Tampilkan postingan dengan label Sex God I Will Kill You!. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sex God I Will Kill You!. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Oktober 2025

39

“Mmm…shh…Reza…”

Reza menekan Indi kedinding dan menciumnya dalam. Tangannya sudah masuk kedalam bra Indi dan meremas bukit lembut itu dengan gemas.

“Kekamar..”

Reza menggendong Indi dan kaki gadis itu melingkari pinggang Reza dan tekanannya membuat pria itu menggeram menahan hasrat liarnya.

Reza membuka pintu kamar pribadi diruangan kerjanya yang selama ini membuat Indi penasaran. Akhirnya dia masuk juga kesini dan status mereka sekarang sudah tidak perlu memikirkan pandangan orang lagi. Sudah bebas.

Reza merebahkan Indi dikasur dan langsung menanggalkan kemejanya. Indi dengan cepat membuka blousenya juga dan kini hanya memakai bra. Indi hanya mengikuti instingnya saat membiarkan Reza langsung mengangkat branya tanpa melepas kaitan sampai kedua payudara Indi terbebaskan.

“Cantik…”

Reza mengulum salah satu puncak yang menantang itu dan meremas puncak lainnya.

“Ahh…” Indi menyukai sensasi ini. Sensasi saat tubuhnya dicintai. Sensasi saat jiwanya dicintai. Sensasi saat dipuja oleh ciuman kekasihnya.

 

Tok! Tok!

“Za!”

“Di!”

“Kalian masih tunangan belum nikah!” Suara malas Ardi terdengar dari luar pintu.

“Sialan, padahal udah diujung!” Reza mengeluh menyimpan wajahnya dirambut Indi yang tergerai diatas bantal.

Indi terkekeh pelan, “Keluar yuk, ntar diamuk, lho!”

“Za! Abangmu lapar nih, beliin makanan!”

Reza berdiri dengan lunglai dan kembali memakai kemejanya, “Kenapa sih orang ini jadi sering datang ke kantor…”

Indi ikut berdiri dan merapikan penampilannya.

Ardi menatap pintu yang terbuka pelan dengan alis tertekuk.

“Bang…” Indi nyengir dan nyelonong keluar malu-malu.

Sedangkan Reza dibelakangnya mengekori dengan wajah frustasi. Ardi senang sekali mengganggu sahabat sekaligus adik iparnya ini. Kalau diingat-ingat keadaanya saat ini sama dengan Indi dan Ika. Sahabat jadi ipar.

“Ngopi yuk!”

“Dimana?”

“Daerah puncak, enak kopinya. Langsung digiling ditempat.” Jelas Ardi.

“Serius, enak tuh!”

Indi senyum-senyum melihat interaksi dua pria yang disayanginya.

“Ajak Arya juga sekalian, biar ga pacaran mulu.”

“Sip.”

“Ya udah aku balik keruangan dulu ya, kerjaan udah numpuk.” Indi mendekati Reza dan mencium ringan bibir tunangannya. Sedangkan Ardi yang melihat itu menyerngit. Akhirnya dia merasakan rasa jijik indi selama Indi jika melihat dia bermesraan dengan Ika.

Indi mendekati Ardi dan ingin mencium pipi abangnya tapi Ardi menahan bahunya, dengan cepat pria itu mengambil tisu dan mengelap bibir Indi baru memberikan pipinya untuk dicium Indi.

Reza dan Ardi pun beranjak keluar ruangan. Reza melempar ciuman jauh dan Ardi harus menarik kerah bajunya agar mereka segera pergi. Maklum lagi mabuk cinta.

“Ya udah jalan sana, have fun ya! Bawain oleh-oleh!

Indi tersenyum menatap kepergian keduanya. Hatinya luar biasa bahagia. Bersyukur pada Tuhan yang memberikannya anugrah yang begitu Indah. Anugrah yang tak ternilai harganya. Anugrah karena dicintai oleh orang yang kita cintai.

 

Beberapa bulan kemudian,

“Yang, ini apa?”

“Eh, jangan dibuka!!”

Klang! Terlambat, Reza sudah membuka kaleng itu. Matanya membola tak percaya. “Kamu stalking aku, Yang?!”

Indi menutup wajahnya yang sudah memerah. Bagaimana dia bisa melupakan koleksi gilanya itu dan masih berada dibawah tempat tidur.

“Ya, ampun,Yang. Ini kapan ngambilnya?”

“Udah sini balikin!”

Reza mengangkat kotak kaleng itu tinggi dan tertawa bahagia. Ternyata sudah selama itu Indi menyukainya. Kok ga jujur aja sih.

“Reza, balikin!”

“Ih ayangnya Reza ternyata nakal banget ya…hahaha!”

Tawa Reza semakin lepas saat melihat fotonya hanya memakai handuk. “Ini kapan ngambilnya?”

Indi kembali menutup wajahnya, dia malu luar biasa. Sedangkan Reza masih belum puas membongkar aibnya.

“Itu waktu aku anter dokumen, waktu Pak Mahendra sakit, trus lihat kamu baru abis berenang…” suara Indi mencicit.

Reza tertawa lagi sambil memeluk erat Indi, “Jujur aku kaget, Yang. Tapi hobi kamu aman kok. Halal jadi stalker suami sendiri.”

“Jadi makin cinta, deh sama istri.”

Indi menurunkan tangannya dan mengangkat wajahnya memandang Reza, “Kamu ga marah? Ga ngerasa aku aneh?”

“Enggak, malah seneng dicintai segitunya sama istri sendiri.” Reza tersenyum manis dan menulari Indi. Malu-malu Indi juga tersenyum.

“Lagian kalau tau kamu ambil gambarku, kan handuknya bisa aku lepas…”

“Rezaaaa!!!”

 

------------------------------------------<3--------------------------------------------------

38

 

Plak!

“Tangan lo, masih banyak tamu disini!”

“Ganggu aja sih!" Reza menarik tangannya.

“Gue batalin nih restu!” Ardi menunjuk Reza dengan gulungan kertas yang tadi dia pakai untuk memukul tangan Reza yang gerilya di pinggang Indi.

“Iyaaaa…..” selalu saja pakai ancaman ini. Reza benar-benar tidak berkutik.

Indi mengusap-usap tangan Reza menyabarkan tunangannya itu.

Ya, tunangan. Tepatnya hari ini Reza dan Indi resmi bertunangan.

Begitu mendengar dari Reza jika Ardi sudah memberi restu, Bu Ratna tidak mau menunggu lama lagi untuk mengikat Indi menjadi menantunya. Dengan cepat dia langsung menyusun acara pertunangan sebelum Ardi berubah pikiran.

Seluruh undangan sudah memenuhi rumah Pak Mahendra yang ternyata sangat luas. Ada keluarga dekat, kolega bisnis sampai orang-orang kantor yang sangat kaget mendengar kabar pertunangan ini. Mirna bahkan hadir juga. Dan saat ini gadis itu sedang ngobrol dengan asisten robotnya.

Indi melirik kearah samping dan mendapati jika Mia juga diundang. Arya tidak pernah jauh dari sisinya seakan ingin memberi tahu semua orang jika gadis manis itu adalah miliknya. Sepertinya bukan hanya kapal dia dan Reza saja yang berlabuh.

“Pake pelet apa lo?”

Hidung Indi menyerngit saat mencium bau parfum yang membuat kepalanya pusing. Katanya parfum mahal pakai bahan dari kemenyan. Ini sih pakai kemenyan seakar-akarnya buat mandi.

“Eh, ada Sisca.” Indi menyibakkan rambutnya dan sengaja menggoyangkan jarinya yang terpasang cincin tunangan.

Sisca memadang tidak suka pada cincin Indi, “Huh, munafik ya, sok-sokan ga suka ternyata main belakang.”

“Ngapain gue main belakang. Gue bisa main dari depan, atas, bawah sama Reza. Jadi lo ga usah khawatir.” Balas Indi sinis.

Sisca berdecih, “Dari awal gue tau lo itu palsu. Pura-pura jaim tapi murahan. Dan sekarang terbukti kan, lo berhasil gaet ikan besar. Cari jalan pintas ya?”

Ini menjilat bibirnya, lama-lama panas juga kupingnya.

“Sorry ya seingat gue yang paslu itu tete lo, dan berhubung gue lagi baik gue saranin lo mundur dari posisi sekeretaris! Gue ga mau tunangan gue yang ganteng itu dikerubutin lalet ijo kayak lo!”

“Sial…”

“Yang..” suara Reza memotong makian Sisca.

“Eh ayang, udah ngobrol sama Om Joko?” Indi sangat sengaja sekali sok akrab dengan keluarga Reza buat memanasi Sisca. Senang banget lihat wajah palsu itu memerah.

“Udah, eh…ada Sisca juga.”

“Pak, Selamat ya, Bapak ga nyesel nih tunangan, ga bebas lagi lho.” Sisca memancing, bergoyang-goyang seperti boneka angin didepan toko cat.

“Ya enggak dong, kan cinta. Malah pengen cepat-cepat nikah.”

Indi menyeringai dibelakang Reza, membuat Sisca makin panas.

“Oh iya, Yang. Tadi Sisca katanya mau pindah ke divisi lain. Capek katanya jadi sekretaris, ya kan, Sis?”

“Eh, siap..”

Indi membuat gerakan menggorok lehernya tanda mengancam Sisca jika menolak.

“Oh, ya boleh aja, lagian Indi maunya sekretarisku cowok.”

“I..iya Pak. Saya mau coba bagian marketing aja.”

“Bagus, jadi pengalamanmu kan bisa berkembang.” Indi bertepuk tangan pelan.

Reza mencium pipi Indi, “Aku kesana dulu ya.” Indi mengangguk manja.

Begitu Reza menghilang dari hadapan mereka, Sisca menarik tangan Indi kasar. “Udah mulai sok berkuasa lo ya?”

“Lho jelas dong, itulah untungnya jadi tunangan bos, harus gue manfaatin dong buat basmi lalat ijo kayak lo, dan mulai sekarang…” Indi menyentak tangan Sisca kasar.

“…hati-hati kalau bicara sama gue, kalo lo masih mau kerja di perusahaan calon mertua gue, ngerti!”

Indi menabrak bahu Sisca keras saat melewatinya.

Dan acara pertunangan pun berakhir dengan lancar dan selamat sentosa.

 

37

Reza berlari cepat dan hampir menabrak seorang pengamen yang sedang menggoyang-goyangkan bungkus permen meminta uang.

Kalo masih punya nyali deketin adek gue. Datang cepat!

Satu pesan yang dia terima dari Ardi membuatnya langsung mandi dengan cepat sampai lupa bercukur. Selama tidak bertemu Indi, Reza jadi mencurahkan fokusnya kepekerjaan. Kalau bukan ayahnya yang menyeret dia bahkan tidak akan makan. Badannya sudah tampak mengurus dibeberapa bagian, dan rambutnya pun sudah tidak serapi dulu. Pikirnya buat apa rapi-rapi toh Indi tidak akan melihatnya.

“Sorry,…aku..telat..” nafas Reza masih putus nyambung karena berlari dari parkiran yang cukup jauh letaknya.

“Duduk!”

Reza pun duduk.

Ardi hanya mengaduk minumannya, sedangkan Reza mengorek-ngorek ujung meja entah buat apa. Keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan.

Tiba-tiba Ardi mengusap wajahnya kasar membuat Reza kaget. “Kenapa harus elu,sih?!”

Dan Reza yakin, Ardi sudah sedikit melunak. “Ya, jodoh.”

“Jodoh kepalamu. Gue pengen nonjok lo lagi tau ga?”

Reza nyengir, “Tau.”

“Kalau bukan karena Ika yang nyadarin aku mungkin gue ga akan berubah fikiran jauhin lo sama Indi!”

Reza menyerngit tidak suka karena mendengar kata pisah disandingkan dengan namanya dan Indi.

“Ika mengatakan kalau kita…sama!”

“Emang bener, kan? Reza langsung melipat mulutnya saat mendapatkan pelototan Ardi.

“Sebelum gue mutusin, ngasih lo kesempatan atau enggak, gue mau nanya rencana lo buat Indi.”

Reza tersenyum lembut sambil menatap meja, hal itu tidak luput dari pandangan Arya. Baru kali ini dia melihat tatapan lembut seberti itu dari bocah liar ini.

“Aku ga bisa janjiin apa-apa, Mas Ardi. Tapi saat ini yang aku tau hanya melakukan apapun yang membuat Indi bahagia. Apapun. Bahkan kalau dia nyuruh aku miara kecoa pun aku mau…” Ardi tidak tahan untuk memutar bola matanya dan tertawa kecil. Dia tahu betapa adik kelasnya ini sangat takut dengan kecoa.

“Indi punya kecoa putih, lho.”

“I..itu juga bisa..”

“Yakin?”

“1000%” jawab Reza mantap dengan suara bergetar.

Ardi tidak dapat menyembunyikan senyumnya.

“Ya udah, sana jemput Indi dirumahku. Dia udah murung dari tiga hari yang lalu, jarang makan juga. Lagi patah hati kali.”

Mata Reza membola, dia langsung buru-buru pergi bahkan lupa berpamitan.

“Dasar ipar durhaka.”

Ardi mendengus kesal dan meminum kopinya, memandang punggung Reza yang menjauh dengan cepat.

 

Ting tong! Ting tong!

 Ting tong! Ting tong!

Ting tong! Ting tong!

“SEBENTAAAAARRR!!!”

“Udah gila ya, mencet bel rumah orang kayak gitu!” Ika berjalan ke arah pintu sambil menaikan lengan bajunya emosi.

Ika udah siap memuntahkan omelannya saat membuka pintu langsung berputar-putar saat seseorang menerobos masuk kerumahnya. Begitu berhenti, ibu satu anak itu memegang kepalanya yang mulai pusing.

Ika mengerjapkan matanya beberapa kali sampai rasa pusingnya sedikit berkurang dan mendapati jika didepannya ada seorang pria tampan, berkeringat, terengah-engah dan berjanggut tipis.

Ulala…siapa nich?

Ganteng kaliii…

‘Apa siganteng ini orang gila yang mencetin bel rumahnya?’

“Heh, siapa lo? Sembarangan aja main masuk rumah orang?” omel Ika sambil memindai Reza dari atas kebawah atas lagi kembali kebawah dan nyangkut ditengah.

‘Ah, masih gantengan suaminya kemana-mana’

Dasar bucin akut.

“Mba Ika ya? Istrinya Mas Ardi, kenalin mba, saya Reza, pacarnya Indi.”

Ika membuat pola o bulat melonjong miring kekanan dikit dimulutnya.

‘Pantes aja si ‘botol kratingdeng’ nangis tiga hari tiga malam, ternyata putus sama cowok modelan gini toh.

“Mau…ketemu Indi, ya? Tunggu bentar ya saya panggilin. Tunggu disini jangan lasak kemana-mana dan jangan mainin bel lagi!”

“Siap!”

Ika berjalan cepat tidak sabar ingin melihat reaksi Indi. Dalam hati dia merasa lega karena akhirnya suami keras kepalanya mau mengerti juga. Padahal Ika memang sengaja mengungkit masa lalu agar suaminya merasa bersalah hihihi!

“Di, buka pintunya!”

Hening.

“Di…”

“EH BOTOL KARBOL, LAKI LO ADA DIBAWAH, NOH! KALO GA KELUAR GUE USIR!”

Bukan hanya Indi didalam kamar yang kaget mendengar suara Ika yang menggelegar, Reza pun sampai mengelus dadanya kaget.

Walaupun bikin jantungan tapi cara Ika sangat ampuh. Buktinya Indi langsung keluar dan sudah rapi?

Kapan mandinya?

“Ga gosok gigi lo, ya?”

“Udah kumur-kumur.” balas Indi sambil lalu.

Dengan cepat Indi turun kebawah. Sebenarnya tadi Reza sudah mengirim pesan akan datang dan menjemputnya. Tadi Indi lagi kumur-kumur makanya tidak bisa menjawab panggilan Ika.

Indi sudah ada dikaki anak tangga dan memandang Reza penuh kerinduan. Sedangkan Ika yang mengekori dari belakang duduk dan menonton drakor dadakan dari balik sofa.

Reza berjalan cepat dan langsung menangkup pipi Indi. Mencium gadisnya dengan penuh kerinduan yang amat sangat. Hampir dia menyerah dan membuatnya gila. Perkataan Ardi tentang tingkah liarnya selama ini membuatnya malu untuk kembali memiliki niat mempertahankan cintanya. Cinta mereka.

“Aku kangen kamu, Di…kangen banget..” mata Reza berkaca-kaca begitu juga Indi.

“Aku juga…tapi kamu ngapain disini nanti bang Ardi marah, lho.”

“Udah lanjut aja, abang lo urusan gue!” potong Ika yang entah sejak kapan ditangannya ada pop corn dan soda.

Reza terkekeh, “Udah, aku udah ketemu Mas Ardi dan dia akhirnya mau memberi aku kesempatan dengan syarat aku harus membuatmu bahagia.”

“Sungguh?”

“Iya, sungguh.”

“Demi apa?”

“Demi…

“Demikian kami sampaikan. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih!” potong Ardi yang entah sejak kapan sudah masuk kedalam rumah.

“Yang, sini duduk. Kita nonton!” Ika menepuk sisi sofa disebelahnya.

Ardi hanya menggeleng melihat tingkah istrinya yang sangat absurt, perhatiannya kembali ke pasangan yang sudah memisahkan diri sejak mendengar suara Ardi.

“Kurang ajar ya lo, main kabur aja!”

Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Abang…” mata Indi berkaca-kaca.

Tanpa sanggup bicara lagi, Indi menghambur memeluk Ardi, “Makasih…aku sayang abang!”

Ardi mengusap dan mengecup pucuk kepala Indi. “Adek abang ternyata udah gede ya, udah pinter main pacar-pacaran…” Indi tertawa kecil yang diikuti Ardi.

Ika makin semangat menonton dan bertepuk tangan . Sekarang dia sudah memakai kacamata 3D yang lagi-lagi entah darimana dia dapatkan.

Reza yang menyaksikan adegan kasih sayang antar saudara itu pun ikut terharu.

“Gimana abang ga ngasih restu, kalau pengorbanan Reza sebesar itu untukmu?”

Indi menjauhkan dirinya dan mendongak menatap Ardi bergantian ke Reza, “Korban apaan?

Ardi menyeringai dan Reza yakin bukan hal baik yang akan dikatakan sahabat sekaligus calon abang iparnya ini, “Reza bilang…dia mau piara kecoa putih yang ada dirumahmu.”

“Eh, serius?!”

Mampus lo! Dalam hati Ardi tertawa bahagia melihat Reza yang sudah keringat dingin.

36

Tiga hari sudah berlalu sejak terakhir Reza datang menemui Ardi.

Indi tidak pernah mendengar kabarnya lagi.

Pria itu bagai hilang ditelan kuda nil.

Apa memang rasa penasaran Reza padanya sudah hilang dan sekarang sudah bosan.

Indi kembali murung dan matanya kembali basah.

Selama dia tinggal dirumah abangnya, dia dilarang kemana-mana bahkan ke kantor. Abangnya malah berencana membuat Indi resign. Dia mendengar pembicaraan abangnya dan Ika tadi malam.

Suara ketukan terdengar, namun Indi hanya kembali tidur dan menutup dirinya dengan selimut. Menolak keluar ataupun makan.

Suara Ika terdengar dari luar.

 

“Di, makan malam dulu…aku masakin ayam kecap kesukaanmu, lho!”

Ika mengetuk lagi namun seperti kemarin malam, pagi dan siang ini Indi tidak mau keluar.

Ika menghela nafas dan kembali turun kebawa membawa makanan yang tadinya mau dia kasih ke Indi.

Ika sampai anak tangga terakhir, bersamaan dengan suaminya yang baru pulang.

“Cium!” Ardi merentangkan tangannya namun Ika hanya memandangnya diam, biasanya istrinya itu akan menghabur kepelukannya dan mencium pipi, bibir dan keningnya sekaligus.

“Yang?”

“Mandi dulu ya, aku siapin dulu makannya.” Ika tersenyum namun tidak sampai kematanya. Ardi pun menurut dan langsung mandi membersihkan dirinya.

Ardi mengeringkan rambutnya yang setengah basah dan membuatnya acak-acakan. Ika menahan mati-matian hasratnya yang ingin melompat kepelukan suaminya.

“Masak apa, Yang?”

“Ayam kecap.”

“Wah kesukaan Indi tuh, anaknya udah makan?”

“Belum dari kemarin.”

Ardi menghela nafas, “Dasar manja.”

Ika membanting sendok nasi yang ada ditangannya, “Manja? Abang bilang manja?”

“Dia hanya sedih karena abang tidak merestui hubungannya dengan Reza!” mata Ika berkaca-kaca dan wanita itu berlari masuk kedalam kamar, meninggalkan suaminya yang terbengong sendiri.

Ardi kalang kabut mengejar istrinya yang sprint kekamar. Begitu masuk kamar dia melihat Ika yang duduk dikasur mereka sambil terisak.

“Yang, kamu kenapa? Kok nangis?”

“Abang restuin ga, Indi sama Reza! Kasihan Indi, bang!”

Ardi memejamkan matanya menahan kesal, beginilah kalau cewek sahabatan. Saling dukung trooss!

“Abang begini demi kebaikan Indi, Yang! Reza itu laki-laki brengsek, dia tidak akan bisa membuat Indi bahagia!”

“Trus aku bahagia ga?!”

Hah? Kenapa jadi melebar kemana-mana?

“Aku bahagia, ga menurut abang?” desak Ika.

“Bahagia, dan abang pasti akan terus menjamin kebahagiaanmu sampe kita menua bersama.” Ardi menjawab mantap.

Mata Ika berkaca-kaca, “Tuh kan, Indi pasti juga bahagia kalau bersama orang yang dia cintai, bang. Indi mirip kayak aku, sama-sama jatuh cinta dengan cowok brengsek!”

Eh?

Kok?

“Yang…”

“Aku bener kan? Abang juga dulu cowok brengsek, tapi bisa buat aku bahagia. Semua itu karena rasa cinta, bang!”

Skakmat.

Ardi tak bisa ber word-word.

Kepalanya sudah berkeringat, padahal tadi abis mandi.

Kok istrinya masih ingat aja sih? Udah lama lho itu!

“Bang, aku tau kalau dulu abang nerima cinta aku karena mau jadiin aku tameng kan? Buat cewek-cewek yang ngejar abang…”

Kepala Ardi gatal.

“Masih mending Reza, dia berhenti dekat sama cewek lain sejak bersama Indi…”

Ardi mengitung jumlah kotak di lantai.

“…sedangkan abang, aku tau abang masih sering selingkuh kan walaupun kita udah pacaran…”

Ardi membuang pandangan ke plafon kamar.

“…saat itu aku sedih banget, bang. Sakiiit…dan yang ada disamping aku, nguatin aku, meluk aku, dukung aku itu cuma Indi…Indi, bang. Bukan abang.”

“Yang, maaf!” Ardi tidak tahan lagi. Dia memeluk Ika erat. Menenggelamkan wajahnya dibahu istrinya. Ika merasakan basah dibahunya. Suaminya menangis.

Ika mengusap punggung suaminya mesra, “tapi sekarang aku bahagia, bang. Sangat bahagia…apalagi setelah ada Lila. Dan aku yakin Indi juga akan bahagia bersama Reza. Karena mereka saling mencintai.”

Ika menjauhkan dirinya dan mengangkat wajah Ardi, dan benar suaminya…menangis.

“Lelaki yang dulunya brengsek, ga selamanya brengsek. Kalian bisa jadi sumber kebahagiaan kami, wanita yang mencintai kalian.” Jelas Ika mengusap air disudut mata suaminya.

“Beri mereka kesempatan ya, Yang. Seperti kita dulu.”

Hati Ardi menghangat. Sisi posesif membuatnya lupa jika dulu dia bahkan lebih brengsek dari Reza. Dan semuanya berakhir bahagia, dengan Ika.

“Makasih ya, Yang. Udah buka mataku…ngomong-ngomong akulapar lho, Yang. Tadi ga jadi makan, kan?”

“Ya ampun, maaf..maaf…yuk makan! Ika menarik tangan suaminya yang masih tertawa geli.

35

Bu Ratna dan Pak Mahendra terkejut saat pintu kamar mereka terbuka tiba-tiba. Untuk tidak sedang aneh-aneh. Dan lebih terkejut lagi melihat memar disudut bibir Reza.

“Reza?”

Pak Mahendra menegur putra tertuanya yang berjalan tertatih mendekati mereka seperti zombie yang mengincar otak.

“Yah, aku pinjam ibu.” tanpa menunggu jawaban ayahnya, Reza langsung menghambur bersimpuh memeluk pinggang Ibunya, pipinya dia sandarkan dipaha Ibunya.

Melihat itu ayahnya ingin bicara namun telunjuk istrinya kini berada dibibir wanita itu dan memejamkan matanya mengirim kode agar suaminya memberi waktu ibu dan anak deep talk.

Pak Mahendra tersenyum dan perlahan keluar kamar, menutup pintu.

“Kamu kenapa, Nak?” Bu Ratna memulai pembicaraan. Tangannya membelai bayi besarnya yang saat ini terlihat begitu rapuh dan kesakitan.

“Ardi tadi mukul aku..”

Bukannya marah, Bu Ratna malah mengulum senyum geli. “Kenapa?”

“Ketauan cium Indi, tadi diapartemennya.”

“Hah! Kamu tadi ketempat Indi, pantesan dipanggil sarapan ga nongol.”

“Bu! Bukannya kasihan, ibunya malah bahas sarapan.

Bu Ratna terkekeh pelan, “Kalau ibu jadi Ardi juga pasti mukul kamu, Za. Karena berani-berani cium adiknya.”

“Tapi kan...kami sahabatan. Harusnya dia dukung dan kasih restu ke aku dong bukan malah marah-marah.” Reza tak terima, lupa jika buku kumpulan dosa-dosanya sudah dihapal Ardi luar kepala.

“Ya, kamu jangan nyerah dong. Jujur Ibu senang kamu kali ini serius menjalin hubungan, benar-benar mencintai seorang wanita. Apalagi itu Indi, bahagia Ibu jadi dobel!”

“Trus aku harus gimana, Bu. Hati aku sakit banget waktu lihat Indi tadi nangis.” Reza menenggelamkan wajahnya dipaha sang ibu.

“Ya perjuangkan. Kamu tunjukkan jika kamu memang serius dengan Indi. Tunjukan ke Ardi kalau kamu sudah berubah. Saran Ibu kamu temui Ardi dengan jantan dan minta Indi secara resmi padanya.”

“Kalau…dipukul lagi?”

“Yah, sudah resiko. Siapa suruh bandel jadi laki-laki!”

Reza mengangkat kepalanya dan menatap ibunya dengan kesal, “Bu, ini masih sakit, lho!” Reza menunjuk biru lebam disudut bibirnya. “Masa mau ditambah lagi!”

“RE.SI.KO.MU!”

“Udah sana keluar, Ibu udah ngantuk!” Bu Ratna membuat gerakan mengusir ayam dan mendorong-dorong tubuh besar anaknya.

“Ibu kandung rasa ibu tiri ya gini!” sambil menggerutu Reza menyeret kakinya keluar kamar.

Begitu pintu kamar tertutup, Reza bertekad akan mendatangi Ardi dan bersikap jantan menghadapi calon abang ipar sialannya itu. Tangannya sudah terkepal didepan dada menunjukkan jika tekadnya sudah bulat.

“Jangan halangin pintu bisa? Ayah ga bisa masuk!” Pak Mahendra mendorong tubuh Reza yang menutupi jalan. Dan dengan santai masuk kekamar, membanting pintu kamar didepan hidung putranya.

“Ck, bapak tiri!”

 

Tarik…buang…tarik…buang…

Reza menatap horor bangunan yang berdiri kokoh didepannya seperti gambaran neraka. Padahal dari rumah dia sudah menumpuk tekat penuh bahkan sampai luber-luber tapi begitu sampai didepan kantor Ardi, nyalinya malah ciut.

Baru kali ini dia merasa jika Ardi itu menakutkan. Ternyata rumor dikampus dulu benar jika Ardi itu menyeramkan kalau marah. Karena mereka berteman jadi Reza tidak pernah ambil pusing.

“Permisi, Pak. Ada yang bisa dibantu. Dari tadi saya lihat bapak berdiri disini terus. Apa bapak mau nawarin barang jualan ke pegawai sini?” sapa ramah seorang sekuriti.

Hah?

Jualan?

Emang dia sales?

“Oh enggak, Pak. Saya mau bertemu dengan Pak Ardi.”

Sekuriti itu manggut-manggut semangat, “Oh Pak Ardi baru aja masuk. Bapak bisa bertanya resepsionis di lobi untuk diantarkan.”

“Iya, Pak, diantarkan ke neraka..”

“Kenapa, Pak?”

“Oh, enggak Pak, kalau gitu saya masuk dulu. Permisi.” Reza bernafas lega. Untung saja sekuriti itu tidak mendengar gumamannya.

 

Dan dengan cepat Reza sudah diarahkan kelantai dimana ruangan Ardi berada. Catat diantarkan. Ternyata wajah tampan banyak gunanya.

“Silahkan, Pak. Pak Ardi sudah menunggu didalam.”

“Terima kasih” tanpa basa basi Reza langsung berjalan keruangan yang ditunjuk mbak-mbak modus tadi.

Tarik…buang…Tarik…buang….

Merasa siap fisik dan mental, Reza mengetuk pintu.

“Masuk!” dan suara besar Ardi kembali menyiutkan nyalinya. Namun kalau tidak masuk, gengsinya bisa hancur.

“Permisi.”

 

 

Dan disanalah sosok calon abang iparnya itu, duduk dengan mata setajam elang menatap padanya seperti melobangi keningnya.

“Ar…”

“Berani juga lo kesini, salut gue.”

Reza yakin itu adalah sindiran bukan pujian.

“Gue…gue…”

Ardi tidak ada niatan menyuruh Reza duduk. Dia harus bisa membuat Reza tahu diri dan mundur dengan sendirinya.

“Lo cinta sama adek gue?”

“Sangat. Satu-satunya.” Jawab Reza mantap.

Ardi mencibir, “Huh satu-satunya…”

“…”

“Sejak kapan lo suka Indi?”

“Sejak pertama dia menginjakkan kakinya di perusahaan gue.”

Ardi manggut-manggut, “Kapan terakhir lo ‘main’ sama perempuan?”

Reza memucat. Dia terdiam.

Ardi yang sudah bisa menebak tertawa sinis. “Reza..Reza, gue tau tabiat lo. Padahal cewek yang lo bilang sangat lo cintai, cuma berjarak beberapa meter. Tapi lo masih bisa ngeseks sama cewek lain kan? Bantah gue kalo salah?”

Perkataan Ardi sontak membungkam mulut Reza. Dalam hati dia memaki dirinya sendiri yang memiliki nafsu seperti setan.

“Sekarang lo keluar dan jangan pernah lagi temuin Indi. Gue akan ngurus permohonan resign Indi sama Om Mahendra. Gue masih bisa cariin dia kerjaan lain yang lebih bersih.” Ardi kembali menekuni berkas dimejanya seakan tidak ada seseorang diruangan itu selain dirinya.

Reza masih terdiam. Shock. Marah. Kesal karena tidak mampu membela diri. Ya, dia memang kotor. Indi bersih. Dan gadis itu berhak memiliki pasangan yang sama bersih dengannya. Perlahan Reza pun melangkah dengan gontai dan keluar dari ruangan Ardi.

Sepeninggalan Reza, Ardi membanting berkas ditangannya dengan kesal. dia benar-benar dilema kalau Reza anak baik-baik pasti dia dengan senang hati menerima pria itu atau malah dia jodohkan dengan adiknya. Tapi ini, walaupun sahabat tapi Ardi tetap ingin yang terbaik untuk adiknya. Cowok baik-baik dan bukan penjahat kelamin.

34

 Indi mondar mandir diapartemennya. Menggigiti kukunya dengan gelisah.

‘Bagaimana ini?’

‘Masa dia jadi adik ipar Reza?’

‘Mau kena azab sinetron kalau mereka selingkuh?’

Indi hari ini izin tidak masuk kantor karena perutnya yang mulas sejak tadi malam. Sakit karena pikiran memang sangat tidak enak. Dan Indi selalu mulas dan diare jika pikirannya dipenuhi masalah. Begitupun saat dia sedang putus dengan Reza dulu, kakinya bahkan sampai lemas karena bolak-balik nongkrong di wc.

“Bagaimana ini…kalau nolak bakal dipecat ga, ya?

“Mana Reza belum ada ngabarin lagi sejak tadi malam?”

Ting! Tong!

Indi tersentak saat bel apatemennya berbunyi, ya kali si Maman bisa pencet bel. Menyeret kaki yang masih pegal karena kelamaan duduk di wc, Indi membuka pintu apartemennya.

Begitu pintu terbuka, sosok Reza langsung menghambur memeluknya erat, “Indi…”.

Eh? Kok basah?

Jangan bilang cowok besar ini menangis.

Dengan cepat Indi melepas pelukan reza dan memegang wajah pria itu memastikan, dan benar air mata Reza sudah bercucuran berapa liter. Bahkan sekarang Reza sudah senggugukan. “Ih, kok nangis?!”

Indi dengan cepat menarik tangan Reza masuk kedalam. Ya kali dibiarin, bisa malu dia punya pacar ganteng tapi cengeng, apa kata tetangga nanti.

“Ini lap airmatanya, ingus juga tuh udah tumpah-tumpah!” Indi menyerngit jijik sambil memberikan tisu ketangan Reza.

“Kamu ga romantis banget sih, kalo pacarnya sedih dihibur dong..” ucap reza sambil membuang ingusnya di tisu.

Dengan wajah tak tega Indi menepuk-nepuk punggung Reza bermaksud menghibur. “Cup cup,,,udah ya nangisnya nanti ditangkap polisi, lho!”

Reza mengabaikan mulut minim perasaan pacarnya ini, mengusap airmatanya sampai kering, menghela nafas lelah, dan memijit keningnya “Kepalaku pusing karena nangis terus.”

“Lagian siapa suruh nangis, aku aja enggak!”

Hening.

Reza masih memijit kepalanya dan Indi masih menepuk-nepuk punggung Reza yang entah apa gunanya.

“Di, jadinya kita gimana? Kamu ga boleh setuju tunangan sama Arya, ya. Tolak aja!”

“Ya maunya sih gitu tapi kan kalo Bu Ratna tersinggung karirku bisa terancam.” Apalagi baru terima tunjangan baru yang lumayan bisa beli tas mahal 3 biji.

“Ga bakalan. Sebenarnya tadi malam aku sudah mengakui hubungan kita ke Ibu…”

“Apa?! Serius? Trus apa kata Bu Ratna?”

“Ga ada. Ibu diem aja.”

Indi mengangkat tangannya keatas dengan frustasi, “Tuh kaaaann, tamat sudah riwayat karirku!”

“Lagian kan kita bisa ngomongin ini pelan-pelan, Za. Arya juga kan pasti bujuk ibumu juga, dia sudah punya wanita yang dia cintai. Arya ga akan diam aja!” Indi gemas bukan main sama pacarnya ini.

“Udah terlanjur. Nanti aku akan bicara lagi ke Ibu. Aku akan terus berusaha buat meyakinkan Ibu untuk merestui hubungan kita.”

“Za..” jadi Indi kan yang kini mau nangis. Tepatnya nangis karena sebal akan Reza yang terburu-buru.

“Enggak, Di. Untuk hubungan kita aku ga akan bersabar. Aku akan terus berusaha meyakinkan Ibu. Kamu duduk manis aja, biar aku yang bereskan, ya?” Reza sudah bertekad dan percuma saja bicara lagi kalau sudah dalam mode kepala batu.

“Ngomong-ngomong kamu ga kerja?”

Indi mengamati penampilan Reza dari atas sampai bawah, “Kamu juga?”

Dan mereka sama-sama tertawa pelan karena tidak tahu jika  satu sama lain tidak masuk kantor tapi tetap bertemu. Seperti sudah ada ikatan batin.

Reza menangkup wajah Indi dan menciumnya lembut, “Untukmu aku tidak akan bersabar, Di. Aku ingin segera bisa memilikimu sebagai istriku.”

Mata Indi berkaca-kaca dan mengangguk pelan saat Reza meminta mereka berjuang bersama.

Dan kedua bibir itu pun kembali bertemu. Menari pelan meluapkan emosi yang bercampur dengan cinta. Saling mengirimkan rasa rindu, pasrah, semangat dan ikatan dalam kulumannya. Indi dan Reza semakin terhanyut akan ciuman mereka sampai,

“APA-APAAN INI!”

“Ar..”

BUGH!

Ardi mendekat dengan cepat dan menghantamkan tonjokannya tepat kewajah Reza. Begitu kuatnya sampai Reza terpental dan menghantam meja kaca sampai pecah.

Indi menjerit ketakutan melihat Ardi yang kembali mendekati Reza dan menendang perut pria itu dengan keras sampai Reza terbatuk keras dan memuntahkan liurnya, Reza meringkuk kesakitan karena menahan rasa sakit diperutnya.

“Abaaang, jangaan!” Indi menahan tangan Ardi yang belum selesai menghajar Reza.

“Bangsat lo, ya! Anjing!” Indi yang menahan malah ikut terseret tubuh Ardi yang jauh lebih besar darinya.

“Ukh, Mas Ar, tunggu…” Reza berusaha berdiri dengan masih memegang perutnya.

“ABANG!” tak tahan Indi membentak Ardi, dan membuat pria itu melihat penuh ke adiknya dengan mata memerah.

“Lo berani bentak gue demi cowok brengsek ini?! Lo tau kalo cowok yang lo bela ini tukang main perempuan, hah!”

Tanpa bisa ditahan, Indi langsung menangis mendengar perkataan Ardi. Hatinya begitu sakit. Baru kali ini abang yang sangat menyayanginya berkata kasar. Bahkan abangnya tidak mau repot-repot menurunkan kuat suara bentakannya.

“Keluar lo!”

“Mas, gue bisa jelask…”

“KELUAR!”

“Ar..”

“KELUAR, BANGSAT!” Ardi melempar vas bunga keramik dan menghantam tepat ketangan Reza.

Reza menatap dalam Indi yang menangis senggugukan disebelah Ardi. Sungguh dia tidak rela meninggalkan Indi yang begitu terlihat rapuh, namun berada disini pun tidak bisa membantu apa-apa. Reza menunduk, mengucap,

“Maaf…” dan berjalan keluar.

Ardi yang masih dilanda emosi menyugar rambutnya keatas dan menolak untuk melihat Indi yang masih menangis. “Siapin baju-bajumu, ikut abang pulang.”

“Bang…”

“Sekarang, Indi.”

Suara tajam Ardi membuat Indi takut, perlahan gadis itu menyeret kakinya dan pergi kekamarnya.

“Sial!” Ardi memaki dirinya sendiri karena sudah membuat adiknya ketakutan dan menangis. Karena terlampau emosi dia tidak bisa menahan tajam lidahnya. Tapi Ardi melakukan ini demi kebaikan Indi. Dia harus tega. Yah, demi kebaikan Indi.

Didalam kamar Indi berkali-kali mengusap airmatanya yang terus mengalir. Pandangannya menjadi buram dan sudut matanya sudah terasa perih, mungkin sekarang sudah memerah. Dengan asal dia memasukkan baju-bajunya. Entah baju yang mana yang dia bawa. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Reza, hatinya masih terasa sakit karena abangnya. Ardi yang selalu memanjakan Indi selama ini kini membentaknya dengan kasar.

“Abang jahat!”

“Abang jahat!”

Ardi mendengar rajukan Indi dari balik pintu kamar Indi yang setengah terbuka. Hatinya juga sakit melihat Indi yang marah kepadanya. Perlahan pria itu masuk dan membuat adiknya berhenti bicara.

“Di.”

“…”

“Abang minta maaf, ya!”

“…”

“Abang begini demi kebaikanmu.”

Tidak terima Indi menatap tajam abangnya dengan mata yang masih buram karena airmata.

“Kebaikan aku yang mana, Bang? Aku hanya jatuh cinta? Apa itu salah?” Indi marah dan ingin melawan abangnya tapi yang keluar hanya suara yang bergetar dan isakan yang semakin menyayat hati Ardi.

“Orangnya yang salah! Abang sudah dari kuliah kenal dengan Reza, Di! Dan abang tau sepak terjangnya selama ini, dia itu penjahat kelamin, Di! Tukang jajan! Gonta-ganti perempuan!”

Ardi menarik nafasnya sebelum melanjutkan, “Dan kenapa pula kamu bisa jatuh cinta dengan orang seperti itu, Di!”

Ardi mendekat dan bersimpuh didekat kaki Indi yang masih terisak.

“Abang sayaaaang banget sama kamu, Di. Adek kecil abang…” Ardi tersenyum lirih sambil mengusap airmata Indi yang masih setia mengalir.

“Kamu tanggung jawab abang setelah orangtua kita ga ada. Selama ini abang percaya sama kamu, memberimu kebebasan memilih jalan hidup karena abang ga mau kamu merasa abang batasi.”

Indi melihat mata Ardi yang memerah dan membuatnya kembali terisak, kok abangnya ikutan nangis, sih? Kan dia jadi sedih lagi.

“Tapi aku cinta sama Reza, bang. Dia juga sahabat abang kan? Dia udah berubah kok bang!”

Ardi tersenyum mendengar rajukan dan getaran disuara Indi, “Dia memang sahabat abang,Di. Karena itu abang tau Reza luar dalam. Ga secepat itu orang akan merubah kebiasaannya. Kalau bosan dia akan selingkuh didepanmu. Apa kamu yakin kalau dia, cuma penasaran sama kamu?”

Indi terdiam. Hatinya galau. Memang benar ini terlalu cepat bagi Reza untuk berubah. Beberapa bulan yang lalu dia masih bercinta dengan karyawati dikantor, kan.

“Kalau memang dia serius, dia akan datang ke abang, dan abang akan menilai apa dia serius atau tidak denganmu, ya? Sekarang mandi biar abang yang beresin bajumu, ok?” Ardi membelai rambut Indi sayang.

Indi menghapus airmatanya dan mengangguk patuh.

Dalam hati Ardi berucap syukur. Untuk saat ini dia tidak akan berdebat dengan Indi. Dia tahu adiknya pintar dan pasti mempertimbangkan ucapannya. Pelan-pelan dia akan menjauhkan Indi dan Reza.

33

“Ibu apa-apaan sih! Ngapain sampai punya niat jodohin aku sama Indi!” Arya benar-benar kesal dengan keputusan ibunya hari ini, namun dia tetap menahan suaranya dan tidak ingin menyakiti hati ibunya.

“Lho bukannya bagus, Indi anak yang baik kan? Kamu ga akan nyesal nikah sama dia, Ar. Ibu jamin itu.”

Arya menyugar rambutnya, masih kuat ingatannya wajah Mia tadi siang. “Tapi ga gini bu caranya…” mata Arya mulai berair.

Reza yang tadi masih ditenangkan ayahnya menerobos masuk ke kamar Arya, yang masih berusaha membujuk ibunya.

“Bu, aku mohon hentikan perjodohan Arya.”

“Kalian ga ngerti niat baik Ibu, dan kamu Reza tidak perlu ikut membela adikmu, dia…”

“Aku mencintai Indi, Bu!”

Mata Bu Ratna membola. Reza mencintai Indi, benarkah?

“Za, kamu…”

“Kan udah kubilang ini bukan ide yang tepat, Bu…” Arya masih memelas disebelah Ibunya.

Bu Ratna terdiam. Tidak menyangka jika putra tertuanya mencintai gadis yang mau dijodohkan untuk adiknya. Dia menatap mata Reza dalam. Mendapati jika mata putranya sudah memerah dan berkaca-kaca. Dia yakin, sangat yakin jika Reza kali ini serius akan perasaannya.

“Lalu…Nala? Kamu tidak mencintainya?”

Reza menggeleng pelan dan menunduk, “Aku hanya menyayanginya…layaknya adik.”

Bu Ratna perlahan terduduk di atas kasur Arya. Matanya memandang Reza tak percaya, “Kenapa kamu…tidak menolak waktu Ibu jodohkan dulu? Kamu membuat Ibu merasa seperti Ibu yang jahat, Za!” Bu Ratna menggelengkan kepalanya pelan. “Kamu membuat Ibu merasa…” Bu Ratna perlahan berdiri dan berjalan pelan keluar kamar Arya.

“Bu…”

“Nanti, Za…nanti. Ibu mau sendiri dulu..”

 

Didalam kamar Bu Ratna hanya duduk terdiam di depan meja riasnya. Bahkan saat pintu kamar terbuka dan Pak Mahendra masuk pun, wanita itu tidak melepaskan pandangan dari kotak cincin yang sedari tadi dia pegang.

Pak Mahendra tidak tega melihat wajah istrinya yang terlihat mendung dan suram. Padahal tadi siang mood istrinya ini sangatlah baik. Bersemangat untuk menyampaikan niatnya menjodohkan Indi dengan Arya, apalagi setelah tahu jika Indi adalah adik dari Ardi yang sudah dia anggap anaknya sendiri.

Pak Mahendra mendekati istrinya dan berlutut memegang lutut istrinya dari samping. “Dek, kamu kenapa?” walaupun Pak Mahendra tahu jawabannya tapi dia yakin jika istrinya ingin mencurahkan kegelisahannya.

“Aku salah ya, Mas? Aku bahkan mengabaikan perasaan anakku sendiri…aku merasa jadi Ibu yang jahat, Mas, sama anak sendiri.” setitik air mata jatuh dipipi wanita paruh baya itu.

“Kamu hanya tidak tau, Dek, bukan jahat. Salahkan anak-anakmu sendiri yang sok-sokan pake rahasia segala. Kalau dari awal Reza menolak dan mengatakan siapa yang dia cintai kan masalah ga akan panjang seperti ini!” perkataan Pak Mahendra membuat Bu Ratna sedikit tersenyum walaupun air mata masih mengalir.

Bu Ratna memegang tangan suaminya yang ada dilututnya, mengusapnya pelan, “Aku merasa hanya Nala yang mengerti sifat anakmu yang playboy akut itu, sama kayak bapaknya…”

Pak Mahendra terkekeh pelan mengingat masa liarnya dulu yang sialnya masih diingat jelas oleh Ratna. Memang wanita itu jagonya dalam hal sejarah. “Itukan dulu!”

“Sebenarnya aku tau anak-anak itu cintanya sama siapa…”

“Dan Mas ga pernah cerita apa-apa ke aku?!” Potong Bu Ratna.

“Bukan gitu, bukan ga mau cerita tapi kamu tuh orangnya heboh bener. Saat ini Reza dan Indi baru memulai hubungan mereka dan sepertinya anak nakalnya itu udah tobat permanen karena Indi.”

“Serius, Mas?”

“Iya, serius. Sebenarnya yang lebih drama sih Arya…kamu tanya sendiri ajalah sama anaknya.” Pak Mahendra menghindar cari aman.

“Lalu Nala gimana ya, Mas? Aku jadi ga enak sama orang tuanya.” Bu Ratna seakan baru mengingat gadis kiyowo pembawa masalah itu.

“Mereka sih tergantung anak, Dek. Kalau Nala bilang ga jadi yah…mereka ikut aja. Pencinta alam seperti mereka yang bolak balik turun naik gunung mana mau punya pikiran ribet.”

Bu Ratna langsung mengingat pasutri ajaib itu dan mengangguk paham. “Nanti aku coba hubungi Nala dan orang tuanya deh, biar semuanya selesai. Kasihan juga anakmu itu jadi lajang tua…calon anaknya udah dibuang kemana-mana!”

Pak Mahendra langsung menutup mulut istrinya yang tiba-tiba ngomong sembarangan, “Dek! Sejak kapan kamu ngomong sembarangan kayak gitu, ga cocok!”

Bu Ratna melepas bekapan Pak Mahendra, “Dari kamu lah, ahlinya!”

Dan Pak Mahendra hanya menutup wajahnya, tidak rela jika pikiran istri polosnya ini sudah ternodai.

32

“Ikaaaaaaa!!!!”

“Buset, tarzan jablay, ga usah teriak-teriak!

Indi memijit keningnya, panik. Iya dia sangat panik saat Nala mengatakan jika teh sialan ini  bisa membuat pria impoten. Bagaimana nasib abang gantengnya ini.

“Ika, lo masih kasih teh cina ga jelas itu ke bang Ardi?”

“Udah lama enggak sih, males gue belinya, jauh! Emang kenapa?”

Dalam hati Indi bersyukur. “Bang Ardi titidnya masih bisa berdiri kan?”

Ika terdiam diseberang sana, shock. Apalah sahabat sekaligus adik iparnya ini pagi-pagi sudah bertanya kabar titid suaminya.

“Eh, manekin IPA, ngapain lo nanya-nanya titid laki gue?”

Indi menghela nafasnya kasar, tidak sabar dia bertanya lagi, “Masih bisa berdiri ga???!”

“Ya masih lah, masih tegak berdiri setegak tugu kujang! Lagian lo ngapain tiba-tiba nanya?

Dan dengan menggebu-gebu Indi menceritakan semua informasi yang dia dapatkan dari Nala lengkap selengkap-lengkapnya dan membuat kakak iparnya menjerit histeris diseberang sana. Bisa dipastikan setelah ini dia akan buang sial mandi air dari 7 sumur.

Setelah misi menyelamatkan masa depan pernikahan abangnya, Indi yang sudah rapi bersiap-siap berangkat ke kantor. Dengan menjemput semangat pagi Indi meraih tasnya dan membuka pintu.

Mata berbalas mata.

Maman menagih jatah sarapannya yang membuat Indi kembali masuk kedalam, menyediakan makanan majikannya.

 

Indi baru saja akan duduk saat Eka mengatakan Indi diminta hadir diruangan Pak Mahendra.

Indi berjalan keruangan Pak Mahendra dengan senyum yang mengembang kemana-mana membuat semua karyawan yang dia lewati terpana. Hati Indi sedang senang karena merasa menjadi pahlawan atas keselamatan titid abangnya.

Indi mengetuk pintu pelan dan masuk setelah mendengar suara Pak Mahendra.

“Permisi, Pak…eh ada Ibu, apa kabar, Bu Ratna.” Sapa Indi sopan.

Kesopanan Indi membuat hati Bu Ratna berbunga. Betapa senangnya jika Indi menjadi menantu. Mereka bisa ngobrol bersama, ke salon, me time cewek-cewek. Dan khayalan Bu Ratna sudah kemana-mana sampai tanpa sadar wanita paruh baya itu menatap Indi sambil senyum-senyum sendiri, membuat Indi salah tingkah.

“Indi sini duduk disebelah Ibu.”

“Baik, Bu.” Segan-segan Indi duduk di sebelah Bu Ratna.

“Sebentar lagi Reza dan Arya akan nyusul kesini, sekalian kenalan sama teman mereka, kebetulan dia lagi main ke kantor.”

“Padahal dulu mereka masih sering keluyuran ga jelas ya,dek! sekarang udah pada jadi bos semua.” lanjut Pak Mahendra, mengenang masa kuliah anak-anaknya.

Indi senyum-senyum membayangkan panggilan mesra Pak Mahendra akan sama dengan panggilan Reza padanya nanti setelah mereka menikah. Melihat Indi tersenyum, Bu Ratna malah salah paham, “Anaknya memang ganteng, Di. Tapi jangan suka ya, udah jadi suami orang. Kamu sama yang lain aja ya, nanti biar Ibu yang jodohin!”

“Oh, enggak kok Bu!” Indi gelagapan saat kedapatan sedang menghayal yang iya-iya.

Indi mendengar suara langkah kaki beberapa orang disetai dengan tawa yang begitu lepas. Seakan hanya ada mereka saja dikantor ini. Seperti anak remaja yang sedang nongkrong di café, tertawa tanpa memikirkan orang lain.

“Itu mereka sudah datang.” Kata Bu Ratna.

Tidak lama suara ketukan pintu terdengar dan tanpa dipersilahkan pintu langsung terbuka dan terlihatlah sosok pria-pria tampan yang terlihat semakin tampan saat tertawa lepas.

Kekasihnya, Reza benar sangat tampan kalau tertawa. Abaikan Arya.

Abangnya juga tak kalah tampan saat tertawa.

Hah! Abang?

“Abang??!!”

“Indi?!”

Reza menatap keduanya dengan mulut menganga lebar. “Kalian saling…kenal?”

Ardi tertawa dan menghampiri Indi, merangkul pundak Indi dengan sayang. “Tentu saja aku kenal. Dari lahir malah. Dia adik tersayang yang suka aku ceritakan padamu, Za!”

Indi melihat Ardi dan Reza bergantian, ternyata mereka berteman. Kini Indi yakin dunia benar-benar hanya selebar daun kangkung.

Sedangkan Reza sendiri malah membeku ditempatnya. Wajahnya sudah pias. Dia masih ingat dengan jelas jika Ardi sangat protektif pada adiknya. Lalu bagaimana ini? Apa Ardi akan merestui hubungannya dengan Indi?

“Astaga, ini benar-benar kabar baik. Jujur tante kaget ternyata kalian bersaudara. Pastas saja yang satu ganteng dan satunya cantik.” Mata Bu Ratna berbinar. Niatnya menjadikan Indi menantu semakin kuat.

“Ya ampun, saya lupa memberi salam.” Ardi melepas rangkulannya dan berjalan mendekati kedua orang tua Reza. Dengan sopan dia mencium tangan suami istri yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Pak Mahendra memeluk Ardi ramah sedang Bu Ratna mencium pipi Ardi seperti dia memperlakukan kedua putranya.

“Kamu apa kabar, Di? Lama ga main kerumah lagi.” Ucap Pak Mahendra.

Benar-benar kakak adik yang kompak, nama panggilannya pun sama.

“Sehat Om. Iya maaf, kerjaan lagi sibuk-sibuknya.”

“Ya udah yuk duduk.” Pak Mahendra menekan tombol interkom untuk meminta sekretarisnya membawakan minuman.

Ardi mengambil tempat duduk disebelah Indi. Sedangkan Reza dan Arya duduk diseberang mereka bersama Pak Mahendra.

“Padahal tadi niat tante mau ngenalin kalian berdua, lho!” Bu Ratna masih merasa situasi ini cukup lucu. Yang mau dikenalkan malah sudah kenal dari lahir.

“Indi ga nakal kan Om di Kantor?” Ardi terkekeh saat Indi menyikut pinggangnya.

“Dia salah satu pegawai terbaik, Om kok, Di. Saat ini dia dibawah tanggung jawab Reza, ya kan, Nak?”

“Eh, apa, Yah?” Reza tersentak.

“Lagi ngelamun jorok, ya?” Arya tertawa mendengar candaan Ardi.

“Sembarangan, siapa yang ngelamun!” suara Reza agak keras dan membuat semua orang yang ada disana kaget. Tidak biasanya Reza marah jika digoda seperti itu. Indi juga kaget dengan reaksi Reza.

Reza sadar dia sudah berlebihan dan akhirnya pura-pura memainkan ponselnya. Karena gugup dia jadi sedikit sensitif.

Untuknya suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka dari Reza yang tiba-tiba marah.

“Permisi, saya mau mengantarkan the buat tamu.”

Suara lembut itu langsung membuat Arya bersemangat dan menatap kearah pintu. Sudut bibirnya membentuk senyuman. Mia berjalan sopan mendekati meja, berlutut dan meletakkan cangkir satu-persatu dengan hati-hati.

“Kebetulan yang sangat membahagiakan terjadi hari ini, jujur tante senang sekali…”

Bu Ratna terdiam sebentar menambah sisi dramati sebelum melanjutkan, “Sebenarnya tante sangat menyukai Indi. Anaknya cantik, lembut, baik dan pintar.”

“Ah tante Ratna bisa aja, Indi galak lho, Tan!” dan Ardi mendapat hadiah pelototan dari adiknya, yang malah terlihat imut dimata Ardi.

“Hahaha, baguslah kalau galak. Jadi bisa gantiin tante marahin anak tante kalau nakal.”

Kening Reza berkerut.

Pak Mahendra memejamkan mata.

Ardi curiga.

Dan Indi, lemot. Gadis itu malah minum teh yang baru diletakkan didepannya.

Ardi hanya diam menunggu kelanjutan dari maksud perkataan Bu Ratna.

“Jadi Ardi, ini juga kalau kamu setuju…Tante punya niat untuk menjodohkan Indi dengan anak tante.”

Reza mendongak, tanpa sadar senyuman terbit disudut bibirnya.

“Dengan Arya.”

Dan satu kalimat berikutnya menghancurkan perasaan Reza. Dia menatap ibunya tidak percaya. Ingin sekali dia membantah dan menolak keputusan ibunya, berkata dengan lantang jika dia dan Indi sudah berpacaran. Dia dan Indi saling mencintai. Namun keberadaan Ardi menahan suaranya keluar.

Indi hanya diam, masih belum mampu menyerap semua informasi yang barusan dia terima. Sedang Arya tidak sanggup memandang kearah Mia yang hempir menumpahkan tehnya. Untung saja pengendalian diri gadis itu cukup kuat. Dengan terburu-buru Mia pamit keluar.

Niat baik Bu Ratna hari ini tanpa dia sadari meretakkan empat hati sekaligus. Dan butuh satu jawaban dari seseorang untuk menentukan apakah kehancuran atau kebahagiaan yang akan hadir. Satu jawaban…dari Ardi.

31

Indi tidak memberitahu apa pun kepada Reza tentang kedatangan Nala dirumahnya. Ini adalah permintaan gadis manis itu sebelum kembali ke China. Sepulang dari dinas luar kota selama dua hari yang awalnya ditolak Reza karena tidak mau berjauhan, Indi menyetujui permintaan Nala yang ingin pamit.

Nala memandang wajah Indi lama, membuat gadis itu gelisah. Seakan Nala ingin merekam sosok Indi secara keseluruhan untuk dia jadikan memori yang indah. Baru kali ini dia merasakan perasaan yang begitu dalam kepada seseorang. Belum dimulai tapi sudah patah hati. Kalau bukan karena Reza adalah sahabat masa kecil dan orang pertama yang tahu orientasi seksualnya dan tidak menjauhinya, Nala sudah merebut Indi darinya. Dia akan melakukan apapun untuk membuat Indi mencintainya. Apapun.

“Makasih ya, kak. Udah mau ngabulin permintaanku. Kakak orang kedua yang tidak menjauhiku setelah si merak itu.” Nala terkekeh.

Indi mengangguk dan tersenyum, “Ga ada alasanku membencimu Nala. Iya kalau pribadi dari aku sudah jelas itu salah tapi kan setiap orang punya pilihan hidup. Dan aku yakin Tuhan sudah menentukan jodohmu Nala, jujur aku tetap berharap itu…pria..” Indi tidak mau menutupi penilaiannya karena seorang teman harus jujur dan bukan berbohong demi memuaskan hati orang lain.

Nala menganggung pelan dan tersenyum puas, “Aku juga berharap Tuhan memberikan yang terbaik untukku, Kak. Jadi kita tetap berteman kan?”

“Tentu saja, kau bisa datang kapan pun kalau lagi di Jakarta.”

“Boleh kupeluk?”

Indi menepis rasa ragu yang sempat mampir. “Boleh.”

Nala memeluk erat sampai Indi terangkat. Keduanya tertawa kencang.

“Aku jadi haus.” Suara Nala agak serak karena tertawa kencang.

“Teh mau?”

“Mau!” Nala mengekori Indi ke dapur.

Selagi Indi mempersiapkan cangkir dan teh, Nala membuka kulkas dan mengambil sebuah apel yang langsung dia gigit tanpa dicuci dulu. Mata Nala menangkap sesuatu yang tidak asing dijejeran kotak teh dan kopi yang tersusun rapi dilemari.

“Kak, ini apa? buat apa?”

Indi melihat kotak kecil yang dipegang Nala. Sendok yang ada ditangannya jatuh. Kepalanya bagai dikerubuti semut imajiner. Mungkin tadi jantungnya juga sempat berhenti sedetik. Namun ketenangan tetap dia usahakan. Indi berusaha menenangkan jantungnya yang sedang memainkan nada drum lagu metal.

“Itu teh, memang kenapa?”

“Aku tau ini teh, tapi maksudku kakak pakai buat apa? Kakak tau teh ini buat apa?

Indi pura-pura biasa saja dan menggeleng, “Ya buat diminumlah masa buat luluran.”

Mata Indi melotot dan mulutnya mangap-mangap seperti ikan mau mati saat melihat Nala dengan cepat membuang teh bersama kotaknya ke tempat sampah.

“Kakak beli dimana teh berbahaya ini?”

“Online, katanya enak jadi aku beli.” Indi mencoba keberuntungannya dalam berbohong.

“Yang minum baru kakak aja kan? Kak Reza ga minum ini kan? Ini tuh udah jadi produk teh ilegal di China kak, karena ada yang jadi impoten permanen setelah istrinya memberikan teh ini setiap hari.” Nala terus berorasi dengan semangat menceritakan tentang teh yang ternyata sudah dia berikan beberapa kali kepada Reza.

Ya ampun!

Bunuh saja aku!

Bunuh saja Ika!

Reza, please jangan impoten…hiks…hiks!

 

 

“Hachuu!!”

Reza menggosok hidungnya yang tiba-tiba gatal.

Saat ini dia dan Arya sedang berada dirooftop kantor mereka. Berbicara dari hati ke hati sesama saudara. Memang Reza dan Arya selalu berusaha menyediakan waktu untuk deep talk. Kadang hanya sekedar ngobrol ringan, membahas pekerjaan atau yang berat seperti tentang cinta.

“Nih lihat.” Reza menyerahkan ponselnya ke Arya dan menunggu reaksi pemuda itu.

“Sialan! Hapus ga! Aku hapus aja sendiri!”

Reza tertawa melihat adiknya yang kalang kabut menghapus semua gambar yang dia ambil dulu. Kemudian sibuk mencari lagi kalau-kalau kakak jahilnya ini masih menyimpan foto atau bahkan video lainnya.

“Ternyata adek abang ini mesum juga ya?” dan Reza tertawa kencang saat Arya melemparnya dengan gumpalan tisu bekas. “Anak orang jahan dimainin, Ar.”

“Siapa yang main-main, aku serius kok sama Mia. Ayah juga udah tau.”

“Tapi Ibu kan belum.”

“Ya, situ juga sama kan?”

Dan keduanya menghela nafas lelah. Kembali memandang lampu-lampu kota yang berlomba-lomba menerangi malam.

Ponsel diatas meja bergetar. Arya melihat ponselnya dan melihat Ibunya lah yang sedang menelpon.

“Ya, Bu. Aku lagi sama Kak Reza…iya masih di kantor.”

“Hah…Indi?”

Kuping Reza langsung siaga saat mendengar nama kekasihnya disebut.

“Ya, ga tau. Udah pulang kali. Lagian Ibu kenapa nanya ke aku? Tumben?” Arya bingung dengan pertanyaan ibunya.

“Iya, bentar lagi juga pulang…kalo kak Reza kayaknya…” Arya melirik kakaknya meminta jawaban. Dan Reza memberi kode dengan jarinya.

“Kakak katanya balik ke apartemen, ga ikut kerumah.”

Reza samar-samar mendengar ibunya menyebut nama Indi lagi dan setelah mengucap salam Arya pun menutup telponnya.

“Ngapain Ibu nanya-nanya Indi, Ar?”

“Ga tau.”

Arya yang tidak peka dengan kedaan kembali meminum kopinya yang sudah dingin. Entah kenapa kali ini perasaan Reza tidak enak. Seperti akan ada yang mengejutkannya.

Novel Unggulan

01_Janda Labil

Cup… “Aku duluan yah…” “Iyah…hati-hati. Jangan ngebut! Love you! ” Yuri melambaikan tangannya dan mengirim satu ciuman jauh sebagai ...