnya dia hanya berjalan biasa dan yang memeganginya ikut terbawa.
Mereka membawa Okta ke tanah kosong dibelakang sekolah. Tempat itu memang mereka jadikan basecamp untuk nongkrong, merokok atau membuli siswa lain dan para guru tidak ada yang berani menegur.
Sesampainya disana, anak buah sigempal langsung berdiri dibelakang ketuanya. Berusaha mengintimidasi korban seperti biasa.
“Lo tau kenapa diseret kesini!”
Okta menggaruk kepalanya dengan gerakan malas. Tingkahnya membuat sigempal menyerngit kesal dan mulai bermain fisik. Dengan langkah cepat dia mendekati dan menarik kerah baju Okta dengan kasar sampai kancing teratasnya copot.
“Lo tau siapa gue! Berani lo bertingkah kayak gini, hah!”
Okta membiarkan saja kerah bajunya ditarik dan memandang kearah sigempal yang ada dibawah dagunya. “Dari tadi lo nanya mulu. Mending langsung aja ngomong lo siapa dan kenapa bawa gue kesini, selesai kan?”
Rahang sigempal mengeras dan tinjuannya langsung menghantam wajah samping Okta dengan keras.
Bug!
Anak buahnya langsung bersorak heboh saat ketua mereka mulai beraksi. Hal ini sangat jarang terjadi karena biasanya sigempal hanya menonton saja saat anak buahnya membuli siswa lain.
Namun mata sigempal langsung melotot dan sorakan langsung berubah hening.
Kepala Okta sama sekali tidak bergeser seinchi pun dari posisi awalnya. Tubuhnya juga tetap berdiri tegak bagai gapura kecamatan. Hanya kacamatanya saja yang sudah pecah dan terlempar ke tanah.
Cengkeraman sigempal dikerah baju Okta pun perlahan terlepas. Sigempal sepertinya cukup sadar jika sosok didepannya ini bukan orang biasa dan tidak mudah dibuli.
Okta berjongkok mengambil kacamatanya yang terlihat menyedihkan.
“Bakal kena omel lagi, deh…” Okta menggerutu sambil membersihkan sisa-sisa tanah dikacamatanya.
“Lo..lo…kenapa..” sigempal terlihat mundur selangkah.
Okta menghela nafas malas. Dia berdiri dan berjalan mendekati sigempal. Setiap langkah Okta mendekat, sigempal sebenarnya ingin mundur namun terlalu malu dan gengsi dengan anak buahnya dibelakang. Bisa hancur harga dirinya. Namun jangan salahkan dia, sosok Okta saat ini seperti predator yang sudah kenyang dan hanya ingin bermain dengan mangsanya.
Okta berdiri diam mengamati sigempal dari atas sampai bawah.
“Nama lo Ryan, kelas duabelas. Dan lo adalah ketua geng berandalan disekolah ini yang suka membuli murid lain dan alasan lo bawa gue kesini karena kesel cewek incaran lo nembak gue, kan?”
Kepalan Ryan terlihat memutih karena menahan rasa marah. Mulutnya bungkam mendengar perkataan Okta. Benar. Dia marah karena Okta sudah menarik perhatian cewek incarannya.
Perlahan tubuh Okta membungkuk dan berbisik tepat ditelinga Ryan. “Bukan salah dia pilih gue tapi salahkan lo yang diam saja tanpa bisa berbuat apa-apa…”
Okta langsung bereaksi mundur saat tinjuan cepat Ryan mengarah kepadanya. Kali ini dia menghindar, cukup tadi saja dia bersedia jadi samsak dadakan.
“DIAM LO! TAU APA LO, BRENGSEK!”
“Bos…”
“Pergi kalian!”
“Tapi bos, kit…”
“PERGI!”
Dan bentakan Ryan langsung membungkam anak buahnya. Semua langsung bubar dan mulai berpencar pergi ke kelasnya masing-masing. Kini tinggal Ryan dan Okta saja yang masih disana.
Okta menatap datar sosok Ryan dan tertunduk. Geraman terdengar samar dari mulut bocah gempal itu. Memutar bola matanya malas, Okta mulai bicara sambil meneliti kerusakan pada kacamatanya.
“Ini hadiah nyokap gue, tau!”
“…”
Melihat tidak ada reaksi, Okta menghela nafas pelan. “Bentuk badan lo di gym. Lemak lo dah cukup buat bodybuilding. Muka lo juga ga jelek-jelek amat.”
Ryan mendongak mendengar perkataan Okta. Matanya bahkan sudah memerah.
“Lo marah trus sama orang tanpa usaha bagusin penampilan lo…itu namanya kalo ga pemalas ya pengecut!”
“Gue ga pengecut! Mereka..mereka…”
“Mereka yang ga tau kalo lo ga seburuk itu. Cuma salah lo sendiri yang ga mau usaha buat kasih tau mereka.”
Perkataan Okta membungkam Ryan.
Yah. Sebenarnya selama ini Ryan membuli siswa lain yang diam-diam selalu mengejek penampilannya yang gendut. Dan semakin menjadi saat semua murid perempuan menatapnya dengan pandangan jijik seolah dia adalah seekor babi gemuk yang menyedihkan. Padahal ayah dan ibunya selalu menyayanginya, kenapa orang lain tidak bisa seperti mereka.
Namun hari ini Okta seolah tahu kegelisahaannya dan membuka pintu rasa minder pada dirinya.
“Besok pulang sekolah gue tunggu dilapangan olah raga. Itu juga kalo lo mau berubah…” Okta berbalik dan berjalan menjauh dari Ryan yang masih membisu.
05_MHB
“Ini misinya!”
Terdengar suara dengusan mengejek dari pria yang sedang memainkan pisau ditangannya.
“Akhirnya!”
Ada tangan yang mengambil salah satu foto yang diletakkan diatas meja. Matanya memandang sosok itu dengan dingin. “Ini targetnya?”
Sosok lain ikut menoleh kearah foto-foto tersebut dan seringainya tercipta. “Target locked.”
“Mulai dekati mereka. Kita tidak diberi waktu banyak. Hanya sebulan sampai pesta itu berlangsung. Kalian harus cepat!”
“Aye Aye, Captain!”
Dash merasa bulu kuduknya merinding. Dia mengusap pelan leher belakangnya. Dia menutup gorden jendelanya. Kenapa malam ini terasa sangat dingin dan lebih gelap dari biasanya.
Tok!
Tok!
Tok!
Dash tersentak dan berjalan cepat kearah pintu. Begitu terbuka senyum manis Mama-nya menyambut.
“Masuk, Ma…”
Kirana masuk dan langsung mendudukkan dirinya dikasur Dash. “Kamarmu ini ga ada cewek-ceweknya sama sekali ya? Minimal ada poster idol-idol korea gitulah, dek!”
Dash terkekeh geli. “Kayak Mama Feminim aja?”
“Gimana hari pertama sekolah? Seru? Ada cowok ganteng ga? Anak basket atau ketos?”
Dash berdecak, “Emangnya dikomik, yang ada ketos disekolahku anak kutu buku, potongan rambutnya juga aneh kayak mangkok bubur!”
Kirana tertawa, “Main fisik dia?! Hahaha!”
“Kan Mama yang mancing!”
Kirana semakin tertawa melihat wajah putrinya yang semakin kusut. Senang sekali dia menjahili anak-anaknya.
“Tadi kata Okta kamu hampir dibuli pas pulang?”
Dash memutar bola matanya malas, ember bocor sekali kakak keduanya itu.
“Kayak aku bakal diem aja kalo dibuli!”
Kirana mendesah pelan. “Itulah yang Mama khawatirkan, kamu balas dan bakal dapat hukuman dari sekolah. Tapi kalo ngebalas doang sih kayaknya ga apa-apa sih, asal jangan kamu yang mulai aja. Paling ga satu balas satu biarpun kamu balasnya pakai tenaga dobel, hehehe!”
Dash menatap mamanya tidak terima. Mak, kekuatanku juga dari kamu yah!
“Ma, aku kuat gini juga asalnya dari Mama sama Papa, Ya”.
“Ma…” Kepala Nove terlihat mengintip dari balik pintu.
“Dipanggil Papa keruang kerja, kangen katanya…”
“Oh ok!” Kirana langsung bergerak cepat turun dari kasur Dash dan berlari kecil mendekati Nove. Nove hanya memasang wajah meledek, geli dengan kemesraan orangtuanya ini.
Dash memandangi kakak pertamanya yang selalu terlihat bercahaya, padahal belum mandi. Apa kakaknya itu menyalakan senter dipunggungnya. Jika dibandingkan dengan si pangeran sekolah yang sok kegantengan itu mana bisa menang dari kakaknya.
“Kak, pindah ke sekolahku aja yuk?”
“Hah?!”
“Oh iya Dash, tadi kata Okta kamu dibuli ya?”
“Oh My!!” Apa kakak keduanya itu tadi habis orasi kalau dia tadi hampir dibuli.
Nove tertawa geli. “Jangan ditonjok ya, Dash! Kasian anak orang…Hahaha!” Nove terbirit saat tangan Dash sudah mau melempar bantal kearahnya. “Gila!”
04_MHB
Nove menyugar rambutnya yang setengah basah karena habis mencuci muka. Segarnya air membuat rasa kantuknya sedikit berkurang. Dia mengamati wajahnya dari pantulan cermin. Syukurlah dirinya diberkahi dengan wajah yang cukup mengguncang kewarasan perempuan. Walaupun diawal namanya selalu jadi bahan ledekan namun detik berikutnya mereka malah terpana dengan penampilannya. Bahkan hari ini Nove hanya menghitung sampai tiga sebelum ledekan itu berganti dengan seruan fans dadakan.
Setelah merasa cukup Nove keluar dari
dalam toilet. Berhubung hari ini adalah hari pertama maka para mahasiswa baru
diperbolehkan untuk berkeliling kampus dan melakukan pengamatan mandiri.
Sebenarnya dia tidak tahu harus
memulai dari mana jadi dia hanya mengikuti instingnya saja kemana kakinya
melangkah. Nove terus berjalan mengikuti jalan setapak yang mengarah ke gedung
fakultas sebelah.
Bruk!
“Aaw!”
Nove tersentak dan langsung
bersembunyi dibalik tembok saat mendengar suara seorang perempuan. Kepalanya
perlahan bergerak dan mencoba mengintip.
“Aahh…jangan, Al! Jangaan..”
Terlihat seorang perempuan yang
Nove tebak adalah mahasiswa disini sedang dicumbu paksa oleh pacaranya atau?
“Hentikan…”
Plak!
Nove menutup mulutnya dengan
tangan. Wah! Pasti sakit banget. Mana pakai tenaga cowok lagi.
Gadis yang ditampar tadi tersungkur
ke rumput dengan rambutnya yang sudah berantakan. Terdengar suara isakan.
“Lo jangan besar kepala ya! Banyak
cewek yang ngantri buat jadi pacar gue…cuih!” pria itu pergi melenggang tanpa
beban seolah barusan dia tidak habis menampar seorang perempuan.
Perempuan itu berdiri dengan
limbung. Perlahan tangannya menepuk bagian roknya yang kotor dan mulai
merapikan rambutnya seolah-oleh tidak ada hal buruk yang baru terjadi padanya.
Terlihat seperti hal yang biasa dia lalui setiap hari.
Merasa tidak ada hal menarik
lainnya yang akan terjadi, Nove mengedikkan bahu dan mulai melangkah dengan
santai. Toh! Kejadian tadi bukan urusannya.
“Kok lapar ya?” Nove melihat jam
dan meringis, pantas saja sudah mau jam dua belas ternyata. Dia pun mulai
berjalan mencari letak kantin kampus ada dimana.
Lama mencari akhirnya Nove
menemukan tempat yang paling ramai selain tempat ibadah di jam-jam seperti ini.
Kantin.
Nove pun berjalan cepat karena
perutnya yang tadi hanya memetik gitar sekarang sudah mulai menabuh drum.
Sesampainya di pintu kantin, polusi suara mulai memenuhi kupingnya. Banyak
sekali mahasiswa yang makan disini. Sepertinya hanya ini tempat untuk makan
atau karena harganya yang murah meriah mengenyangkan.
“Novembeeeerrrr!”
Nove memejamkan matanya malas.
Entah kenapa dia sangat tidak suka jika ada orang sok akrab memanggil nama
lengkapnya. Kenapa dia sampai lupa pakai masker tadi.
Seorang gadis berlari kearahnya.
Dengan riang menggandeng dan menarik tangannya entah mau dibawa kemana. Nove
pasrah, apalagi yang narik gadis yang manis. Rejeki jangan ditolak kan?
Nove ingat, gadis ini ada saat
perkenalan tadi. Kalau tidak salah senior dua tingkat diatasnya. Gadis ini
adalah salah satu yang berteriak histeris setelah melihat wajahnya diperkenalan
tadi. Dengan malas-malas Nove mengikuti kemana arah tubuhnya dibawa. Lumayan
pikirnya bisa dapat meja ditempat seramai ini.
“Duduk sini, ya! Ini temen-temenku,
kenalan yuks!”
Mata Nove terkunci kearah depan.
Bukannya ini gadis yang ditampar tadi. Nove sedikit memiringkan pandangannya
kearah pipi gadis yang menunduk itu. Sudah tidak memerah seperti tadi, walau
masih sedikit terlihat dibalik tumpukan bedaknya.
“Girls! ini Nove…Maba yang tadi gue
ceritain!”
Ada sekitar lima atau enam orang
yang ada dimeja panjang itu. Entah yang lainnya termasuk kelompok mereka atau
hanya berbagi meja.
Beberapa pasang mata sudah menempel
pada Nove sejak kedatangannya tadi. Tidak usah diberitahu pun mereka sudah
sangat ingin berkenalan dengan cowok seganteng ini.
“Hai…Nove! Kamu suka cewek lebih
tua, ga?”
“Halo adek ganteng, sama kakak yuk,
duduk sini!”
“Hai…Nove!”
“Hai ganteng!”
“…”
Fokus Nove malah ke gadis yang
masih makan dengan tenang dan tidak bersuara sama sekali. Apa mereka bukan
teman?
“Mel, ini Nove, liat dong! lu makan
mulu deh!” gadis yang menarik Nove tadi terlihat tidak puas saat ada yang
kurang tertarik dengan pertunjukannya.
Gadis yang dipanggil itu pun
mendongak. Mata mereka saling beradu pandang.
“Hai, Nove!”
Dan gadis itu kembali menunduk
karena makanannya terlihat lebih menarik daripada cowok tampan didepan. Sudut
bibir Nove sedikit terangkat. Menarik. Dia suka dengan tipe cewek cuek dingin
seperti ini. Kalau sudah dekat biasanya jadi lebih buas.
“Ck! Makan truss, Mel…makaaaan!”
lagi-lagi gadis yang menarik Nove kecewa namun pasrah dengan reaksi temannya.
Sepertinya sudah biasa.
“Nove, duduk yuk. Kamu pasti udah
lapar. Ini ada lebihan burger, mau ga?”
“Ga ada yang punya?” Nove
basa-basi.
“Enggak, kayak aku. Kalo kamu mau
makan aku juga boleh…hahaha!”
Nove tertawa pelan sambil
menggelengkan kepala. Tingkah biasanya barusan malah terlihat sangat indah
dimata gadis-gadis itu. Bahkan ada yang hampir terpekik kalau tidak segera
menutup mulutnya.
Nove kembali melirik kearah depan
dan mata mereka kembali bertemu. Sepertinya pesona Nove tidak bisa ditahan oleh
siapapun.
Pria itu menerima burger yang
dberikan padanya sambil tersenyum manis.
“Makasih!”
“AAHHH!”, Dan kali ini teriakan tidak dapat ditahan.
03_MHB
Haruskah dia memutar jalan?
Tapi ini kan jalan umum, kenapa harus dia yang mengalah.
Dash benar-benar ingin segera pulang karena fisik dan batinnya sudah sangat lelah. Yah, lelah karena menerima ledekan dari segala penjuru. Dan lagi-lagi karena nama sialan yang diberikan kedua orangtuanya. Untung sayang, kalo tidak sudah jadi dendeng si Pak Tomi dan Bu Kirana itu.
Dash menghela nafasnya malas dan mulai berjalan mendekati kerumunan murid-murid populer. Apa tidak ada tempat lain buat mereka kumpul-kumpul, kenapa pula harus diparkiran motor. Dan sialnya si pangeran duduk tepat diatas motornya.
“Ehm, permisi, Kak. Saya mau pulang.”
Semua kepala langsung menoleh kearah sumber suara.
“Eehh….siapa iniiii?! Kayak kenal…si akhir tahun ya? Hahaha!”, satu murid perempuan mengenali Dash.
“Akhir tahun?” suara merdu si pangeran sekolah membuat kuping Dash meleleh. Oh, dia sangat suka cowok tampan dan ganteng. Hitung-hitung cara mensyukuri ciptaan Tuhan.
“Hehehe…namanya bikin pengen beli terompet tahun baru!” sambung murid laki-laki disebelah si pangeran.
Dash hanya bisa mengumpat dalam hati. Sepertinya ledekan namanya akan terus berlanjut sampai…, Dash melihat jamnya namun gerakannya malah disalahartikan oleh kumpulan anak-anak populer itu.
“Heh! Sopan lo sama senior!” seorang murid lain menepis tangan Dash.
Dash memejamkan matanya dan menghitung mulai dari satu. “Saya cuma mau pulang, Kak. Dan…” Dash mengarahkan telapak tangannya kearah motor. “Kakak senior sedang duduk diatasnya.”
Si pangeran terlihat kaget dan langsung berdiri. “Oh, maaf ini motormu yah? Sorry…sorry!”
Dash menganggukan kepala sekilas sebagai bentuk terima kasih. Tangannya baru akan memasukkan kunci saat kunci itu dirampas dari tangannya.
“Kak!” Dash benar-benar kesal sekarang.
“Kenapa?” murid perempuan yang tadi menepis tangannya memainkan kunci motor Dash dengan cara diputar-putar diatas kepala. “Heh! Cewek mendung…ambil sendiri gih!”
Dash memandang si pangeran sekilas yang sepertinya menikmati pertunjukan ini. Apa daritadi laki-laki itu hanya berpura-pura baik padahal otaknya sama jahat dengan teman-temannya.
“Kak, tolong balikin, saya cuma mau pulang.”
“Lo budeg apa kuping lo kemasukan air hujan? Kan tadi gue suruh lo ambil sendiri!” kali ini kunci motor Dash dilempar tangkap kesana kemari dan Dash bersumpah melihat seringai disudut bibir pangeran itu.
“Huh!” Dash menghembuskan nafasnya dengan sekali buang. Salahkan mereka yang memancing kekesalan Dash. Tinju Dash baru akan terbentuk saat sebuah suara memanggil namanya.
“Dash!”
Dash menoleh kebelakang dan melihat Okta berjalan mendekat dengan menenteng helm full face-nya. “Motor lo mana? Gue nebeng…lho! Rame-rame apa neh?”
Okta yang sebenarnya sadar apa yang terjadi memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Ya kali mereka mau bully adiknya.
“Kak Okta?” bisa-bisanya Dash lupa kalau dia satu sekolah dengan kakak keduanya ini.
“Eh, lo anak baru tadi kan?” seorang murid perempuan berlari kecil mendekat kearah Okta dan langsung menggandeng tangannya.
“Eh, lo ganteng banget sih. Ga kalah sama pangeran sekolah kita. Lo mau jadi pacar gue, ga?
Dash memutar bola matanya. Tadi aja galaknya macam nenek lampir, sekarang sok menye-menye. Dasar cewek pick me.
Okta berusaha melepas rangkulan gadis itu ditangannya namun erat sekali seperti ditempel lem pipa. “Gue ga minat! Udah sana!”
“Ih! Dingin banget sih, kayak namanya…Oktober, lucu banget!”
Dash ingin muntah saja sekarang. Giliran namanya dibilang mendung, sedangkan nama kakaknya dibilang lucu. Apa kabar kakak pertamanya yang mukanya mirip member boyband kpop. Benar-benar tidak adil.
Okta mengabaikan gadis yang dimata Dash seperti monyet gelantungan ditangan kakaknya. “Yuk pulang!”
“Lho, kalian…”
“Dia adek gue, masalah?” Okta menantang si pangeran tepat dimatanya.
Pangeran sekolah melemparkan senyum termanisnya kearah Dash dan mengangkat tangannya menyerah kearah Okta, kemudian berjalan mundur menjaga jarak aman. Entah kenapa dua saudara ini membuatnya tertarik. Tanpa menunggu Dash langsung naik keboncengan setelah Okta menyalakan mesin motornya. Sekali lagi dia melirik kearah pangeran sekolah yang terus melemparkan senyum padanya. Apa tidak pegal pipi siganteng itu senyum terus.
02_MHB
Nove memasukkan bulatan cilok terakhirnya kemulut dan membuang bungkusnya ke tempat sampah. Tangannya merapikan ujung lipatan baju agar telihat lebih rapi. Dengan cepat dia masuk kegerbang kampus dan mendapati jika para seniornya sudah menunggu menyambut para mahasiswa baru. Nove berusaha mengatur nafasnya, bersiap jika kejadian setiap dia masuk sekolah baru akan terulang kembali. Dia selalu membenci momen ini karena selalu ampuh membuatnya terkenal diseluruh lapisan murid, dari junior sampai senior.
“Mahasiswa baru ya, baris disana!”
“Baik, Kak!” Nove berlari kecil masuk kebarisan para mahasiswa baru.
Suara mic berdengung dan fokus semua maba langsung tertuju pada panggung yang ada didepan mereka.
“Baik, sebelum acara dimulai kita perkenalan mahasisa baru dulu ya…Yak, yang baju biru tua dari barisan kedua, silahkan mulai duluan. Sebutkan nama dan jurusan, ya!”
Ditempat yang berbeda, hal yang sama pun terjadi namun Okta kali ini sudah duduk manis didalam kelas barunya. Sebenarnya dari kepindahan ini Okta-lah yang paling repot karena hanya dia yang pindah sekolah dimasa pertengahan sekolah. Padahal dia baru naik ke kelas duabelas tahun ini.
Seorang guru masuk dan berdiri didepan kelas. Pria itu mendorong kacamatanya yang melorot. “Selamat pagi anak-anak!”
“Pagi, Paaaak!”
Guru itu berdehem sebelum memulai, “Hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari Jakarta. Sebelum memulai pembelajaran hari ini mari kita kenalan dulu ya, silahkan Okta…bisa kedepan buat perkenalan dulu!”
Okta memejamkan matanya dan menarik nafas. Semuanya akan terjadi lagi. dia sangat membenci momen yang selalu berulang-ulang ini. Dia yakin setelah perkenalan ini dia akan terkenal diseluruh murid, kelas dan sekolah. Seperti biasa.
“Baik, Pak.”
Dash berlari setelah memarkirkan motornya. Dia mengumpat dalam hati karena harus terlambat dihari pertamanya masuk SMA. Salahkan hapenya yang lupa dicharger, salahkan jam dinding yang baterenya habis. Salahkan Mama cantiknya yang lupa membangunkannya karena sibuk ghibah dengan tukang sayur.
‘Aaaaggghhhrr!’ rasanya Dash ingin berteriak saja. Kenapa pula harus terjadi dihari pertama masuk sekolah.
Dash semakin meringis saat dari kejauhan telah terlihat barisan para murid baru yang sedang ditanya-tanya oleh para senior. Dia semakin mengumoat saat ada dua orang senior yang menyadari kedatangannya.
“Heh, kamu sini! Terlambat kamu, ya?!”
Dash membungkuk sedikit dan berjalan pelan mendekati dua orang seniornya itu.
“Maaf, Kak….tadi ban motor saya bocor.” Alasan klise.
Dua senior itu mendengus seolah tahu jika alasan itulah yang selalu dipilih oleh orang yang terlambat. Jika bukan macet, mogok ya ban bocor, ga mungkin kan ada jerapah raksasa.
“Udah ga usah alasan. Sekarang lo dihukum karena telat. Sana lo pergi ke senior yang lagi pegang mic. Lo dapat kehormatan buat jadi murid baru pertama yang perkenalan!”
Wajah Dash langsung merana. Kali ini dia pasti akan dikenal seluruh sekolah. Pasti.
“Baik, Kak.”
Dan dimulailah perkenalan itu.
Perkenalkan saya mahasiswa/murid baru. Nama saya…
“Oktober….”
“November…”
“Desember…”
“…Supriadi!”
“BHUAHAHAHAHAHA!!!”
“Gue Juli…”
“Kalo gue Maret…pas tuh sama SPT Tahunan!”
“Gue Legi…”
Selalu seperti ini. Ditertawakan, jadi bahan ledekan didepan umum karena nama yang berbau musim hujan. Tapi jangan khawatir, ketiga saudara diatas sudah biasa…catat! SUDAH BIASA!
01_MHB
“Bisa?”
Cklik!
“Hm!”
Sudut bibir dibalik masker hitam itu tertarik keatas. Keahliannya semakin bagus saja dan semua jadi terasa lebih mudah.
“Keluarkan yang kita butuhkan saja.”
“Iya tau!”
Beberapa dokumen sengaja diacak dan lembaran yang penting langsung diselipkan kedalam baju. Pria lain yang tadi berdiri dibelakang mengambil beberapa ikat uang yang terlihat menggiurkan dalam brankas.
“Tadi katanya ambil yang butuh aja?” Pria yang sedang berjongkok didepan brankas mendengus mengejek.
“Buat beli cilok.”
“Terserah!”
Setelah mengambil beberapa dokumen yang dibutuhkan mereka pun beranjak dengan membiarkan brankas itu tetap terbuka.
“Jangan lupa tempel!”
“Oh iya!” Pria bermasker hitam menepuk kepalanya dan mengambil sebuah stiker berwarna hitam dengan logo khas, dan menempelkannya tepat diatas brankas tersebut.
“Yuk!”
Mereka pun berjalan keluar dengan melangkahi beberapa mayat. Diruangan luas itu terlihat jelas bekas baku tembak baru saja terjadi. Percikan darah memenuhi dinding bagai sebuah wallpaper abstrak. Genangan darah bagaikan lapisan karpet merah yang empuk.
“Awas!” Pria yang tadi mengambil uang menarik si pria bermasker karena hampir menginjak genangan darah dilantai.
“Hampir!”
Sekali lagi mereka mengecek cctv yang sekiranya belum mereka rusak. Setelah semua terlihat aman, mereka pun segera meninggalkan tempat tersebut.
Keesokan harinya semua berita dari berbagai media menyiarkan tentang kematian seorang pengusaha dengan luka tembak tepat dibagian kepalanya. Bukti otentik tentang kerjasamanya dengan beberapa puhak dibagian pemerintahan sudah tidak terbantahkan lagi. Pihak pemberantasan korupsi serta polisi langsung bertindak cepat. Namun lagi-lagi yang menjadi pusat sorotan masyarakat adalah stiker berlogo yang ditemukan dilokasi kejadian.
Ada yang kontra dengan cara kelompok tersebut dalam memberantas kejahatan dan ketidakadilan karena dianggap terlalu kejam dan ekstrim namun tidak sedikit pula yang mendukung, berharap dengan adanya mereka maka dapat menekan tingkat kejahatan.
Seorang pria remaja putih abu-abu sedang mengoles rotinya dengan selai srikaya dan ini sudah roti kesekian yang dia makan. Sambil menonton televisi tangannya terus menyuapkan roti kemulut.
“Cepat juga beritanya…Okta, rotinya jangan dihabiskan, yang lain belum makan!”
Okta menatap malas ke mamanya yang masih terlihat seperti gadis kuliahan dengan celana jeans selutunya, “Baru lima, Ma…masih ada sisa tuh empat biji!”
“Mana cukup empat biji buat tiga orang!”
Seseorang mencium pipi Mamanya dari belakang dan tersenyum mengejek ke Okta. “Aku beli cilok aja Ma, nanti dikampus…jalan dulu ya udah telat!”
“Kak…Bareng! Okta dengan cepat memasukkan sepotong besar roti kemulutnya, mencium pipi mamanya dan berlari keluar rumah.
“Udah heboh aja pagi-pagi…” seorang pria yang terlihat gagah dengan kemeja putihnya mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang.
“Anak-anak kamu tuh, Pa!” Kirana mendelik ke suaminya yang malah terkekeh geli.
Tangan Tomi mengacak-acak gemas rambut Kirana. Matanya mencari-cari apa yang bisa dimakan untuk sarapan. “Sarapan apa, Ma?”
Kirana mendesah pelan, “Tadinya mau bikin roti bakar tapi rotinya dihabisin sama Okta, tinggal empat tuh…atau Papa mau dibuatin yang lain?”
“Yang belum sarapan siapa?” Tomi terlihat ragu, takut ada anaknya yang belum sarapan. Pria tampan ini memang sesayang itu pada anaknya.
“Tinggal kamu sama si princess. Dia agak siangan sih ke sekolah karena hari ini cuma perkenalan murid baru aja.”
Tomi mengangguk paham, “Ya udah aku makan roti ini aja, nanti kamu buatin dia nasi goreng, biarpun cewek, anak itu makannya banyak. Mana cukup dia roti empat biji.”
“Okey!”
Setelah selesai sarapan, Tomi pun beranjak mengikuti kedua anaknya yang terlebih dahulu berangkat kuliah dan sekolah.
Semuanya terlihat bersemangat. Ini adalah hari pertama sepasang suami istri dan tiga orang putranya itu beraktivitas di kota yang baru. Tomi baru dipindahkan untuk mengurus cabang sebuah perusahaan yang baru dibuka. Alhasil semuanya juga harus ikut pindah termasuk sekolah anak-anaknya. Syukurlah mereka pindah bertepatan dengan waktu kelulusan jadi prosesnya tidak terlalu merepotkan.
Rumah terlihat sepi sepeninggalan Tomi dan kedua anaknya. Suara televisi yang masih menyiarkan berita yang sama menarik perhatian Kirana. Wanita itu menarik nafasnya dalam dan membuangnya dengan sekali dorongan. “Saatnya beres-beres.”
Novel Unggulan
01_Janda Labil
Cup… “Aku duluan yah…” “Iyah…hati-hati. Jangan ngebut! Love you! ” Yuri melambaikan tangannya dan mengirim satu ciuman jauh sebagai ...
-
“Hana, kamu dimana , nak. Kok udah gelap masih belum balik?” Suara khawatir Bibi Yi terdengar dari seberang sana membuat Hana menggigit bibi...
-
"Lima jam, cyiiin. Kaki gue sampe gemetaran. Udah syukur masih bisa jalan kekamar mandi...hahaha!" ucap seorang wanita didepan cer...
-
Dia yang hanya menggunakan instingnya, menebak kemana Hana pergi setelah sampai ke Jakarta tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Bahkan...